Jumat, 31 Mei 2013

Pernikahan Kristen yang Sejati


Daftar Isi

1  —  Cinta dan Pernikahan
2  —  Memilih Pasangan
3  —  Kemurnian Pernikahan Kristen
4  —  Peran Suami dan Istri Dalam Pernikahan Kristen
5  —  Rumah Tangga Kristen
6  —  Keluarga Kristen dan Masyarakat Luas



1 - Cinta dan Pernikahan

A. APAKAH KASIH/CINTA ITU?
Ayat Hafalan    : "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing." 1Kor 13:1*.
Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut ini yang paling sesuai dengan pendapat Anda mengenai arti cinta?
1. Rasa tertarik yang kuat akan seseorang.
2. Sikap menyayangi dan penuh kelembutan.
3. Kerinduan untuk bersama dengan seseorang.
4. Sanjungan dan pemujaan terhadap seseorang.
5. Nafsu birahi terhadap seseorang.
6. Usaha untuk meraih sesuatu yang terbaik untuk seseorang.
7. Perasaan senang jika Anda bersama seseorang, atau berpikir tentang orang itu.
Apakah definisi cinta di dalam kamus Anda? Sebagian besar orang tidak memunyai pengertian yang cukup untuk mengerti arti kata "cinta" yang sesungguhnya. Seringkali cinta hanya dianggap sebagai rasa tertarik terhadap lawan jenis. Pendapat-pendapat tentang cinta di atas banyak dipengaruhi oleh film, televisi, iklan, majalah, buku-buku, atau komentar-komentar orang di sekitar kita. Sangat penting untuk kita ketahui bahwa Allah adalah KASIH dan Ia menyampaikan kebenaran-Nya    tentang kasih melalui firman-Nya, yaitu Alkitab. Bacalah 1Yoh 4:7-10,16*.

1. KITA BISA MEMPELAJARI TENTANG KASIH DARI ALKITAB
Mungkin Anda tidak pernah berpikir seperti ini, namun sesungguhnya seluruh Alkitab adalah sebuah kisah tentang kasih. Alkitab adalah kisah tentang kasih Allah yang tidak pernah mengecewakan terhadap umat manusia yang sulit dikasihi. Kasih Allah adalah kasih yang nyata. Melalui seluruh halaman di Alkitab, kita mendapati bagaimana Allah dekat, menjaga, merawat dan mengerjakan yang terbaik bagi mereka yang dikasihi-Nya. Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu." (Yer 31:3*). Dalam Perjanjian Baru, kita melihat gambaran kasih Allah yang luar biasa terhadap msnusia. Ini adalah kasih yang tak terbatas. Kita melihat Allah di dalam Yesus Kristus, Anak-Nya yang rela menjalani kematian untuk melakukan yang terbaik bagi mereka yang dikasihi-Nya.
Jika kita mau menyimpulkan semuanya, kita bisa mempelajari tentang kasih dengan melihat hubungan Allah dengan manusia, bahwa kasih berarti selalu memberikan yang terbaik kepada orang yang kita kasihi. Bacalah Yoh 3:16* dan Rom 5:8*.

2. GAMBARAN TENTANG KASIH
Kasih di dalam Alkitab bukanlah untuk mendapatkan sebanyak mungkin dari orang lain, melainkan memberikan semua yang Anda bisa berikan kepada orang lain. Kasih ini juga bukan untuk mendapatkan pamrih dari pasangan Anda. Pernyataan yang paling lengkap tentang kasih dalam Alkitab terdapat di 1Kor 13:4-8*. Bacalah ayat-ayat tersebut, renungkanlah tiap tindakan kasih tersebut, dan mulailah berpikir tentang penerapannya dalam pernikahan.
1. Kasih itu sabar. Kasih itu tidak mudah marah, tidak mudah menyerang, tidak mudah sakit hati. Kasih itu memampukan kita untuk bersabar terhadap yang kita kasihi jika kita merasa disalahi, dikritik, atau
diabaikan. Kasih akan menunggu untuk melihat efek  yang baik dari kesabaran tersebut.
2. Kasih itu murah hati. Kemurahan menunjukkan suatu penghargaan.  Kemurahan berarti ingin menolong, suatu suara yang merdu, suatu  keinginan hati yang ingin selalu memberi.
3. Kasih itu tidak cemburu. Kasih bukanlah suatu persaingan dengan orang yang kita kasihi, juga tidak berarti kita iri kalau dia  mendapatkan lebih. Kasih bukanlah iri dengan talenta yang dimiliki  orang yang kita kasihi, kecakapan memimpinnya, kemampuannya untuk  bergaul dengan orang lain atau kemampuannya dalam mengerti firman  Tuhan.
4. Kasih itu tidak memegahkan diri. Kasih tidak berusaha untuk menonjolkan dan menyombongkan diri sendiri. Tidak juga menganggap diri lebih tinggi dari pasangan kita. Kasih tidak menyombongkan kekuatan sendiri dan juga tidak membesar-besarkan kelemahan-kelemahan dari orang yang kita kasihi.
5. Kasih itu tidak sombong. Kasih tidak memunyai sifat menonjolkan  diri dalam hati. Kasih tidak berarti mencari perhatian dari kerja  keras yang sudah dilakukannya. Kasih itu tidak bersifat menekan, atau sok memerintah.
6. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan. Kasih tidak berbuat yang tidak sesuai etika, melainkan berbuat dengan kelembutan dan keramahan. Kasih itu menunjukkan rasa pengertian. Kasih itu tidak kasar atau menghina orang lain.
7. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih itu tidak  mengharapkan segala sesuatu dilaksanakan untuk menyenangannya.  Kasih tidak mementingkan segala selalu yang menjadi haknya. Kasih  selalu mencari apa yang disenangi orang yang kita kasihi.
8. Kasih itu tidak pemarah. Kasih itu tidak mudah tersinggung atau mudah mencari kesalahan. Kasih itu tidak mudah menjadi jengkel jika ada sesuatu yang salah. Kasih itu tidak mudah dikecewakan oleh perbuatan dari orang yang kita kasihi.
9. Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih itu tidak mudah berubah menjadi kepahitan. Tidak mudah mendendam. Kasih tidak  menyimpan perasaan yang tidak enak karena perbuatan dari orang yang  kita kasihi.
10. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena  kebenaran. Kasih tidak merasa senang dengan kamalangan yang  menimpa orang yang kita kasihi. Kasih berarti tidak bersukacita  jika bisa mengatakan, "Lihat, kamu juga tidak sempurna." Kasih  memunyai sukacita batin di dalam kebenaran.
11. Kasih menutupi segala sesuatu. Kasih menutupi kesalahan dari  orang yang kita kasihi. Kasih tidak mencemooh seseorang yang  kita kasihi dengan mengatakan kelemahan atau kegagalannya di muka  umum.
12. Kasih percaya segala sesuatu. Kasih mengatasi segala kecurigaan,  kebimbangan atau ketidakpercayaan. Kasih memilih untuk percaya    pada sesuatu yang terbaik dari orang yang kita kasihi dan menerima    bahwa maksud dan motivasinya adalah murni.
13. Kasih mengharapkan segala sesuatu. Kasih tidak membesar-besarkan  masalah. Kasih tidak pernah menyerah, tidak pernah putus asa.  Kasih selalu mengharapkan yang terbaik dari yang dikasihi.
14. Kasih sabar menanggung segala sesuatu. Kasih berarti suatu  komitmen. Kasih tetap tegar dalam menghadapi masalah. Kasih mampu    bertahan dalam badai penderitaan dan kesukaran. Kasih tetap    menjaga hati yang sukacita di dalam pencobaan dan masalah.
15. Kasih tidak pernah berkesudahan. Kasih tidak pernah jatuh, tidak  pernah berhenti, tidak pernah memilih perceraian sebagai  penyelesaian masalah. Kasih selalu menjaga pernikahan supaya  pernikahan tetap erat.

3. KASIH MERUPAKAN SUATU PROSES
Meskipun kadang-kadang orang berkata, "Kami sedang jatuh cinta," tetapi mereka sesungguhnya sudah bertumbuh di dalamnya. Kasih yang dewasa bertumbuh dari bagaimana cara mendapatkannya sampai usaha untuk menjaganya dengan sukacita. Satu-satunya cara agar kita bisa mengalami kasih yang dalam, setia dan bertumbuh dalam pernikahan adalah dengan mengalami kasih Allah dalam hidup kita sendiri. Kasih Allah bagi kita turun menjadi kasih di hati kita masing-masing. Renungkan hal ini, ALLAH MENGASIHI ANDA!
Renungkanlah kasih-Nya, nikmati kasih-Nya, minumlah sepuas-puasnya dari kasih-Nya, bersyukurlah kepada-Nya karena kasih-Nya. Maka segera sesudah Anda melakukannya, Anda akan menyerahkan seluruh hidup Anda kepada-Nya, membiarkan Dia memenuhi dan mengendalikan hidup Anda melalui Roh Kudus-Nya, membiarkan Dia hidup dalam hidup Anda. Kasih yang sejati akan mengalir melalui hidup Anda dan pasangan Anda. Hasilnya adalah pribadi Anda yang baru, yang mengerti bagaimana mengasihi dengan kepekaan yang paling tinggi dan mulia sesuai dengan firman Tuhan. Kasih menghasilkan kasih. Allah ingin memakai kasih semacam ini untuk mengubah pernikahan menjadi suatu hubungan yang indah sesuai dengan rencana-Nya.
B. PERNIKAHAN KRISTEN
Ayat Hafalan    : "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu  daging." (Kej 2:24*)
Pernikahan adalah hubungan seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita. Pernikahan ini memuaskan beberapa kebutuhan. Menurut Anda manakah kebutuhan yang benar dalam pernikahan?
(1) kebutuhan akan mengasihi dan dikasihi,
(2) kebutuhan akan persahabatan yang dalam, untuk saling berbagi sebagai teman, dan untuk kebutuhan seks,
(3) kebutuhan untuk menghasilkan anak cucu,
(4) kebutuhan untuk lepas dari kesendirian. Pernikahan seharusnya menjadi cerminan dari kasih yang juga mencerminkan kasih Allah.

1. CITRA ALLAH
Untuk mengerti rencana Allah dalam pernikahan, kita harus memulai dengan maksud Allah yang sesungguhnya terhadap umat manusia seperti yang terdapat dalam Kej 1* dan Kej 2*.
Allah menciptakan kita sesuai dengan citra-Nya, berupa pria dan wanita. Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kej 1:26-27*).
Manusia adalah mahluk pribadi yang tidak seperti ciptaan yang lain. Kita memunyai kemampuan yang unik untuk berhubungan  —  hubungan dengan Allah dan hubungan antara satu dengan yang lain. Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam manusia dan kita menjadi makhluk hidup. "Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kej 2:7*). Sebagai manusia kita memunyai kemampuan untuk mencerminkan citra Allah yang memiliki sifat-sifat: berbelas kasihan, baik, sabar, mengasihi, berintelektual, kreatif dan mengampuni.
Hubungan pernikahan adalah jenis hubungan yang paling intim diantara semua jenis hubungan antar manusia. Pernikahan mencakup suatu penyatuan yang misterius dari dua pribadi yang terpisah dengan suatu cara yang khusus sehingga mereka menjadi satu. Seorang suami dan istri berhubungan satu dengan yang lain melalui pengalaman-pengalaman yang lebih luas dan bermacam-macam jika dibandingkan dengan orang lain. Hubungan ini menjadi istimewa karena terjadi dalam suatu batasan yang terbentuk dari suatu ikatan janji seumur hidup antara satu dengan yang lain. Pernikahan meliputi jangka waktu dari awal tahun kedewasaan, usia menengah, usia tua dan kematian. Tidak ada hubungan lain yang berkembang seperti ini yaitu hubungan yang penuh dengan kenangan. Hubungan dengan teman dan rekan sekerja penting, namun tidak ada hubungan yang melebihi hubungan pernikahan dalam hal keintiman.

2. DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN YANG BAIK
Apakah pemikiran Allah untuk dunia yang Dia ciptakan? "Allah melihat bahwa semuanya [yang telah diciptakan] itu baik." (Kej 1:10*). Juga bacalah Kej 1:12,18,21,25* dan Kej 1:31*, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah baik! Namun kemudian kita membaca, "Tuhan Allah berfirman, tidak baik  … " Apa yang tidak baik? "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja" Kej 2:18*. Bahkan dengan seluruh dunia binatang di sekitarnya, manusia masih tetap sendiri.
Kesendirian adalah keadaan dimana seseorang tidak mendapat kesempatan untuk berbagi, mengerti, mencintai, mempercayai dengan seseorang kepada siapa dia bisa menikmatinya. Seperti itulah keadaan manusia ketika Allah menciptakannya pertama kali. Meskipun Adam terutama memerlukan Allah, namun Allah mengatakan bahwa dia juga memerlukan seorang teman lain. Bacalah Kej 2:18-24* untuk mempelajari jawaban Tuhan atas kesendirian manusia.
Kata "penolong" berarti seorang pendukung, rekan sekerja, atau pasangan. Kata ini tidak sama dengan pembantu atau seorang yang lebih rendah, tapi berbicara tentang hubungan antar teman yang setara. Kata "sepadan dengan dia" berarti "sama dengan dia." Ini adalah semacam hubungan dengan teman yang intim yang dikatakan Allah tidak baik bagi seseorang jika tidak memilikinya. Dalam pernikahan, si pria bisa mempunyai hubungan yang intim dengan pasangannya yang penuh citra dari Allah Sang Pencipta seperti dia sendiri. Si pasangan ini akan mempunyai daya kreasi, kepribadian dan pemikiran-pemikiran yang setara dengan si pria tersebut.

3. MEREKA AKAN MENJADI SATU
"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." (Kej 2:24-25*). Ayat-ayat ini menekankan adanya ciri-ciri yang lengkap dari dua pribadi dalam suatu pernikahan. Meninggalkan dan keterpisahan dengan ikatan yang lama adalah penting dalam pernikahan. Dalam istilah meninggalkan, ada aspek sosial dan hukum dari suatu pernikahan. Tapi, yang lebih penting, ada tindakan meninggalkan secara emosi dan secara mental. Ikatan yang lama dengan orang tua, saudara, dan teman tidak diabaikan, namun setelah pernikahan, janji dan posisi kejiwaan dari seseorang berubah dan ditujukan kepada ikatannya yang baru.
Terjemahan yang tepat dari bahasa Ibrani untuk "memisahkan" (dalam bahasa Inggris = cleave) adalah menempel pada yang lain, atau terikat pada seorang yang lain. Pernikahan tidak boleh diartikan hanya sekedar selembar kertas yang ditandatangani oleh pendeta atau petugas yang berwenang. Ini lebih dari sekedar dua orang yang hidup di bawah satu atap atau tidur di atas tempat tidur yang sama. Pernikahan harus berarti suatu perpaduan dari dua kepribadian yang menjadi satu. Dan juga harus terikat dalam sebuah janji antara satu dengan yang lain, suatu pengungkapan perasaan yang saling menguntungkan dari dua emosi yang sudah ditetapkan oleh Allah. Tujuannya adalah kesatuan, keintiman, dan adanya saling berbagi isi hati, perasaan, dan rahasia pribadi antara satu dengan yang lain tanpa adanya halangan.
Persatuan dari dua jenis kelamin yang berbeda dan menjadi satu daging semakin memperkuat cinta kasih dan membuatnya bertumbuh. Persatuan itu juga mendorong cinta menjadi suatu kesetiaan dan membuatnya bertahan lama. Tindakan dari mengasihi adalah bukan hanya menerima, tapi juga memberikan rasa aman dalam pernikahan. Hubungan pria dan wanita yang sudah menjadi "satu daging" adalah merupakan suatu kesatuan manusia yang seimbang. Segala bentuk persatuan poligami, pernikahan dengan lebih dari satu pasangan, atau homoseksual tidak bisa menjadi satu daging seperti yang diciptakan Tuhan. "Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki memunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan memunyai suaminya sendiri." (1Kor 7:2*)

4. APA YANG SALAH?
Dengan kembali pada Kej 1* dan Kej 2* dan melihat kembali tujuan Tuhan dalam suatu pernikahan, kita pasti bertanya, "Apa yang salah?" Dalam rancangan-Nya untuk umat manusia, Allah memberikan kebebasan yang luas kepada manusia. Allah tidak ingin manusia menjadi robot yang buta dan tanpa pikiran. Allah menghendaki mereka untuk kreatif dan menggunakan pikiran mereka, membuat keputusan sebagai hak mereka, namun tetap ada didalam batasan umum dari rancangan-Nya. Bacalah Kej 1:28-31.
Kitab Kejadian menjelaskan hal ini dengan menunjukkan bahwa Allah menawarkan semua pohon yang ada di taman, kecuali satu, sebagai pilihan manusia. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej 2:16-17*). Berbagai macam kegiatan terbuka bagi umat manusia selama mereka tetap tinggal dalam maksud Allah yang mencerminkan sifat sejati dari Allah. Maksud-maksud ini adalah untuk kebaikan dan keuntungan umat manusia. Namun mereka memilih jalan mereka sendiri, dengan menolak pimpinan dan persahabatan Allah. Inilah awal dari dosa. Citra Allah dalam hidup mereka menjadi rusak, menimbulkan akibat yang sangat terasa dalam semua hubungan.
Akibat-akibat ini dimulai dalam pernikahan. Setelah jatuh dalam dosa pria dan wanita berhenti bersikap terbuka satu dengan yang lain dan dengan Tuhan. "Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang  … , bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman." (Kej 3:7-8*). Mereka juga mendapati keirihatian di antara anak-anak mereka. "Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kej 4:5*).

5. PENEBUSAN
Dosa manusia memerlukan penebusan untuk memulihkan ciptaan dan hubungan yang sudah rusak. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." (2Kor 5:21*). Bacalah Rom 5:6-15; 1Kor 15:45-50*. Kristus datang untuk memulihkan keberadaan manusia yang telah rusak ketika terpisah dari Allah. Hanya dengan mengijinkan Kristus memulihkan kehidupan kita, maka citra Allah bisa terlihat kembali dalam kehidupan manusia. Pemulihan citra akan menjadi sempurna ketika Kristus datang kembali, namun dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa kita harus memulainya dari sekarang, khususnya untuk suatu hubungan dalam pernikahan. Orang-orang percaya mengharapkan pertolongan Allah yang penuh dengan anugerah untuk memulihkan "kesatuan kasih" dalam kehidupan pernikahan mereka.

DOA
"Bapa, terima kasih untuk kasih yang Kau anugerahkan bagi kami.  Melalui kasih-Mu itu biarlah kami boleh memulai suatu hubungan  yang baru dalam pernikahan kami sehingga kami bisa mencintai  pasangan kami sebagaimana Engkau kehendaki. Amin"

PERTANYAAN A:
1. Allah adalah kasih. Dari mana kita tahu dan belajar tentang kebenaran kasih Allah ini?
2. Apa kesimpulan arti "kasih" yang Anda dapatkan dari Yoh 3:16*, dan Rom 5:8*?
3. Tulislah kembali 1Kor 13:1* dan ubahlah kata "aku" menjadi nama Anda sendiri.
4. Berdasar 1Kor 13*, bagaimana Anda menerapkan pengertian "kasih itu tidak cemburu" dalam hidup pernikahan Anda?
5. Apakah definisi pernikahan secara umum?
6. Mengapa hubungan pernikahan disebut sebagai jenis hubungan yang paling intim diantara semua jenis hubungan antar manusia?
7. Mengapa Allah berkata "tidak baik" ketika melihat keadaan Adam sesudah diciptakan?
8. Apakah artinya ketika Tuhan berkata bahwa Ia akan menyediakan "penolong" bagi Adam? Apakah artinya "penolong"?
9. Mengapa Allah berkata bahwa suami akan "meninggalkan" ayahnya dan ibunya dan "bersatu" dengan isterinya? Apa arti "meninggalkan"?
10. Apakah akibat pertama dari kejatuhan manusia dalam dosa dalam  konteks pernikahan?

PERTANYAAN B:
1. Dalam kasus pasangan yang dijodohkan orang tuanya, apakah mungkin pasangan tersebut nantinya akan dapat saling mencintai dengan tulus?
2. Menurut Anda, apakah benar anggapan yang mengatakan bahwa kadar cinta dapat berkurang seiring bertambahnya usia pernikahan? Mengapa?

Referensi a diambil dari:
Judul Buku    : Pola Hidup Kristen
Judul Artikel : Ciri-ciri Khusus dari Kasih yang Dewasa
Penulis  : Josh McDowell
Penerbit : Gandum Mas, Malang; Yayasan Kalam Hidup, Bandung; YAKIN, Surabaya, 2002
Halaman  : 358  —  360

CIRI-CIRI KHUSUS DARI KASIH YANG DEWASA
Pertanyaan nomor satu yang diajukan orang-orang kepada saya, dari negara atau kebudayaan mana pun mereka, adalah ini: Bagaimana saya bisa mengetahui bahwa saya jatuh cinta?
Kita selalu dalam keadaan jatuh cinta. Kasmaran berarti kasih - tetapi tingkatannya berbeda, intensitasnya berbeda. Cinta monyet juga merupakan kasih yang sungguh-sungguh, tetapi kalau Saudara terus hidup dengan cinta monyet maka kehidupan Saudara akan sangat menyedihkan.
Pertanyaan yang sebenarnya bukan, Apakah aku jatuh cinta? melainkan, Apakah cintaku ini dewasa? Apakah kasihku cukup dewasa untuk dapat menghasilkan suatu hubungan perkawinan yang berlangsung seumur hidup dan memuaskan? Inilah beberapa ciri khusus dari kasih yang dewasa.
1. Kasih yang dewasa ditujukan pada oknum secara utuh, bukan hanya pada satu aspek tertentu. Kasih yang belum dewasa hanya memusatkan perhatian pada sebagian dari oknum itu - daya tarik seks, sifat humor, pengabdian keagamaan.
Banyak orang mendasarkan kasih mereka pada aspek fisik. Hal yang mengherankan adalah, sesuai dengan studi yang dilakukan di Universitas Arizona, satu pasangan yang sudah menikah menghabiskan hanya sepersepuluh dari satu persen waktu mereka untuk secara langsung terlibat dalam hubungan fisik. Dan orang-orang berusaha mendasarkan keseluruhan hubungan pada daya tarik seks. Mereka perlu mengetahui bahwa seks itu bukan lem yang dapat merekatkan dengan kuat.
Orang lain mendapatkan kasih mereka pada aspek sosial. "Kami begitu banyak mengalami kesenangan
bersama," kata mereka, "tentu inilah yang disebut cinta kasih itu." Saudara bisa mengalami saat yang riang gembira dengan seekor kera, tetapi bukan berarti Saudara harus mengawininya.
Kasih yang dewasa bahkan bukan semata-mata didasarkan pada aspek rohani. Seseorang berkata, "Dia mengasihi Yesus, aku mengasihi Yesus, kami senang pergi ke gereja dan berdoa bersama-sama - ini pastilah cinta itu." Lihat, Billy Graham mencintai Yesus, dan saya pun mencintai Yesus - tetapi hal itu tidak berarti kami harus kawin. Jadi, kasih yang dewasa bukan didasarkan pada satu aspek dari individu atau hubungan. Kasih yang dewasa melihat oknum secara utuh.
2. Kasih yang dewasa ditunjukkan oleh sikap saling menghormati dan saling menghargai. Kasih yang dewasa memelihara secara hati-hati integritas orang lain itu. Kasih ini tidak menggunakan kalimat seperti, "Jika engkau mencintaiku, engkau harus  … "
Kasih yang dewasa kalau dieja adalah M-E-M-B-E-R-I. Alkitab mengatakan agar Saudara mengasihi sesama manusia Saudara seperti diri Saudara sendiri (Im 19:18; Luk 10:27*). Alkitab juga mengatakan bahwa "Suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri" (Ef 5:28*). Kebiasaan kita adalah mementingkan kebahagiaan, keamanan dan kemajuan kita sendiri. Jika kebahagiaan, keamanan, dan kemajuan orang lain itu menjadi sama pentingnya bagi Saudara seperti kebahagiaan Saudara sendiri maka kasih Saudara kemungkinan sudah dewasa.
3. Kasih yang dewasa dinyatakan oleh adanya keterikatan dan tanggung-jawab. Masing-masing orang terikat pada hubungan itu dan bertanggung-jawab atas hubungan tersebut. Kasih yang dewasa bukan "selesaikan urusanmu sendiri"; melainkan menyelesaikan urusan kita, bersama. Keterikatan ini perlu muncul sebelum pernikahan terjadi. Jikalau Saudara tidak merasakannya sebelumnya, Saudara tidak akan menemukannya setelah itu.
4. Dalam kasih yang dewasa, ada sukacita dengan kehadiran orang yang kita cintai. Jikalau kalian berdua harus berpisah, maka kalian rindu untuk bersama kembali. Perpisahan membuat hati semakin mencintai, tetapi bila Saudara berada bersama orang itu, sukacita semakin besar lagi.
5. Dalam kasih yang dewasa ada pertumbuhan dan kreativitas yang dinamis. Tidak mungkin tetap saja. Atau kasih itu bertumbuh, atau justru mulai menghilang. Sewaktu kasih Saudara menjadi dewasa, Saudara mencari cara untuk menyatakannya kepada orang yang lain itu. Walaupun Saudara tidak kreatif sebelumnya, Saudara akan menjadi kreatif waktu Saudara menyatakan kasih Saudara itu. Istri saya misalnya, membuat tanda kasih yang luar biasa.
6. Kasih yang dewasa itu realistis. Kasih yang belum dewasa itu buta; menganggap kekasihnya itu sempurna. Tidak ada seorang pun yang sempurna, dan kasih yang dewasa mengetahui hal itu. Bilamana Saudara mengasihi dengan cara yang dewasa, Saudara mengetahui kekurangan orang yang lain itu, dan Saudara menerima dia secara total kendati pun kekurangan itu ada.
7. Kekasih yang dewasa bisa bersifat penuh kepercayaan, terbuka dan terus terang dalam hubungan mereka. Mereka bisa saling memercayakan rahasia mereka yang terdalam. Kasih yang dewasa perlu waktu untuk bertumbuh. Janganlah ada pasangan yang menikah sebelum mereka memberikan cukup waktu bagi kasih mereka untuk menjadi dewasa.

Referensi b diambil dari:
Judul Buku    : Keluarga Bahagia
Judul Artikel : Alasan Pernikahan Kristen
Penulis  : Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1995
Halaman  : 25  —  36

ALASAN PERNIKAHAN KRISTEN
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kej 2:18*
Adam membutuhkan penolong, maka ia dibuat tidur nyenyak, dan Tuhan meng"operasi" dia lagi. Inilah pengaliran darah yang pertama di dalam Alkitab. Pengaliran darah untuk penebusan dosa, adalah setelah Adam dan Hawa berdosa, dan seekor binatang disembelih untuk pakaian mereka. Tetapi pengaliran darah pertama di dalam diri manusia, dilakukan oleh Allah sendiri, ketika Allah memecahkan daging sehingga darah keluar dari Adam. Di sini kita melihat ajaran yang penting sekali, suatu simbol yang ketat, yaitu tanpa pengorbanan tidak ada orang bisa menjadi pemimpin. Kalau Adam tidak mau dilukai, ia tidak mungkin bisa menjadi kepala keluarga. Ia harus ditidurkan dan menerima operasi dari Allah. Di sini kita melihat lambang yang sedemikian hebat. Sewaktu Kristus mengalirkan darah, baru gereja muncul. Gereja adalah mempelai wanita Kristus. Kristus mencintai gereja-Nya karena Ia telah mencurahkan darah untuk gereja-Nya. Ini dilambangkan pada waktu Kristus mati untuk memungkinkan gereja bisa berdiri. Dan ini dilambangkan oleh Adam yang harus tidur, dilukai dan berdarah, tulang rusuk diambil, untuk menciptakan Hawa menjadi penolong baginya.

PEREMPUAN DARI RUSUK LAKI-LAKI
Orang Barat mempunyai pepatah yang indah: "Perempuan diciptakan oleh Tuhan dengan tulang rusuk, bukan tulang kepala supaya jangan keduanya jadi kepala, bukan tulang kaki supaya perempuan tidak diinjak-injak lelaki." Pertama, jika perempuan dan laki-laki sama-sama berebut mau menjadi kepala, akhirnya anak-anak menonton terus siapa jadi juara di rumah. Allah menciptakan wanita tidak dari tulang kepala atau tulang kaki, ini merupakan keajaiban penciptaan. Kedua, tulang rusuk adalah tempat jantung dan hati, untuk dicintai oleh suaminya, karena memang dulu engkau di jantung-hatiku. Di tempat yang dekat dengan jantung, dimana suami bisa mencintai dia seperti mencintai jantungnya sendiri. Mencintai dia sebagai mencintai diri sendiri, yang paling dekat dengan hatinya. Bukankah istilah ini berulang kali muncul dalam surat-surat cinta, "jantung-hatiku". Ketiga, tulang rusuk adalah untuk melindungi, membimbing, dan menjaga dia. Salah satu gambaran yang paling indah di dalam dunia ialah ketika seorang pria melindungi dan membimbing seorang wanita. Di dalam dunia ada dua macam lukisan yang sungguh-sungguh menggambarkan keindahan, yaitu: (1) seorang laki-laki yang sungguh-sungguh melindungi keluarga yang dilambangkan dengan dia memberikan lengannya kepada istrinya, dan (2) seorang ibu yang menggendong mata bayinya, dimana mata ibu kontak dengan mata bayi sehingga yang dari atas menyatakan cinta dan yang bawah menyatakan pengharapan yang penuh. Ini lukisan yang terindah yang bisa saya bayangkan di dalam dunia. Sebagaimana bapa mencintai ibu, orang tua mencintai anak, hanya menjadi indah karena gambar bagaimana Kristus mencintai gereja dan Allah mencintai umat manusia. Demikianlah kita melihat rencana Allah supaya kita membentuk keluarga yang indah dan bahagia, yang boleh menjadi cermin di dalam dunia ini bagaimana kuasa dan cinta Allah kepada manusia. Orang itu tidak baik hidup tanpa seorang penolong. Di sini kita melihat wanita diciptakan untuk menolong suaminya, bukan untuk menguasai, mememimpin, dan mempengaruhi secara negatif suaminya, tetapi menjadi penolongnya. Tetapi suami juga harus jelas jalan di dalam kehendak Tuhan, sehingga ia berhak memimpin seluruh keluarga di dalam menjalankan kehendak Tuhan.

Mengapa orang hidup sendiri itu tidak baik?
1. Manusia diciptakan di dalam sifat relatif.
Manusia harus hidup di dalam satu hubungan antar manusia secara relatif. Tetapi manusia satu-satunya makhluk yang diberi konsep kemutlakan di dalam kerelatifan. Itu sebab manusia betul-betul tidak boleh menjadi Allah. Manusia tidak seharusnya memutlakkan diri. Tetapi manusia yang hidup terus-menerus seorang diri, masuk ke dalam bahaya hidup memutlakkan diri. Itu sebabnya Allah mengatakan tidak baik manusia hidup seorang diri. Jangan pikir dulu bahwa pria tidak baik hidup sendiri karena nanti akan cari pelacur. Itu pikiran tidak beres. Hidup seorang diri tidak baik, karena mungkin membuat orang tersebut memutlakkan diri. Orang makin tua makin kaku, sehingga mengubah orang makin tua makin sulit. Kalau orang tidak mau diubah lagi, berarti ia mulai tua. Kalau tuanya beres bagus, tetapi kalau tidak beres, itu mirip Allah. Kalau orang sudah sedemikian kaku dan ia akan merasa seperti Allah, maka Allah mengatakan hanya ada satu Allah, maka matilah ia. Karena manusia mempunyai kemungkinan bahaya memutlakkan diri, maka Allah mengatakan bahwa tidak baik hidup sendiri.
2. Manusia diciptakan sebagai bagian dari keseluruhan.
Manusia bukan dicipta sebagai keseluruhan, sehingga tidak ada seseorang yang bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri. Dia hanya sebagian dari masyarakat, dia hanya sebagian dari keluarga. Saya termasuk orang mempunyai bakat cukup menyeluruh, dalam hal ini saya tidak berani bangga karena saya takut akan dihakimi dan dihukum lebih banyak daripada orang lain. Orang yang banyak bakatnya, tetap harus ingat bahwa ia hanya sebagian saja. Saya masih memerlukan bagian lain untuk memperlengkapi saya. Di dalam hal ini keseluruhan tidak dapat secara mutlak diwakili oleh bagian. Ketotalan tidak bisa diambil alih oleh sebagian. Itu sebab pada saat orang menganggap ia bisa semua dan tidak membutuhkan orang lain, orang itu mulai mengalami suatu bahaya. Tuhan kadang-kadang memberikan talenta yang sedemikian limpah kepada satu orang, tetapi tetap ia membutuhkan orang lain. Pada jaman High-Renaissance, kita melihat Leonardo DaVinci, Michaelangelo, Bonoargi, Raphaello, mereka semua adalah arsitek, pelukis, ahli ilmiah, pemahat, dan mempunyai banyak aspek yang lain-lain. Terkadang Tuhan menciptakan orang yang mempunyai begitu banyak talenta, tetapi jangan lupa, Tuhan tetap mengatakan kalimat ini: "Hidup tersendiri itu tidak baik," supaya tidak mengganggu keseluruhan dan supaya menghargai yang lain.
3. Manusia diciptakan untuk menolong dan ditolong.
Ini adalah dalam arti relativitas sifat ko-operasi. Sifat ko-operasi merupakan sifat yang begitu penting di dalam hidup masyarakat manusia. Itu sebab manusia sangat perlu saling membantu. Kalau tangan kanan bisa menolong mencuci semua bagian, termasuk tangan yang satunya, ia sendiri tidak bisa mencuci dirinya sendiri. Bagaimana hebat "tangan menolong yang lain, ia tidak bisa menolong diri sendiri." Singgungan yang terbesar bagi mata ialah ia bisa melihat segala sesuatu tetapi tidak bisa melihat sendiri. Ini kalimat dari Ralph Emerson, seorang pujangga besar dari Amerika. Mata harus disinggung karena mata melihat segala sesuatu, tetapi tidak bisa melihat sendiri. Bukan saja mata tidak bisa melihat sendiri, mata kanan juga tidak bisa melihat mata kiri dan sebaliknya, karena terhalang oleh hidung. Itu sebab saya perlu memberitahu kepada istri saya, dan istri saya memberitahu kepada saya. Kita memerlukan saling memberitahu. Kata "saling" tidak dimengerti oleh orang yang memutlakkan diri. Kita kadang-kadang bisa berselisih pendapat, dan itu merupakan bahagia dari Tuhan. Perhatikan kata ini: cekcok kecil bahagia, cekcok besar bahaya. Orang itu hidup seorang diri tidak baik, maka perlu seseorang untuk menolong dia.

I. ALASAN PERNIKAHAN SECARA NEGATIF
Mengapa kita menikah? Untuk ini kita akan melihat dari dua aspek, yaitu secara negatif, dan secara positif. Dari aspek negatif, kita akan menolak beberapa sebab, antara lain:
1. Menikah bukan karena usianya sudah sampai.
Berapa banyak orang tua berkata: "Kamu sudah umur 30 masih makan nasi di sini, apa tidak malu? Cepatlah "menikah." Ini membuat orang sulit makan nasi. Tidak! Kita menikah bukan karena umurnya sudah sampai. Kapan usia itu sampai? Ini sangat relatif. Orang Mongolia pada usia 15 tahun bisa sudah menjadi nenek, ada yang umur 8 tahun sudah matang, dan bisa melahirkan anak. Itu di Mongolia. Jika kita menikah hanya karena usia sudah sampai, itu berarti melayani sejarah dan tidak mungkin mengubah sejarah. Manusia tidak seharusnya melayani sejarah. "Waktu mendesak saya untuk menikah, lalu saya cepat-cepat menikah," itu sifat binatang bukan manusia.
2. Menikah bukan karena papa dan mama perlu cucu.
"Cepatlah menikah, saya sudah tidak tahan ingin gendong cucu." Baru berapa hari yang lalu seorang berkata kepada saya, bahwa ia ingin sekali anak-anaknya cepat menikah tetapi belum ada yang nikah, ia ingin sekali. Ia merasa tidak enak lihat anak orang lain sudah menikah dan anak sendiri belum menikah. Sabar! Daripada salah nikah, lebih baik menunda nikah. Bukan demi untuk melayani orang tua yang sedemikian ingin menggendong cucu, maka cepat-cepat menikah. Setiap orang yang mau menikah harus mempunyai pengertian makna nikah yang dikaitkan dengan rencana Allah, sehingga dapat menguasai emosi dan nafsunya sendiri, kalau tidak Saudara tidak berhak menikah.
3. Menikah bukan karena sudah terlanjur.
Menikah bukan karena sudah terlanjur, sehingga diperintah oleh bayi di perut. Orang Tionghoa kalau menikah selalu menulis di dalam iklan atau pengumuman di surat kabar: "Demi perintah orang tua, kami akan menikah pada tanggal  …  Tetapi itu zaman dulu. Dulu    orang menikah atas perintah orang tua, tetapi orang zaman sekarang menikah atas perintah anak-anak kecil. Sudah terlanjur, akhirnya hamil. Maka sekarang anak bayi itu memerintah untuk cepat-cepat menikah, supaya tidak malu. Sudah hamil baru menikah, itu berarti demi anakku yang di perut. Berapa banyak orang yang menikah karena sudah terlanjur. Pernikahan tidak seharusnya didasarkan pada keadaan seperti itu.
4. Menikah bukan karena memerlukan seks.
Karena saya sudah matang, bukan sekedar umur, tetapi seks memaksa saya untuk menikah. Tidak. Itu merupakan pernikahan yang rendah, yang tidak bertanggung jawab, dan yang bahaya sekali. Orang Yunani mengatakan: "Mengapa otak di atas hati, dan hati di atas pinggang?" Bagi Plato, otak, hati, dan pinggang, merupakan tiga tempat yang urutannya mempunyai arti yang sangat besar sekali. Pinggang adalah tempat seks, hati adalah tempat emosi, dan otak adalah tempat rasio. Allah sudah mengatur sedemikian rupa biar pinggang dikuasai oleh hati, dan hati dikuasai otak. Maksudnya, orang yang paling rendah adalah orang yang pinggangnya mengatur hidupnya, orang yang paling rendah, paling hina dan tidak mengerti tentang keluarga. Kelompok kedua yang lebih tinggi ialah apabila cinta menguasai seks. Karena ia mempunyai cinta yang sejati baru ia mengendalikan akan nafsunya. Orang yang sedemikian adalah orang yang lebih berbahagia. Tetapi Plato berkata bahwa itu masih kurang. Orang yang lebih berbahagia lagi adalah orang yang otaknya menguasai hati, baru otak dan hati menguasai pinggang. Berarti dengan rasio kita mengerti kebenaran, lalu kebenaran itu menguasai emosi, sehingga emosi itu tidak meluap, baru emosi itu menguasai seks. Seks dikuasai oleh cinta, dan cinta itu dikuasai oleh kebenaran. Bukankah ini merupakan suatu kebahagiaan? Tetapi saya berkata kepada Saudara, bahwa ini masih merupakan pikiran dunia, tetapi pikiran Kristen lebih tinggi lagi. Kalau kita tanya Plato, pinggang dikuasai oleh hati dan hati dikuasai oleh otak, maka otak, dikuasai siapa? Mereka berhenti dan tidak ada jawaban. Tetapi bagi orang Kristen, otak dikuasai oleh Firman. Firman, Rasio, Emosi, dan Hidup Seks. Di sinilah letak dasar mendirikan dan membentuk keluarga yang sukses.

II. ALASAN PERNIKAHAN SECARA POSITIF
Dalam rencana-Nya yang kekal, Allah menciptakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, menurut peta dan teladan Allah sendiri. Inilah dasar dari kesamaan status dari laki-laki dan perempuan.
Maka kita melihat bahwa alasan pernikahan secara positif:

MERUPAKAN RENCANA DARI PENCIPTAAN ALLAH.
Dari keindahan struktur masyarakat Tuhan telah menciptakan manusia dengan sifat mutual yang ada pada setiap pribadi. Sifat mutual berarti potensi manusia untuk mengasihi dan dikasihi. Mutual ini bila mencapai suatu keseimbangan, mencapai kesempurnaan hidup manusia. Manusia bisa mencintai dan bisa dicintai. Manusia butuh penyaluran cinta dari dirinya, sebagai inisiator emosi. Tetapi manusia juga memerlukan suatu penerimaan cinta untuk dirinya, sebagai receiver (=penerima). Ia menerima kedua hal ini. Keseimbangannya membentuk gejala jiwa yang normal. Salah satu kendala yang merusak kenormalan psikologi yaitu ketidak seimbangan antara kasih yang diterima dan diberikan. Jikalau kita menerima cinta kasih yang banyak tetapi tidak dapat menyalurkan cinta dengan inisiatif sendiri, tidak mungkin jiwa kita menjadi normal. Sebaliknya jika kita terus memberikan cinta kasih kepada orang lain tetapi belum pernah kita dicintai, itu juga mengakibatkan ketidaknormalan bagi kita. Akibatnya sangat buruk, bukan saja merusak diri tetapi juga menghambat keharmonisan dari keseluruhan masyarakat. Karena Allah adalah kasih adanya, maka manusia yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah juga diberikan suatu potensi seperti diri Allah, yang adalah Sumber Kasih dan sekaligus Ia mau manusia memberikan cinta kasih berdasarkan kasih yang diberikan-Nya. Ia adalah Inisiator yang mutlak. Dan manusia yang mempunyai sifat mutual ini, perlu baik-baik mengerti kasih dan kebenaran.
BAGI YANG TIDAK MENIKAH
Bagaimana dengan mereka yang tidak menikah atau tidak mempunyai kesempatan tidak menikah, bagaimana mungkin mencapai hidup sempurna? Saudara yang tidak menikah karena pilihan sendiri ataupun karena pengaturan Tuhan atau belum ada kesempatan untuk menikah karena waktu Tuhan belum sampai, jangan sekali-kali kau menjadi minder, karena kasih bisa disalurkan dengan lebih agung tanpa melalui pernikahan. Karena kasih bisa disalurkan kepada bidang-bidang lain yang lebih luas. Sekali lagi saya menegaskan jangan kita menganggap yang tidak menikah ketinggalan dan sebagainya. Banyak dari orang yang tidak menikah telah memberikan sumbangsih besar dalam sejarah umat manusia dan bisa mencapai kesempurnaan hidup dengan keseimbangan hidup yang dijalan melalui pengertian kasih yang dibagikan lebih luas kepada orang lain di luar pernikahan. Tetapi ini harus dibatasi, jangan mencampur adukkan kasih dan seks menjadi satu. Karena Allah menciptakan manusia dengan sifat mutual, mengasihi dan dikasihi. Keseimbangannya menjadikan manusia mencapai satu kepuasan, kesempurnaan dari oknum yang bersifat kasih.
PENTINGNYA RELASI KASIH
Dalam berbagai relasi tidak ada yang lebih erat dan riskan kecuali hubungan yang mengakibatkan kelahiran atau menghasilkan hidup yang baru melalui pernikahan. Ini merupakan satu persatuan yang paling intim dan paling riskan, dan menuntut tanggung jawab paling berat sepanjang sejarah hidup manusia. Itu sebabnya Alkitab berkata dengan jelas bahwa setiap orang harus menghormati pernikahan. Berarti pernikahan tidak boleh dijadikan permainan. Pernikahan bukan pemenuhan kebutuhan seks, dimana kita bisa memuaskan nafsu lalu selesai. Pernikahan harus dimengerti melalui kesadaran sesungguhnya terhadap kebenaran yang terkandung dalam pernikahan. Persatuan melalui pernikahan menurut Alkitab melambangkan persatuan antara gereja dengan Yesus Kristus. Adam ditidurkan oleh Allah sampai nyenyak lalu ia dioperasi sehingga rusuknya dikeluarkan satu dan berdarah. Melalui keadaan rela berkorban baru ada yang dicintai menikmati cinta sesungguhnya. Demikian Kristus mati dan bangkit bagi gereja. Gereja menjadi mempelai perempuan dari Yesus Kristus. Persatuan ini menjadi mungkin dan cinta mencapai makna yang penuh karena Inisiator Kristus menjadi contoh bagaimana mengorbankan diri demi menyatakan kasih kepada gereja. Karena Kristus mengasihi gereja maka pengorbanan diri menyatakan diri boleh menjadi sasaran kasih. Maka persatuan melalui pernikahan merupakan suatu kewajiban yang berat, persatuan yang bermakna begitu dalam. Sehingga relasi yang paling, yaitu hubungan antara Kristus dengan tebusan-Nya, dilambangkan dengan pernikahan.

2 - Memilih Pasangan
A. PEMILIHAN
Ayat Hafalan    : "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" 2Kor 6:14*
Bagaimana saya menemukan pasangan yang sesuai untuk saya?
Bagaimana saya tahu jika saya sudah menemukan pasangan yang sesuai?
Mencari kehendak Tuhan dalam mencari pasangan adalah langkah pertama untuk membentuk suatu pernikahan yang berhasil. Pelajari dan ikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan Alkitab. Petunjuk yang paling penting terdapat dalam 1Kor 10:31*. Aku menjawab: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah". Paulus mengharapkan kita untuk melakukan segala sesuatu dalam hidup ini demi kemuliaan Tuhan. Tentu saja pernikahan juga seharusnya membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kita diberikan janji dalam Ams 3:5-6*, "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Kita harus mempercayai Allah, mengenal Dia, memandang kepada-Nya dan bukan kepada diri kita sendiri dalam mencari hikmat dan pengertian. Maka Ia berjanji akan membuat jalan kita lurus dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran.
Apakah bagian kita dalam memilih pasangan yang Allah inginkan bagi kita? Kita perlu memerhatikan prinsip-prinsip yang akan menolong kita memilih dengan bijaksana. Akankah Allah ingin kita memilih pasangan yang tidak mengenal dan menghormati Dia? Perintah dalam Perjanjian Baru adalah "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." (2Kor 6:14*). Sebagai seorang Kristen, kita harus mengetahui tanpa ragu-ragu bahwa yang sesuai dengan Allah haruslah seorang Kristen juga. Kej 24* menceritakan suatu cerita dalam memilih pasangan hidup. Kita bisa melihat cerita tersebut.

1. BAGAIMANA ISHAK MENDAPATKAN SEORANG ISTRI
Abraham sudah tua. Dia mengatakan kepada pembantu dan kepala pelayannya, Eleazar, yang bertugas mengurusi semua miliknya, untuk pergi ke negerinya dan memilih istri yang sesuai untuk Ishak. Dia harus memilih wanita di antara bangsanya sendiri, yang adalah penyembah Allah. Abraham berdoa supaya Eleazar mendapatkan petunjuk Tuhan.
Ketika Eleazar tiba di kota Nahor di Mesopotamia dia segera berdoa kepada Allah seperti ini, "Tuhan, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum - dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak." (Kej 24:12-14*).
Sebelum dia selesai berdoa, Ribka datang dengan buyung di atas bahunya. Eleazar berkata kepadanya, "Tolong beri aku minum air sedikit." "Minumlah." Kata Ribka, "Dan aku akan memberi minum unta-untamu juga."
Ketika Ribka sudah selesai, Eleazar memberikan kepadanya sebuah cincin emas, "Siapa ayahmu?" tanya Eleazar. Kakeknya adalah saudara Abraham! Eleazar sangat takjub dan bersyukur kepada Tuhan. Dia berlutut saat itu juga dan menyembah Allah. Allah sudah melakukan itu, persis seperti yang diinginkan Abraham, sama seperti yang didoakan oleh hamba tersebut. Allah sudah mengijinkan Eleazar menemukan istri yang sempurna bagi Ishak.
"Ini adalah dari Tuhan. Jadilah seperti yang dikehendaki-Nya. Ribka, maukah engkau pergi beserta orang ini dan menikah dengan Ishak?" Tanya ibu dan saudaranya. "Mau" jawabnya. Eleazar, Ribka dan orang-orang yang beserta dengan dia berjalan pulang. Ketika mereka sudah dekat, Ribka melihat seorang pria berjalan di padang dan bertanya, "Siapakah orang itu?" Ya, pria tersebut adalah Ishak. Cerita tersebut diakhiri dengan menceritakan bahwa Ishak mengambil Ribka sebagai istrinya dan dia mengasihi istrinya tersebut.
Apakah Allah menghargai kepercayaan Abraham dan Eleazar kepada-Nya?

2. MENGHADAPI KESULITAN-KESULITAN
Memilih pasangan hidup dapat membawa kita ke dalam keadaan yang sulit. Renungkanlah kejadian-
kejadian berikut ini dan tulislah menurut Anda bagaimana seorang Kristen yang sedang mencari kehendak Allah harus berbuat:
1. Seseorang mencoba untuk memaksa Anda menikah sehubungan dengan penglihatan atau mimpi yang dia katakan berasal dari Tuhan.
2. Seseorang mengatur sebuah pernikahan bagi Anda. Mungkin karena ketidakcocokan, waktu, atau situasi mengharuskan kita menikah dengan seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan kita.
Ingatlah, bahwa orang Kristen harus lebih mentaati Allah daripada manusia. Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia." (Kis 5:29*). Ceritakan kepada orang-orang yang bersangkutan mengenai perasaan Anda. Lakukan itu dengan seramah dan selembut mungkin. Mintalah keberanian dan kekuatan dari Allah untuk menghadapi ketidaknyamanan sekarang, daripada menyebabkan banyak orang tidak bahagia karena terpaksa menerima suami atau istri yang tidak kita pilih.

3. MENIKMATI BERKAT-BERKAT ALLAH
"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu - kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan ia akan bertindak." (Mazm 37:3-5*). Daud sang pemazmur, memberikan tiga tindakan yang akan kita lakukan dalam berhubungan dengan Allah. Pelajarilah hal-hal tersebut dan tulislah dibawah ini.
Salah satu hasil dari ketaatan ini adalah, "dan Dia akan memberikan kepadamu kehendak hatimu." Rencana Allah untuk pernikahan Anda adalah bagian dari rencana-Nya untuk hidup Anda. Berusahalah untuk mengikuti kehendak-Nya setiap hari. Dia akan menunjukkan kepada Anda kehendak-Nya untuk pernikahan Anda.

4. PERTANYAAN-PERTANYAAN
Marilah kita melihat beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan orang tentang memilih pasangan hidup.
1. Di mana saya akan bertemu dengan calon pasangan hidup saya? Anda mungkin bertemu dengannya di sekolah, di gereja, di pertemuan keluarga, atau di tempat yang lain. Tapi ingat, jangan mencari di tempat yang salah. Para pembimbing dan orang Kristen yang sudah dewasa dapat membantu dengan mengatur kegiatan-kegiatan dimana anak-anak muda bisa berkumpul bersama.
DIA MAMPU UNTUK MEMIMPIN ORANG-ORANG YANG BERKENAN KEPADA-NYA UNTUK BISA BERTEMU DI TEMPAT DAN WAKTU YANG TEPAT.
2. Apa yang akan saya rasakan jika saya bertemu dengan pribadi yang khusus ini? Kita akan tertarik pada seluruh keberadaannya, penampilannya, kerohaniannya, sifat dan ketulusannya,    kepandaiannya, dan banyak pengalaman atau karunia yang sudah Tuhan berikan, bahkan kelemahannya. Janganlah memilih pasangan hidup karena simpati, atau karena mengharapkan keuntungan atau materi, juga janganlah karena alasan atau motivasi yang salah. Dasar daripada pernikahan adalah komitmen, bukan hanya hidup bersama;  meskipun demikian, jauh lebih mudah jika misalnya mempunyai    kesenangan yang sama dan secara alamiah dapat saling mendapatkan kebahagiaan dari pasangannya.
Pemilihan pasangan hidup menempati urutan kedua setelah keputusan untuk menerima atau menolak Yesus. Tuhan akan memimpin pengambilan keputusan yang berat ini jika kita mengikuti prinsip-prinsip yang sudah diberikan-Nya kepada kita:
1. Memilih seseorang yang juga seorang Kristen.
2. Mengikuti pimpinan Tuhan daripada menerima pilihan orang lain.
Rencana Allah untuk memilih pasangan hidup merupakan bagian rancangan-Nya bagi hidup kita secara keseluruhan.

B. PASANGAN
Ayat Hafalan    : "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah." 1Kor 11:11-12*
Allah memilih untuk menciptakan dua jenis kelamin. Setiap pribadi menjadi sempurna di dalam Kristus.
"Dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa." (Kol 2:10*). Allah menghendaki supaya pria dan wanita saling melengkapi dalam pernikahan. Mereka dipersatukan bersama untuk membentuk suatu kesatuan pernikahan. Setiap pribadi yang disatukan dalam pasangan akan membawa masing-masing suatu nilai tambah, tindakan untuk memperkaya dan memperbaiki.
1. DALAM PERJANJIAN
Pengajaran Alkitab mengenai pernikahan menyebutkan bahwa pernikahan adalah berarti pasangan, suatu ikatan janji antara dua orang. Ini adalah suatu persetujuan yang secara bebas dibuat ketika seseorang memberikan dirinya kepada pasangannya. "Kekasihku kepunyaanku dan aku kepunyaan dia." (Kid 2:16*). Tema yang dikidungkan di seluruh Kidung Agung adalah suatu perasaan saling menyukai yang besar antara suami istri. Sukacita, semangat dan kesukaan yang saling dibagikan muncul dalam setiap paragraf. Dalam pernikahan, terjadi persatuan jiwa dengan jiwa, tubuh dengan tubuh. Tidak ada pasangan yang bebas terhadap yang lain. Mereka saling memerlukan. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. 1Kor 11:11-12*. Tiap jenis kelamin mempunyai penghargaan yang sama dan mempunyai nilai yang unik di hadapan Allah. "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Gal 3:28*).
2. AKIBAT DOSA
Dosa mengakibatkan rusaknya rencana Allah. Laki-laki dan perempuan melupakan bahwa hubungan antara pasangan adalah setara. Suami mulai menjadi pasangan yang berkuasa, dan penghormatan sang istri tidak lagi ditunjukkan.
3. KEDATANGAN YESUS
Tuhan Yesus membawa rencana yang baru. Ini betul-betul mengembalikan rencana Allah yang sebenarnya. Paulus menyatakan. "Tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, pria atau wanita, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus." (Gal 3:28*). Petrus memerintahkan sang suami untuk menghormati istrinya sebagai kawan ahli waris dari Kerajaan Allah (1Pet 3:7*). Dalam kekristenan, penghargaan wanita yang terlupakan diterangi kembali dan nilai-nilai mereka dinyatakan. Kristus mengembalikan kepada laki-laki suatu karunia yang berharga yaitu memimpin sang istri sebagai pasangan yang penuh. Istri bukan hanya penolong bagi suaminya dalam kehidupan sekarang ini, namun juga merupakan kawan ahli waris bersamanya dari hidup yang kekal.
4. TANGGUNG JAWAB TIMBAL BALIK
Dalam kekristenan sang suami dan istri masing-masing mempunyai hak untuk mendapatkan kesetiaan yang penuh dari pasangannya. "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah." (Ibr 13:4*). Beberapa kelompok masyarakat hanya mengharapkan kesetiaan pihak istri, namun standar Tuhan adalah kesetiaan oleh kedua pihak. Suami dan istri dipanggil untuk saling mengasihi. "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (Ef 5:25*). "Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya  … " (Tit 2:4*). " …  Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus." Ef 5:21* menyatakan tanggung jawab dari sikap saling taat. Yaitu tiap pihak secara sukarela dan mengasihi mau taat terhadap yang lain. Ketaatan yang bersifat timbal balik ini memberikan kepada suatu keluarga dasar yang kuat.
5. SEBUAH TIM
Sebuah pernikahan dimana tiap pihak mengenal nilai dan penghargaan dari pasangannya akan menghasilkan hubungan yang paling indah. Tiap pihak dapat menggunakan sumber, hikmat, atau pertolongan dari pasangannya. Pasangan yang bisa saling menikmati satu dengan yang lain sebagai teman dapat menemukan kesukaan yang besar dalam kebersamaan mereka. Waktu untuk berdoa, berbicara dan membaca bersama akan memperkaya hidup mereka. Pergi ke berbagai tempat bersama dan saling berbagi pengalaman akan memberikan kepada mereka suatu ikatan yang kuat. Hal-hal yang sederhana dalam hidup akan membawa arti yang dalam ketika dibagikan kepada yang lain. Rencana Allah untuk Adam dan Hawa bersama-sama untuk "Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu" dan bersama-sama memerintah atasnya (Kej 1:28*).
"Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priska dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu." (1Kor 16:19*). Juga bacalah Kis 18:1-4* dan Rom 16:3-5*. Ayat-ayat ini memberikan contoh-contoh yang baik tentang hubungan pernikahan. Priskila dan Akwila disatukan dalam kasih dan dalam pelayanan mereka terhadap Tuhan. Mereka juga bekerja bahu membahu sebagai pembuat tenda. Mereka juga pasangan dalam mengajar Firman Tuhan.
6. PEMBERIAN TOTAL
Paulus melihat adanya kesetaraan antara hubungan suami istri. Bacalah 1Kor 7:3-5*. Apakah suami istri diharapkan mempunyai keinginan seks? Apakah tubuh masing-masing merupakan milik pasangannya? Saat Anda membaca ayat-ayat tersebut, apakah Anda memerhatikan bahwa Paulus menekankan akan adanya saling memberi antara suami istri? Bacalah Ef 5* untuk mempelajari cara yang baru bagaimana seharusnya sepasang suami dan istri berhubungan. Ketakutan ataupun tugas-tugas yang menjengkelkan janganlah menjadi motivasi untuk istri. Melainkan, dia memberikan dirinya sendiri "seperti kepada Tuhan." Hal itu berarti memberi tanggapan dengan kasih, sukacita, dan kesenangan hati. Dapatkah sang suami menyayangi istrinya? Dalam hubungan yang baik, tiap pihak terus menerus memberi dan menerima kasih seperti kasih Kristus. Ini merupakan pengalaman bertumbuh bersama. Kasih Kristus adalah kasih yang tanpa syarat; kasih tersebut menerima, memerhatikan, mengampuni dan mengasihi, bahkan ketika orang lain sepertinya sudah tidak mungkin dikasihi.
7. KEPRIBADIAN YANG BARU
Pernikahan atau hubungan suami istri menciptakan pribadi ketiga yang muncul dari persatuan tersebut. Jika dahulu mereka berpikir "aku" dan "milikku," pasangan suami istri sekarang berpikir "kami" dan "milik kami." Mereka mulai mengembangkan suatu kosa kata dan rencana yang bersifat kerjasama. Jika yang satu merasa pedih, maka keduanya merasa terluka, jika yang seorang bersukacita, maka keduanya akan bahagia. Tidak ada hubungan antara manusia yang lain yang demikian rumit namun saling menguntungkan.

DOA
"Bapa, kami mengucap syukur karena Engkau menuntun kami untuk bertemu dengan pasangan kami. Biarlah bersama pasangan kami itu rencama-Mu bagi hidup kami menjadi terwujud. Terpujilah Tuhan. Amin"
PERTANYAAN A:
1. Sebagai seorang Kristen, apa langkah pertama yang harus kita ambil untuk membentuk suatu pernikahan yang berhasil?
2. Perintah dalam Perjanjian Baru manakah yang menolong kita mengetahui bahwa Tuhan menghendaki kita menikah dengan orang yang seiman?
3. Kemana Abraham mengirim hambanya Eliezer untuk mencari seorang istri bagi anaknya, Ishak?
4. Sebutkan tempat-tempat yang betul dalam mencari pasangan menurut Anda?
5. Hal-hal apakah yang seharusnya memotivasi kita untuk tertarik kepada seseorang untuk menjadikan dia pasangan hidup kita?
6. Menurut Gal 3:28; 1Pet 3:7*, bagaimana Tuhan mengembalikan rencana perkawinan kepada rencana semula setelah manusia jatuh dalam dosa?
7. Mengapa kesetiaan timbal balik dari suami dan istri penting dalam perkawinan Kristen?
8. Bagaimana suami istri dalam perkawinan dapat menjadi sebuah tim yang baik?
9. Bagaimana hubungan seks dalam pernikahan dapat menjadi pengalaman bertumbuh bersama?
10. Apakah yang dimaksud dengan munculnya pribadi yang ketiga dalam hubungan pernikahan yang menciptakan kesatuan?
PERTANYAAN B:
1. Apakah benar ungkapan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan? Berikan penjelasannya.
2. Apakah dibenarkan memilih pasangan yang tidak seiman dengan harapan nantinya akan kita bawa untuk mengenal dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya? Mengapa?

Referensi 2 diambil dari:
Judul Buletin : TELAGA
Judul Artikel : Diakah Pasangan Hidupku?
Penulis  : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph. D.
Penerbit : Literatur SAAT, Malang, 2004
Halaman  : 5  —  28

DIAKAH PASANGAN HIDUPKU?
Semua orang menyadari betapa pentingnya menemukan seorang pendamping atau pasangan hidup
yang tepat, dan tentunya yang diperkenankan Tuhan. Tetapi masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana kita menemukan pasangan itu. Setiap pemuda-pemudi perlu menyadari hal-hal yang harus mereka perhatikan dalam memilih pasangan hidup.
Definisi pernikahan secara praktis sebenarnya adalah hidup bersama. Karena saling mencintai, kita hidup bersama dan ingin membagi hidup dan sukacita dengan seseorang. Apakah tujuan berpacaran? Berpacaran adalah proses menjajaki apakah kita dapat hidup bersama atau tidak, itulah inti berpacaran. Jangan sampai saat berpacaran kita kehilangan arah atau tujuan hakiki ini. Pacaran bukanlah untuk saling menikmati, pacaran bukanlah untuk menikmati malam yang indah, pacaran bukanlah agar ada orang yang kita kunjungi setiap hari Sabtu atau Minggu malam. Pacaran bukanlah untuk membagi sukacita dengan seseorang, pacaran bukanlah agar kita dicintai orang lain. Tetapi masa pacaran adalah masa kita menjajaki, belajar dan melihat dengan baik apakah kita dapat hidup bersamanya untuk selamanya atau tidak.
Beberapa pertanyaan yang patut dijadikan tolok ukur atau pedoman dalam menemukan pasangan hidup.
1. Apakah dengan berpacaran justru makin dekat Tuhan?
Apakah kedua-belah pihak saling menolong untuk bertumbuh dan hidup makin dekat Tuhan? Sebab prinsipnya adalah segala hal yang kita lakukan haruslah memuliakan Tuhan. Jika dalam berpacaran justru tidak memuliakan-Nya, terbukti dari makin menjauhnya kita dari Tuhan, dapat dipastikan bahwa hubungan itu tidak diperkenan-Nya.
Berpacaran, memang hanya pertemuan rutin. Seminggu sekali datang ke gereja, pacaran pun seminggu sekali. Rutinitas ini tidak apa-apa, lebih baiknya adalah saling menguatkan, saling mendorong dan saling membangun, sehingga makin hari hubungan ini bertumbuh kepada Tuhan dan makin bergantung kepada-Nya. Contoh: saling menguatkan, saling memberikan teguran rohani, memberi dorongan rohani untuk terus percaya Tuhan, untuk melihat suatu masalah dari sudut Tuhan, untuk melihat apakah hal yang dilakukan itu memuliakan Tuhan atau tidak. Jika semua itu telah ada dalam suatu hubungan berpacaran, tentu akan memperkokoh kerohanian individu tersebut.
Tetapi jika salah satunya bukan anak Tuhan, dapat dipastikan hubungan itu tidak akan memuliakan Tuhan dan mereka tidak akan bertemu dalam Tuhan. Sebab yang satu secara otomatis tidak akan bisa memberikan dorongan rohani kepada pasangannya. Misalkan, jika pada hari Minggu orang yang percaya seharusnya ke gereja, namun pacarnya yang tidak percaya mengajaknya jalan-jalan, rekreasi, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itu dapat menjauhkan orang percaya itu dari Tuhan. Apalagi dalam pembicaraan mereka berdua, otomatis hal-hal yang bersifat rohani tidak bisa lagi mereka bahas. Maka dalam Perjanjian Lama, Tuhan dengan jelas memerintahkan kepada bangsa Israel untuk tidak menikah dengan bangsa-bangsa yang tidak seiman, karena hati mereka dapat dibawa pergi menjauh dari Tuhan.
Biasanya kalau pada masa pacaran, yang satu menuruti saja kemauan pasangannya, setelah menikah keadaan akan berbeda. James Thompson, seorang psikolog dari AS pernah mengatakan, "sebaiknya hubungan pacaran itu dilandasi oleh dua cinta yang sama, jangan sampai yang satu sangat mencintai dan sangat bergantung pada pasangannya dibanding yang satunya." Dengan kata lain, pasangan seperti itu ialah pasangan yang tidak seimbang. Sebab kalau yang satu mencintai pasangannya secara berlebihan maka secara otomatis terjadi kebergantungan yang sangat kuat dari salah satu pihak. Sehingga yang satu cenderung mengikuti kehendak pasangannya guna menyelamatkan hubungan mereka. Ia berusaha agar tidak kehilangan pacarnya. Kondisi hubungan seperti ini tidak sehat dan sangat berbahaya, sebab suatu hubungan nikah haruslah didasari oleh kesetaraan. Di mana jika keduanya ditanya hal yang sama, mereka harus berani mengemukakan pendapat.
2. Perbedaan-perbedaan apa yang mempersulit komunikasi.
Komunikasi adalah aspek yang sangat penting, karena saling berbicara akan menunjukkan banyak hal. Semisal: Kesamaan minat, kalau keduanya tidak memiliki ini maka akan kesulitan berbicara panjang lebar. Kesamaan berpikir, pola pikir yang sama juga memberikan kecenderungan bagi pasangan untuk dapat berbicara panjang lebar. Berikutnya ialah kemampuan memahami apa yang dibicarakan oleh pasangannya. Hal ini juga ditunjukkan dari seberapa mampu mereka berbicara. Sehingga hal-hal tersebut akan menambah keakraban mereka. Kenyataannya, ada pasangan yang sangat sulit berbicara dan jika ditanya kenapa, alasannya karena tidak ada yang perlu dibicarakan. Kesenjangan pendidikan yang terlalu jauh juga akan berpengaruh pada pola pembicaraan pasangan. Faktor pendidikan dan faktor IQ jangan berbeda terlalu jauh, karena jika demikian, di antara mereka tidak ada kesamaan dan sulit menemukan titik temu. Semakin banyak perbedaan, semakin sulit mencapai titik temu berkomunikasi.
3. Seberapa mampukah untuk bekerjasama?
Salah satu wujud kerjasama dapat terlihat dari kemampuan pasangan mengambil keputusan bersama
ketika menghadapi masalah. Jika ada perbedaan pendapat, itu berarti mereka harus mampu mengambil keputusan bersama. Dengan demikian mereka "lulus" dalam faktor kebersamaan, karena masalah itu mengundang atau bahkan mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Ketika masalah timbul, keputusan apa pun yang diambil, harus diputuskan berdua.
Banyak orang dapat mengambil keputusan sendiri tetapi sulit untuk mengambil keputusan berdua, itu hal yang sangat sulit, sehingga akhirnya banyak pasangan yang tidak melalui tahapan sehat ini. Mereka mengambil jalan pintas yaitu: yang satu memaksakan kehendaknya dan yang satu hanya menerima kehendak saja. Seolah-olah dari luar tampak baik-baik, tenteram, dan harmonis namun sebetulnya ada unsur keterpaksaan. Meskipun banyak masalah tapi tidak ribut dan memang hanya dapat menyelesaikan sedikit dari permasalahan itu, tetapi dalam keadaan itu ada yang menderita dan tertekan. Lebih sehatnya, mereka harus menyelaraskan diri agar dapat belajar bekerja sama. Tetapi hal ini sulit dilakukan, jauh lebih mudah yang satu memaksakan dan yang satu hanya menurut. Pasangan tidak seiman pasti akan berdampak dalam kerja sama mereka. Dalam memutuskan suatu masalah diperlukan kesamaan nilai-nilai hidup, jika nilai hidupnya berbeda maka hal ini akan mengganggu. Misalnya dalam persepuluhan, yang satu rela memberikan persepuluhan kepada Tuhan, yang satu lagi sangat mungkin keberatan. Yang satu ingin melayani Tuhan lebih aktif, yang satu enggan melepas pasangannya ke gereja. Yang satu mungkin menghalalkan segala cara, yang satunya takut akan Tuhan.
4. Apakah kita bersedia berekresi atau menikmati waktu luang bersama?
Jangan sampai kita dan pasangan menjadi sangat berbeda, sehingga benar-benar tidak ada titik temu untuk menikmati hidup bersama. Semisal pihak yang satu senang nonton bola, pihak yang lain suka mendengarkan lagu-lagu rock and roll; pihak yang satu senang keramaian dan kumpul-kumpul, pihak yang lain lebih suka berdiam di rumah, akhirnya yang terjadi adalah tidak pernah menikmati hidup bersama. Yang penting adalah bukan memulai kesamaan, tetapi bagaimana mencocokkan diri dalam perbedaan itu dan saling menghargai perbedaan yang ada.
Ketika baru menikah, kami mempunyai perbedaan yang cukup besar dalam hal menikmati waktu luang atau rekreasi. Istri saya sangat senang dengan pantai dan laut, saya lebih suka ke gunung. Sangat berbeda, sebab tidak banyak tempat yang sekaligus ada keduanya. Tetapi setelah menikah belasan tahun, sekarang saya dapat menikmati pantai, saya tahu dia suka ke pantai sehingga juga meluangkan waktu untuk pergi ke pantai. Karena usaha ini memberikan saya kesempatan untuk sering ke pantai, lama-kelamaan saya sangat menikmati pantai dan dia pun akhirnya sangat menikmati pegunungan. Jadi, sekali lagi intinya adalah bukan mencari seseorang yang persis dengan kita, tapi mencari seseorang yang dapat memahami dan menyesuaikan hidupnya dengan kita.
5. Apakah teman-teman kita bisa diterima oleh pasangan kita, begitu juga sebaliknya?
Salah seorang dari pasangan pada suatu saat harus mengajak calonnya untuk diperkenalkan kepada teman-temannya. Masing-masing harus melihat dengan jelas siapakah teman-temannya, karena secara tidak langsung mencerminkan siapa dia sebenarnya. Mereka yang telah menikah menyadari bahwa kita hidup di tengah masyarakat dan tidak lepas dari orang lain, yaitu teman-teman kita sendiri. Oleh karena itu, adalah penting bertanya, dapatkah pasangan saya masuk ke dalam lingkungan teman-teman saya dan diterima, begitu juga sebaliknya.
Sudah pasti keduanya memiliki latar belakang yang berbeda, dan teman-temannya pun tentu berbeda. Hal yang penting bukan lagi kesamaan teman, tapi dapatkah menerima dan menyesuaikan dengannya atau tidak? Sebab masing-masing pasti akan bertemu dengan sekelompok teman baru. Semisal ada perbedaan iman, yang satu biasa bermain dan bergaul dengan teman-teman di gereja dan yang satu mungkin tidak merasa cocok dengan teman gerejanya. Karena perbincangan mereka berbeda, maka tidak akan ada titik temu dan bagi yang satu akan merasa seperti di tengah-tengah orang asing. Sebaliknya, orang yang percaya juga mungkin merasa tidak nyaman kalau teman-teman pasangannya mengajaknya ke diskotik atau "night club," sebab bukanlah jiwanya.
Menurut saya, teman sesungguhnya mencerminkan siapa kita, siapa yang kita pilih menjadi sahabat sedikit banyak mencerminkan siapa diri kita. Kalau temannya adalah orang yang tidak benar, brengsek, dan sebagainya, tapi mengaku hidupnya benar maka ada kemungkinan hidupnya benar. Tetapi kalau dia tetap bersahabat dengan mereka maka sedikit banyak mencerminkan siapa dia sebenarnya. Ada kemungkinan dia masih menyenangi kehidupan seperti itu. Pasangannya harus melihat dan berpikir, apakah dia akan merasa cocok jika teman-temannya adalah orang yang suka ke "night club" atau karaoke setelah pulang kerja dan sebagainya. Harus mempertimbangkan apakah dia mau hidup dalam lingkungan seperti itu, karena pada akhirnya dia tidak bisa memisahkan pasangannya dari lingkup teman-temannya. Kalau keadaan seperti itu sampai mempengaruhi mereka dan keduanya benar-benar tidak bisa masuk ke dalam lingkup sosial masing-masing, maka salah satu harus berani memutuskan hubungan. Karena itu menandakan tidak adanya kecocokan di antara keduanya, meskipun di permukaan mereka tampak cocok.
Saya mengenal seseorang yang kuat dalam Tuhan tapi akhirnya menyukai seorang teman pria yang bukan dalam Tuhan. Akhirnya dia bersedia menguji apakah dia cocok dengan pasangannya ini. Sebenarnya saya kurang setuju dengan langkah yang diambilnya, namun dia melakukan hal yang bijaksana. Kebetulan pasangannya yang tidak seiman itu tinggal di kota lain, lalu dia memutuskan pergi ke kota itu. Ia tidak tinggal dengan pria itu tetapi di tempat temannya dan mengunjungi pria itu selama seminggu atau dua minggu. Di situ baru dia melihat gaya hidup pacarnya itu, yaitu pulang kerja tidak langsung ke rumah tapi mampir dulu ke "night club" sampai jam 11 atau 12 malam baru pulang. Melihat gaya hidup pacarnya seperti itu, dia balik lagi ke kota asalnya dengan suatu keputusan yang sangat jelas, dia harus putus hubungan dengan pacarnya.
Contoh lainnya: Ada seorang pemuda yang juga mengalami masalah seperti itu, sebetulnya sadar bahwa dia tidak cocok dengan kekasihnya, dia malu untuk memperkenalkannya, karena merasa tidak diterima oleh teman-teman dan keluarganya. Tapi karena cintanya terlalu kuat maka sulit untuk memutuskan hubungan. Ini adalah hubungan yang tidak sehat, tapi sangat sulit untuk bisa lepas satu sama lain. Penyebabnya adalah karena pemuda itu tidak bisa mempresentasikan pasangannya di hadapan orang-orang. Mereka menjadi sangat saling bergantung satu sama lain, seolah-olah kebutuhan mereka tidak bisa dipenuhi oleh orang lain. Hanya pasangannya yang bisa memenuhi kebutuhan itu, sehingga mereka benar-benar bergelendot, bersandar penuh kepada pasangan dan tidak dapat membuka diri terhadap masukan orang lain. Hal ini amat berbahaya, karena mereka menjadi sangat eksklusif, tidak realistis, sangat membebankan dan tidak memberikan ruang gerak bagi pasangannya. Setelah menikah baru menyadari bahwa pasangan kita tidak bisa memenuhi setiap kebutuhan kita.
Terkadang ada pasangan atau calon suami-istri yang beralasan: "Yang penting kan kita berdua, orang lain bisa diatur nanti." Alasan ini tidak dapat diterima untuk melandasi suatu pernikahan, sebab kita harus sadar bahwa kita hidup dengan orang lain dan harus berelasi dengan mereka. Saat ini banyak terjadi persoalan di mana suami seolah-olah merasa cocok dengan istrinya, tetapi istrinya tidak bisa cocok dengan satu manusia pun di luar sana, atau sebaliknya si suami tidak bisa cocok dengan satu manusia pun. Setiap kali berkumpul dengan orang selalu ribut, selalu tidak cocok dan lain sebagainya. Dalam keadaan seperti ini yang menderita adalah pasangan itu sendiri. Setelah menikah baru menyesal, semua sudah terlambat! Prinsipnya adalah berpasangan dengan orang yang bisa kita presentasikan ke hadapan orang lain. Kita tidak bisa berpasangan dengan seseorang yang ingin kita sembunyikan dari khalayak ramai karena merasa malu. Kita harus memiliki kebanggaan ketika bersanding dengannya, berjalan dengannya, dan mempresentasikan dia di lingkungan kita, entah di tengah-tengah teman, keluarga, maupun kolega kita. Jika belum menikah saja sudah merasa malu berjalan dengan dia dan menyembunyikan dia, ini adalah bukti hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang. Kalau kita hanya berani berduaan di luar khalayak ramai, hubungan ini akan menjadi terlalu eksklusif. Yang lebih serius lagi adalah tidak berani mempresentasikan dirinya, karena sebetulnya menyadari banyak hal dalam dirinya yang tidak dapat diterima orang lain dan sebenarnya kita pun tidak bisa menerimanya.
Pilihlah orang yang bisa kita terima dan tidak malu untuk menerimanya. Temukanlah sesuatu yang dapat membuat kita merasa bangga terhadapnya, misalnya: kualitas hidupnya, status sosialnya, atau keterampilannya. Tidak harus orang yang paling tampan atau paling cantik, tapi yang penting adalah tidak malu berjalan dengannya. Suatu hari kelak kita tidak malu dikenal sebagai suami atau istrinya.
6. Apakah memiliki nilai moral yang sama?
Nilai moral sesungguhnya adalah poros sedangkan keputusan hidup kita adalah jari-jarinya, sehingga kalau poros itu tidak ada atau tidak lagi berimbang, sudah tentu jari-jarinya akan berputar tidak beraturan atau kacau. Seperti poros, nilai moral sangatlah penting sebab akan menentukan saat misalnya kita akan membeli rumah yang besar atau yang kecil, atau jika orang tua kita yang membutuhkan rumah juga, jikalau kita berkata, "Wah  …  orang tua saya juga perlu uang ini, bagaimana kalau kita beli rumah yang sedang dulu, jangan yang terlalu besar, nanti kalau ada uang yang lebih banyak baru membeli yang lebih besar." Tentu pasangan kita akan bertanya, "Untuk apa uang itu … ?" Kita berkata, "Ya, saya mau bagikan kepada orang tuaku karena ini penting buat mereka." Kalau pasangan kita tidak mempunyai nilai hidup yang sama tentu ia akan menolak dan marah. Nilai moral atau nilai kehidupan sangat luas jangkauannya. Ada sebagian muda-mudi yang menerapkan gaya hidup "kumpul-kebo". Mereka mempunyai standar/nilai moral yang mengujicobakan hidup bersama sebelum keduanya sah menjadi suami-istri. Hasil dari nilai dan gaya hidup seperti ini tidak pernah efektif. Hasil studi di AS menunjukkan justru tingkat perceraian di kalangan pasangan kumpul-kebo lebih tinggi daripada pasangan yang tidak pernah melakukannya. Sangat menarik sekali mengapa mereka yang kumpul-kebo, hidup bersama, akhirnya lebih rawan terhadap perceraian, dibandingkan mereka yang tidak pernah hidup bersama. Satu jawaban yang hakiki adalah pernikahan. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang suci, dan jika yang suci itu dicemarkan, diremehkan, dibuang seperti sampah maka akhirnya kedua belah pihak melihat masing-masing seperti sampah juga sehingga perasaan saling menghargai akan sangat kurang. Sudah pasti bahwa hidup bersama di luar ikatan pernikahan tidak dikehendaki dan tidak diberkati Tuhan, sebab melanggar firman Tuhan yang jelas mengatakan "Jangan berzinah!"
Mereka yang tidak takut kumpul-kebo sudah pasti tidak takut bercerai. Ada kalanya memang yang satu sangat tidak berkeberatan untuk melakukannya. Dahulu kita beranggapan, bahwa sudah pasti yang akan berinisiatif untuk kumpulkebo atau berhubungan seksual sebelum menikah adalah si pria. Tetapi kenyataan itu sekarang mulai berbeda, cukup banyak wanita yang sangat berani meminta hubungan seksual sebelum menikah. Ini adalah hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang karena mereka tidak akan berkesempatan melihat problem-problem lain dengan objektif. Seks akan membawa kenikmatan, sehingga kalau seks sudah menjadi pusat hubungan mereka maka akan menutupi masalah-masalah yang sebetulnya ada dalam hubungan mereka. Kalau mereka berhubungan seks sebelum menikah, itu terjadi karena yang satu kurang dapat menguasai diri, selalu tidak dapat menguasai diri. Keadaan ini akan membuat pasangan-nya bertanya-tanya, seandainya telah menikah dan dia bersama orang lain dan kebetulan harus berdua, apakah dia mampu menguasai diri. Dengan kata Iain, ketidakmampuan pasangannya menguasai diri dapat mengurangi rasa percaya, dan juga akan mengurangi rasa hormat atau respek. Jujurlah kepada diri sendiri maka kita sesungguhnya menghormati pasangan kita yang justru bersikeras menjaga kesuciannya. Kita jauh menghormati pasangan yang berani konsekuen dengan kekudusannya dibanding pasangan yang memperlakukan tubuhnya sembarangan.
Yang seringkali ditanyakan oleh mereka yang masih berpacaran dalam ceramah dan seminar ialah, sampai sejauh mana boleh mengungkapkan hasrat seksual? Secara umum, sebaiknya jangan sampai berciuman di bibir sebab bibir adalah organ tubuh yang sangat erotis dan kalau sudah masuk pada ciuman bibir biasanya akan mengundang tindakan-tindakan lain yang lebih serius. Cukup berpegangan tangan atau berpelukan dari samping. Jangan berpelukan dari depan karena posisi ini juga akan mengundang reaksi birahi. Nasihat atau larangan ini memang terdengar sangat kolot bagi para pemuda. (Saya mengatakan begini berdasarkan pengalaman sendiri). Ketika berpacaran, saya pun harus bergumul dengan hal-hal seperti itu dan ingin agar mereka yang mendengar atau membaca hal ini akhirnya tidak harus jatuh ke dalam dosa dan merasa telah melakukan hal yang salah.
Ada yang menganggap jika tidak melakukan apa yang biasa dilakukan teman-teman sebayanya, seperti berciuman bibir, yang dikhawatirkan para pemuda ialah, mereka akan dicap pasangannya sebagai orang kolot/kuno. Atau sebaliknya si wanita khawatir dicap sebagai orang yang dingin, sehingga terpaksa melakukannya. Hal itu dapat dihindari melalui komunikasi yang lebih terbuka, yaitu masing-masing mengatakan baiklah menjaga diri dengan mengambil langkah-langkah seperti ini. Jikalau sudah ada pengertian seperti itu seharusnya tidak ada lagi tempat untuk kesalahpahaman. Justru mereka akan lebih bangga dengan hubungan seperti itu karena mereka saling menentukan target dan dari situlah akan nampak bagaimana mereka bekerja sama untuk saling menjaga kesucian.
Hal ini patut dijadikan tolok ukur, karena misalnya si wanita melihat pasangan prianya terlalu bernafsu padanya, setidaknya dia bertanya-tanya, pacarku ini mencintaiku atau mencintai tubuhku, ini adalah dua hal yang berbeda.
7. Dapatkah menerima dan menghargai keluarga masing-masing?
Ini adalah salah satu pertanyaan yang sangat penting, apalagi dalam konteks ketimuran kita. Mereka yang menikah tidak bisa berkata, "Saya hanya menikahimu dan tidak peduli dengan keluargamu". Berdasarkan pengalaman, sekali lagi, hal ini seringkali menjadi duri dalam hubungan nikah mereka. Berkali-kali saya menyaksikan ini dalam praktik, yaitu akhirnya hubungan suami-istri sangat terganggu masalah keluarga masing-masing. Biasanya yang terjadi adalah salah satu pihak tidak menghargai keluarga pasangannya. Bukan berarti harus dengan buta menghargai keluarga pasangan kita karena mungkin ada anggota keluarga yang bermasalah. Misalnya, bapak atau ibu mertua yang bermasalah, tapi kita juga harus menyadari bahwa seberapa pun mereka bermasalah, tetap saja mereka adalah bagian kehidupan pasangan kita dan ia sedikit banyak pasti berharap agar kita mau menghargai mereka. Sebab penghinaan terhadap keluarganya juga berarti penghinaan terhadap dirinya. Sebaiknyalah menikah dengan seseorang yang keluarganya dapat kita hargai.
Seringkali yang terjadi dalam masa pacaran adalah telanjur saling senang tapi kemudian salah satu dari orang tua entah dari pihak pria atau wanita tidak menyetujui atau tidak merestui. Sebagai orang Kristen yang beriman kepada Tuhan, bagaimana seharusnya mereka bersikap?
Hal ini sering dipertanyakan, namun selalu ada pertanyaan, apakah orang tuamu jelas melihat pasanganmu? Sebab ada kalanya orang tua mempunyai frase posisi atau anggapan yang kurang jelas sehingga harus mengetahui terlebih dulu apakah orang tua telah jelas melihat pasangan kita. Pertama, kitalah yang bertugas memberikan penjelasan selengkapnya dan seobjektif mungkin. Kedua, harus selalu menghargai masukan orang tua sebab kita harus selalu kembali pada fakta motivasi. Ada orang tua yang susah melepas anaknya untuk menikah, sehingga siapa pun yang menjadi pasangan si anak akan dicelanya. Tapi pada umumnya orang tua tidak seperti itu dan mereka menginginkan agar anak-anak bahagia. Jadi, kalau sampai orang tua menentang, biasanya karena mereka prihatin bahwa orang itu sesungguhnya tidak cocok dengan anaknya. Mungkin ini yang tidak terlihat oleh si anak. Maka, anak perlu menghargai masukan orang tua sebab umumnya orang tua tidak beniat jahat, justru melakukan itu untuk kebaikan si anak. Inilah yang perlu dipelajari oleh si anak, kenapa orang tuanya menentang, dia harus melihat hal-hal itu dengan objektif.
Misalnya yang kerap terjadi adalah orang tua melarang anaknya menikah karena alasan perbedaan etnis. Ada sebagian anak yang tetap ngotot dan tidak menghormati petunjuk atau permintaan orang tuanya. Sebagai akibat pergaulan yang sangat terbuka, mereka melihat banyak pasangan yang berbeda etnis dan di mata mereka pasangan itu toh tetap berbahagia. Ada sebuah kesaksian dari seorang pendeta kulit putih di AS, suatu hari putrinya datang kepadanya dan berkata, "Papa, saya akan menikah," si papa berkata, "Ya baik, bagus, dengan siapa … ?" lalu putrinya berkata, "Dengan seorang berkulit hitam, seorang Negro". Si papa kemudian berkata dengan sangat bijaksana, "Silakan, tidak apa-apa, tapi saya minta kamu melakukan satu hal, tinggallah bersama keluarga dan orang tuanya selama jangka waktu tertentu (6 bulan atau setahun)." Anak itu menyetujui dan ia tinggal berbulan-bulan dengan keluarga si pria itu, setelah berbulan-bulan dia kembali ke rumah papanya dan berkata, "Papa, saya berubah pikiran, tidak jadi menikahi pasangan saya." "Kenapa … ?" sebab memang ternyata perbedaan etnis berdampak pada suatu hubungan, bukan masalah etnis tapi gaya hidup dan cara hidup, nilai-nilai hidup, kebiasaan hidup, semua itu perlu dipertimbangkan. Ayah si putri itu memberikan pemecahan yang bijaksana, sehingga bukan dia yang melarang tapi anaknya sendiri yang memutuskan untuk membatalkan hubungan ke tahap pernikahan.
Secara Alkitabiah, seorang Kristen tidak boleh melarang anaknya menikah dengan orang yang berlainan etnis. Karena memang Tuhan tidak menghendaki hal itu, Tuhan melihat semua orang sama. Tuhan hanya membedakan seiman atau tidak, Tuhan memintanya dengan jelas. Tuhan tidak mempersoalkan masalah etnis yang berbeda karena semuanya adalah ciptaan Tuhan. Namun, selain itu kita harus menyadari bahwa setiap golongan masyarakat mempunyai pola dan kebiasaan hidup yang unik untuk setiap kelompok. Bahkan meskipun mereka satu etnis, antara orang yang berstatus ekonomi tinggi dengan yang berstatus eknnomi rendah akan memiliki gaya hidup yang berbeda. Sebelum menikah, lihatlah dengan jelas hal-hal yang mungkin dapat menjadi duri dalam pernikahan mereka. Bagi pasangan yang berbeda etnis, bukan masalah etnisnya tapi mereka harus menyadari perbedaan-perbedaan gaya hidup dan bagaimana kelak dapat menyesuaikannya.
8. Apakah memiliki perbedaan faktor ekonomi yang terlalu jauh?
Perbedaan kemampuan ekonomi yang terlalu jauh akan mempengaruhi kehidupan pernikahan, apalagi jika si pria lebih rendah, sebab pria cenderung mengukur harga dirinya dari segi keberhasilan ekonominya. Sewaktu menikah dengan wanita yang status ekonominya jauh melampaui dirinya, biasanya dia akan minder. Seorang yang minder dapat mempunyai dua perilaku yang ekstrim, pertama: dia menjadi sangat penurut, mengikuti semua kehendak si istri dan keluarganya, kedua: justru kebalikannya, ia melarang si istri dekat dengan keluarganya, memerintah si istri, dan menjadi bos atas istrinya, atau ada juga seperti istilah orang Jakarta yang mengatakan, memoroti uang si istri. Suatu kali ada kejadian dimana setelah si suami menjadi berhasil dan sukses kemudian membalas dendam, rupanya dia menyimpan dendam dan otomatis akan merasa peka dan cepat tersinggung. Mungkin keluarga si istri tidak menghina tapi kadang ada perkataan yang kurang enak dan itu begitu sensitif baginya. Ia menjadi dendam dan akhirnya menimbulkan permusuhan, sungguh menyedihkan.
9. Apakah problem masa lalu telah diselesaikan dan dituntaskan?
Sebaiknya ia mengetahui dengan jelas siapa kita, termasuk masa lalu kita. Kalau masa lalu kita sangat kelam, misalnya sebelum bertobat kita hidup dalam kehidupan seksual yang sangat bebas, akuilah dengan jujur karena ini penting untuk diketahui oleh pasangan kita. Jangan sampai sesudah menikah baru istrinya tahu, "oo …  itu pacarmu dulu, oo …  itu juga pacarmu yang dulu, oo …  itu bekas pacarmu lagi" Si istri akan bingung, berapa banyak mantan koleksi suaminya dahulu. Tidak perlu menjelaskan secara rinci apa saja yang dilakukan saat itu karena dapat mengganggu memori atau ingatan pasangan kita untuk waktu yang lama. Cukuplah menjelaskan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan secara garis besar. Kalau ia bertanya lebih rinci, misalnya hubungan yang tidak senonoh seperti itu, sebaiknya jangan dijelaskan. Jadi, tidak usah membangkit-bangkitkan semua yang telah terjadi, hal itu sangat tidak bijaksana sebab terkadang dapat dijadikan alasan untuk bertengkar.
10. Dapatkah menghadapi dan menyelesaikan pertengkaran bersama-sama?
Dalam masa pacaran, pertengkaran tidak harus dihindari sebab ada yang berkonsep bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas dari pertengkaran dan juga bukanlah yang sarat dengan pertengkaran, keduanya tidak sehat. Indikasi hubungan yang sehat adalah hubungan yang kadang-kadang ada pertengkaran, tapi yang pasti bisa diselesaikan. Kuncinya justru adalah bisa diselesaikan bersama-sama, dituntaskan dengan pengampunan dan penerimaan. Hubungan yang tidak mampu menyelesaikan masalah sebetulnya adalah hubungan yang sangat lemah. Kadang kala orang menganggap suatu masalah selesai karena keduanya sudah terlalu lelah bertengkar, "Ya sudah …  terserah kamu!" Dua tiga hari kemudian pertengkaran itu hilang lalu muncul lagi. Itu tidak sehat, keduanya harus mampu mencari jalan keluar, solusi harus selalu ada dalam hubungan yang sehat.
11. Dapatkah saling membicarakan dan merencanakan masa depan bersama?
Masa depan bersama adalah hal yang baik untuk dibicarakan, jadi keduanya harus membicarakan aspirasi mereka ke depan. Sangatlah penting saling bertanya dan membahas keinginan mendatang, apa kerinduan dalam hidup ini, apa yang perlu diraih dalam hidup ini. Misalnya yang satu merindukan rumah dan ingin tetap tinggal di rumah itu dalam waktu yang lama, tidak usah berpindah-pindah pekerjaan asal memadai atau cukup, tapi yang satu berbeda pendapat yaitu ingin mengejar jenjang karir yang lebih tinggi, kalau perlu pindah rumah atau pindah kota sekalian, tidak apa-apa. Hal seperti ini harus dibicarakan sebagai salah satu tolok ukur, apakah kelak keduanya sanggup membangun pernikahan atau kehidupan rumah tangga yang sehat.
Ams 27:1,2* mengatakan: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri."
Dua hal dalam ayat ini akan dikaitkan dengan hubungan berpacaran:
Pertama adalah janganlah memuji diri karena esok hari, jadi jangan terlalu bermegah akan esok hari. Banyak yang berpacaran tertalu positif akan hari esok, bahwa hubungan mereka pasti cemerlang, pasti cocok, pasti tidak ada masalah, karena saling mencintai. Tidak, jangan terlalu memuji diri akan hari esok. Lihatlah hari esok dengan realistik.
Kedua, biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu. Maksudnya adalah jangan berkata bahwa hubungan kita paling kuat, paling sehat karena saling mencintai. Biar orang lain yang memuji, artinya terimalah dan mintalah tanggapan orang lain. Semakin sehat suatu hubungan, semakin berani mereka menerima masukan orang lain. Suatu hubungan akan semakin tidak sehat dan rapuh bila mereka takut menerima masukan orang lain.    Pasangan yang merintis hubungan ke arah pernikahan harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas sebagai introspeksi diri. Semua itu dapat dijadikan pedoman, namun yang terpenting adalah kita harus berpegang pada firman Tuhan, yang pasti dapat memberikan petunjuk bagi kita. Dalam Yak 1:5* dituliskan: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada ALLAH, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya. "Saya sering menasihati mereka yang berpacaran bahwa salah satu doa yang harus mereka panjatkan atau minta kepada Tuhan adalah hikmat, yaitu hikmat untuk bisa melihat. Menurut saya pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang baik dan seringkali terpikirkan oleh banyak pasangan, tapi mereka tidak bisa melihat jawabannya karena mata mereka terkaburkan seolah-olah terbutakan oleh amuk cinta. Sehingga mereka harus minta hikmat agar menjernihkan mata mereka dan dapat melihat dengan jelas.
Sekarang banyak diselenggarakan program bina pranikah untuk mempersiapkan calon-calon pasangan suami-istri baik di gereja maupun di tempat lain. Program ini sangat diperlukan, karena dengan adanya bina pranikah maka jemaat semakin diperlengkapi dengan pengetahuan yang penting sebab memang tidak ada kuliah pernikahan. Salah satu cara terbaik dan sangat efisien adalah mendayagunakan anak-anak Tuhan sendiri, seperti majelis, atau tua-tua gereja yang mamiliki hubungan nikah baik dan sehat. Mereka bisa diminta untuk memberikan bimbingan, memberikan masukan-masukan dari pengalaman hidup mereka, itu sangat bermanfaat.

Referensi 2b diambil dari:
Judul Buletin : PARAKALEO, Vol.V/No.3/Edisi Juli-September 1998
Judul Artikel : Beda antara Cinta dan Cocok
Penulis  : — 
Penerbit : Departemen Konseling STTRI, Jakarta
Halaman  : — 

BEDA ANTARA CINTA DAN COCOK
Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta  —  cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan. Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya. Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.
Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba-tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang. Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.
Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka. Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena kesabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya. Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.
Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan. Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh. Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya. Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu cocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.
Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan  —  ini yang penting  —  cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.
Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran. Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar! Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok! Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.
Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:18*). Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.
Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok. Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita. Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku?
Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya. Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!


3 - Kemurnian Pernikahan Kristen

KEMURNIAN
Ayat Hafalan    : "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan." 1Tes 4:3*
Pertemuan pertama dari para tua-tua gereja yang diadakan di Yerusalem. Rasul-rasul adalah yang pertama dan mereka bertemu dengan Paulus dan Barnabas untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang penting yang membuat jemaat Kristen mula-mula bingung.
Mereka akhirnya memutuskan hanya ada tiga hal yang perlu dikatakan kepada jemaat Kristen pada masa itu. Bacalah tentang pertemuan ini dalam Kis 15*. Salah satu hal yang mereka tulis untuk semua orang Kristen adalah supaya menjauhi percabulan. Sepucuk surat yang juga berisi perintah-perintah ini ditulis oleh para tua-tua untuk dikirimkan ke semua gereja.
1. SEBUAH KARUNIA TUHAN
Seks adalah suatu karunia yang indah, tapi yang sangat sering disalahmengerti dan disalahgunakan. Seks sering hanya diartikan sebagai sesuatu yang dinikmati. Seks adalah salah satu karunia yang paling indah yang Tuhan berikan bagi pria dan wanita dalam konteks pernikahan.
Orang Kristen tidak akan kehilangan pengalaman tersebut. Tuhan tidak pernah menahan sesuatu yang baik bagi para pengikut-Nya. Mereka mengalami sesuatu yang orang lain tidak mampu untuk sepenuhnya menghargai. Dengan roh yang suka memberi, pasangan dalam pernikahan dapat saling memberi dengan cara yang unik. Mereka tidak mencari kepuasan yang singkat untuk diri sendiri, tetapi bertujuan untuk memberikan kebahagiaan kepada yang dikasihinya.
2. PENGAJARAN DARI TUHAN YESUS
Tak seorang pun dapat mempelajari pengajaran-pengajaran dari Yesus dan dalam Perjanjian Baru tanpa memenuhi syarat-syarat yang dikehendaki-Nya yaitu kemurnian dan kebenaran. Percabulan, yaitu hubungan seks antara dua orang yang tidak terikat pernikahan, disebutkan dilarang paling sedikit 18 kali. "Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus." (Ef 5:3*). Apakah perintah yang harus diterima oleh orang Kristen?
Perzinahan, yaitu hubungan seks dengan seseorang yang sudah menikah yang bukan istri atau suami sendiri, dilarang paling sedikit 15 kali dalam Alkitab. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat" (Mat 15:19*). Ayat-ayat ini menyatakan sumber dari dosa-dosa tersebut.
Yesus menceritakan seorang wanita yang jatuh dalam perzinahan. Dia tidak menghukumnya, tetapi mengatakan padanya "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi." Yesus tahu pasti bahwa wanita itu sudah berdosa. Tapi dengan kasih dia diampuni, dan diperintahkan supaya meninggalkan jalan hidupnya yang berdosa. Bacalah Yoh 8:1-11*. Dalam beberapa terjemahan Alkitab Anda akan menemukan ayat-ayat ini sebagai bagian dari suatu perikop; di bagian yang lain mungkin ayat tersebut dicantumkan sebagai catatan kaki.
3. BAIT ALLAH
Kita adalah Bait Allah. "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1Kor 6:19*). Jika kita melakukan dosa perzinahan atau percabulan, kita telah melanggar hukum Tuhan. Kebudayaan kita mungkin mengijinkan perbuatan dosa seks, namun dosa tetap merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Tidak peduli seberapa besar masyarakat memberikan kelonggaran kepada kita untuk melecehkan karunia seks, dosa seks tetap merupakan dosa. Bagaimana kita tetap bisa menyebut diri kita sebagai orang Kristen sementara kita tidak mematuhi pengajaran dari Tuhan Yesus? "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." (Yoh 14:15*). Beberapa orang secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak melaksanakan apa yang dikehendaki oleh moral Kristen, tapi beberapa orang Kristen justru menipu diri mereka sendiri dengan mengatakan bahwa mereka menuruti etika moral tersebut. Tuhan Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku." (Yoh 14:21*).
4. RENCANA ALLAH UNTUK TUBUH KITA
Dalam sejarah Alkitab, seseorang yang ditemukan hamil di luar nikah pasti akan dirajam batu sampai mati atau dibunuh dengan cara yang lain. Biasanya dalam masyarakat tradisional, anak-anak laki-laki berkelompok dengan para laki-laki dan anak-anak perempuan berkelompok dengan para wanita. Di sini mereka mendapat pengajaran tentang moral kemasyarakatan. Mereka tahu apa yang masyarakat harapkan dari mereka dan tahu persis apa akibat dari ketidaktaatan. Tradisi itu jarang dilaksanakan lagi. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Rom 12:1-2*). Bagaimana kita bisa mengetahui rencana Allah bagi tubuh kita? Apakah Allah bisa berubah? Apakah kita berani untuk melebur Allah kita yang kudus supaya sesuai dengan masyarakat kita yang bisa menerima dosa apa saja yang kita lakukan?
5. TUBUH KRISTUS
Bacalah dengan seksama 1Kor 6:13-20*. Tahukah Anda bahwa seorang Kristen adalah anggota dari tubuh Kristus? Apakah Anda ingin mengambil sebagian dari tubuh Kristus itu dan menyatukan diri dengan seorang pelacur hanya untuk menyenangkan diri sendiri? Ayat 1Kor 6:18* menekankan perbedaan antara makan, minum dan dosa percabulan. Apa yang kita makan dan minum masuk dan keluar tubuh kita, tapi dosa percabulan melibatkan keseluruhan dari seseorang; pikiran, emosi dan tubuh. Melakukan hubungan seks yang salah berarti menyiksa nurani dan menghancurkan pribadi diri sendiri.
6. BOLEHKAH SEORANG KRISTEN MEMPUNYAI SEORANG PACAR?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri dengan sebuah pertanyaan yang lain, yaitu apa yang Anda maksudkan ketika Anda menyebut tentang seorang pacar? Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita tidak diperbolehkan melakukan hubungan seks dengan siapa pun juga (termasuk pacar atau tunangan) di luar nikah. Kalau mempunyai seorang pacar berarti melakukan hubungan seks, maka orang Kristen tidak perlu mempunyai pacar, karena tidak mungkin kita mentaati hukum-hukum Tuhan sekaligus melanggarnya. Tapi jika mempunyai pacar artinya sedang mencari kehendak Tuhan untuk hidup pernikahan kita dengan menjaga kesucian, maka orang Kristen boleh memiliki pacar. Allah menciptakan masing-masing kita secara berbeda dan dengan karunia yang berbeda. Yang Allah harapkan dari kita adalah kita dapat menggunakan karunia-karunia itu dengan bijaksana.
Jika kita mencari kehendak Tuhan untuk menemukan pasangan hidup kita, maka kita akan mengetahui orang macam apa yang paling cocok sebagai pasangan kita. Satu cara yang baik untuk melakukan hal ini adalah dengan berbicara, mendengarkan, bekerjasama, dan menikmati persahabatan dengan orang lain, antara pria dan wanita. Dengan melihat persahabatan semacam ini, kita bisa belajar hal-hal apa yang sesuai untuk kita. Kita bisa mempelajari dengan cara bekerjasama dan melihat apakah teman kita bekerja dengan menikmati pekerjaannya atau tidak mau melakukan bagiannya. Kita bisa belajar dengan cara pergi ke gereja bersama-sama dan melihat apakah teman kita tertarik untuk melayani Tuhan atau tidak. Kita bisa belajar dengan mengunjungi orang tua mereka dan melihat apakah mereka menghormati dan menghargai orang tua mereka atau tidak. Kita bisa belajar apakah kita dengan teman kita mempunyai kesenangan yang sama dengan mengambil waktu untuk bercakap-cakap. Kita belajar untuk berbelas kasihan kepada orang lain dengan cara saling berbagi masalah dan penderitaan kita. Pernikahan adalah suatu hubungan seumur hidup. Ketika Anda berpikir untuk menikahi seseorang, Anda perlu bertanya pada diri Anda sendiri pertanyaan ini, "Dengan kekuatan yang dari Tuhan, bersediakan saya untuk tetap mencintai orang ini selama 50 tahun mendatang mulai dari sekarang?" Ini adalah ikat janji yang Anda buat ketika Anda menikah.
7. MURNI DALAM PIKIRAN
Pengajaran Tuhan Yesus sangat tegas! Dia mengingatkan kepada orang-orang di atas bukit tentang pengajaran menentang perzinahan. Lalu Dia menjelaskan makna yang lebih lengkap lagi akan pengajaran ini: "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." Mat 5:28*. Titus menyatakan bahwa "bagi orang najis …  baik akal maupun suara hati mereka adalah najis." (Tit 1:15*). Hati dan pikiran kita harus suci. Petrus mendorong kita untuk, "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus" (1Pet 1:13-16*). Dalam Ef 4:23-24* Paulus menegur kita "supaya kamu diperbaharui dalam roh dan pikiran …  Yang telah diciptakan menurut kehendak Allah." Dengan memilih apa yang mengisi pikiran kita, berarti juga memilih apa yang hendak kita lakukan. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Fil Ef 4:8*).
8. ALLAH ITU SETIA
Kristus mengampuni dosa dengan sungguh-sungguh, tapi Dia juga ingin pertobatan yang sungguh-sungguh. Ketika ada seseorang yang telah melakukan dosa percabulan datang kepada Dia dan berkata, "Tuhan ampuni aku atas apa yang telah kulakukan," Tuhan Yesus siap untuk mengampuni. Kristus dapat membuat "sesuatu yang indah" dalam hidup Anda, jika Anda memberi-Nya kesempatan. Kasih sayang Allah sungguh luar biasa! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. 1Kor 10:13*. Carilah janji Tuhan bagi kita. Memang pencobaan akan datang kepada kita seperti juga kepada setiap orang atau "seperti sesuatu yang biasa bagi manusia" tapi Allah akan menyediakan jalan keluar. Janji yang penting adalah, "Allah adalah setia."
9. AIDS - MASALAH ZAMAN SEKARANG
a. Apakah AIDS Itu?
AIDS adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh suatu virus yang menghancurkan kemampuan tubuh untuk menanggulangi penyakit yang lain. Seseorang yang terkena AIDS mungkin akan terkena diare, batuk atau demam yang terus berlanjut selama beberapa hari meskipun sudah dirawat. Beberapa orang menyebut AIDS sebagai "peramping" karena menyebabkan seseorang kehilangan berat tubuhnya dan menjadi sangat kurus. Gejala yang lain adalah pembengkakan kelenjar limpa, demam dan berkeringat pada malam hari, radang mulut dan kulit yang kasar atau membengkak. Setelah mengalami sakit selama beberapa bulan atau tahun, pasien tersebut pasti meninggal. Meskipun pengobatan sudah dilakukan dengan berbagai macam obat, belum ada pengobatan yang ditemukan untuk AIDS. AIDS dapat diketahui melalui tes darah khusus untuk AIDS.
b. Bagaimana Bisa Terkena AIDS?
Penularan AIDS terutama disebabkan oleh hubungan seks. Mirip dengan sipilis atau gonorhea. Namun, seseorang yang terkena AIDS mungkin tidak menampakkan gejala penyakit dan akan terus menular kepada orang lain melalui hubungan seks. Seseorang dapat membawa virus AIDS dalam tubuh selama lima sampai sepuluh tahun, menyebarkannya kepada pasangan hubungan seksnya meskipun ia terlihat sangat sehat. AIDS dapat juga tersebar melalui darah. Seseorang terkena AIDS karena menggunakan jarum suntik yang telah dipakai orang lain. AIDS dapat juga tersebar melalui pisau atau pisau cukur yang digunakan untuk bercukur, khitan/sunat, atau memotong bagian lain dari tubuh. Seorang ibu yang terkena AIDS dapat menularkan penyakit tersebut pada anaknya yang belum lahir. AIDS tidak ditularkan melalui jabat tangan, kontak tubuh yang normal, makan bersama, makanan, minuman, pakaian, dan udara atau nyamuk.
c. Bagaimana Anda Menjaga Supaya Tidak Terkena AIDS?
Cara yang paling utama untuk mencegah tersebarnya AIDS adalah dengan hanya berhubungan badan dengan satu orang dan orang tersebut juga hanya berhubungan dengan Anda. Allah memerintahkan supaya kita hanya berhubungan badan dengan orang yang kita nikahi. Seseorang yang menaati Allah dalam kehidupan seksnya, dapat menjadi cara pencegahan yang paling umum untuk penularan AIDS.
d. Bagaimana Mungkin Mengendalikan Kehidupan Seks Anda?
Ini bukanlah suatu hal yang mudah dan banyak orang yang berpikir ini tidak mungkin. Tuhan ingin menuntun hidup kita dan menolong kita untuk menaati hukum-hukumnya tentang nafsu seks. Pertama harus mengakui sesuai Firman Allah bahwa Anda seorang berdosa dan layak untuk mendapatkan hukuman Allah. Anda harus berbalik dari dosa-dosa Anda dan mengakui bahwa Yesus telah membayar dosa-dosa Anda ketika Dia mati di kayu salib. Allah membangkitkan Dia tiga hari kemudian yang menunjukkan bahwa Allah telah menerima kematian Yesus sebagai penebusan atas dosa-dosa Anda. Anda harus menerima Yesus dalam hidup Anda sebagai Tuhan dan Penguasa. Jika Anda melaksanakan hal ini, Yesus akan datang dan tinggal tetap dalam Anda. Dia akan mengubah hidup Anda. Tubuh Anda akan menjadi Bait Roh Kudus. Ketika Yesus hidup di dalam Anda, Anda akan bisa mengatakan "TIDAK!" terhadap segala kecemaran seks dan menikmati hidup yang bebas dari rasa takut akan AIDS.
DOA
"Tuhan, ajar kami untuk menjaga kekudusan tubuh kami masing-masing hanya untuk orang yang sudah menjadi suami atau istri kami. Biarlah kami dapat menghargai karunia seks sebagaimana yang Engkau kehendaki. Amin"
PERTANYAAN A:
1. Dalam konteks apakah seks diberikan Tuhan sebagai karunia?
2. Apakah yang disebut sebagai dosa "percabulan"?
3. Apakah yang disebut sebagai dosa "perzinahan"?
4. Sebutkan ayat-ayat Alkitab yang melarang orang Kristen melakukan dosa percabulan dan perzinahan?
5. Apa yang harus dilakukan oleh seorang Kristen yang melakukan dosa percabulan atau perzinahan?
6. Jika masyarakat menghalalkan dosa seks sedangkan kekristenan  melarangnya, apa yang harus kita lakukan?
7. Mengapa dosa seks sangat dibenci oleh Tuhan?
8. Apa yang kita sebaiknya kita lakukan dengan pacar kita ketika kita sedang berpacaran?
9. Bagaimana penyakit AIDS ditularkan kepada orang lain?
10. Bagaimana orang Kristen dapat menghindarkan diri dari kejatuhan    dalam dosa seks?

PERTANYAAN B:
1. Apakah masturbasi/onani merupakan dosa? Mengapa?
2. Berikan beberapa contoh praktis bagaimana orang Kristen yang sudah  menikah dapat menjaga kehidupan seksnya dengan kudus!

Referensi 3a diambil dari:
Judul Buku    : Keluarga Bahagia
Judul Artikel : Mengapa Kita Harus Penuh Hormat Terhadap Pernikahan
Penulis  : Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1995
Halaman  : 57  —  64

MENGAPA KITA HARUS PENUH HORMAT TERHADAP PERNIKAHAN?
1. PENETAPAN TUHAN
Pernikahan pertama dijodohkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan peta dan teladan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan laki-laki untuk perempuan dan menciptakan perempuan untuk laki-laki. Tuhan, Pencipta yang telah menetapkan sistem pernikahan ini, adalah Allah sendiri. Itu alasan pertama mengapa kita harus menghormati sepenuhnya akan pernikahan. Kita sebagai orang Kristen harus melihat segala sesuatu dari sudut Tuhan terlebih dahulu. Psikologi tidak pernah memberikan dasar yang kuat, karena mereka hanya melihat manusia dari pandangan manusia juga. Tetapi Kitab Suci mengajar kita untuk melihat segala sesuatu dari As/Poros, dan as itu adalah Tuhan. Maka dengan demikian kita melihat segala sesuatu dengan jelas dan tidak salah lihat akan segala sesuatu yang rumit di dunia ini. Karena pernikahan ditetapkan oleh Tuhan, dan orang-orang yang berpotensi untuk menikah diciptakan oleh Tuhan, maka pernikahan pertama dijodohkan oleh Tuhan sendiri, sehingga kita perlu penuh hormat dengan pernikahan itu sendiri.
2. PERTEMUAN ANTAR PRIBADI YANG PALING INTIM DAN RESMI.
Tidak ada hubungan lain yang mungkin lebih erat, lebih resmi dan lebih panjang artinya dan lebih indah daripada perkawinan. Ini merupakan suatu "I-Thou" Relationship. Pada permulaan abad ke-20, ada seorang profesor besar bangsa Yahudi dari University of Hebrew, yang bernama Martin Bubber (1878-1965), telah menulis satu buku yang tidak terlalu tebal, tetapi kalimatnya begitu kental, sehingga orang biasa perlu berjam-jam untuk memikirkan satu kalimatnya. Ia menulis buku itu dengan judul "I and Thou" ("Aku dengan Engkau"). Di dalam istilah ini, ia sudah mempunyai satu kerangka filsafat pikiran yang menganggap bahwa relasi menjadi rusak karena pertemuan oknum dengan oknum sudah dirusakkan oleh presupposisi/praanggapan yang tidak benar. Hubungan saya dengan kacamata saya, gelas, materi lainnya, bukanlah "I and Thou" tetapi "I and it". Tetapi hubungan saya dengan orang lain haruslah demikian intimnya, begitu saling menghargai, sehingga hubungan itu menjadi "I and Thou". Dari "I and it" menuju kepada "I and Thou" di situ perlu kesadaran yang luar biasa. Sayangnya, dan celakanya, begitu banyak orang yang menghadapi orang lain seperti menghadapi benda. Manusia lain dipermainkan seperti barang di dalam tangan. Manusia kalau dipersamakan dengan materi, bukankah kita akan melihat manipulasi dan kepura-puraan terjadi di masyarakat? Maka tidak mungkin tercapainya keadilan di antara manusia dengan manusia. Pada waktu manusia memperlakukan manusia lain sebagai binatang dan materi, maka yang diinginkan di dalam motivasi yang tidak beres itu adalah keuntungan melalui memperalat manusia. Kalau manusianya dijadikan satu alat untuk mencapai keuntungan manusia yang lain dengan ambisi yang tidak menghargai manusia sesamanya, maka dunia belum pernah mungkin mencapai perdamaian. Tidak mungkin tercapai keadilan dan kemakmuran, sehingga itu hanya merupakan slogan yang kosong belaka. Jikalau Saudara diperlakukan sebagai alat, Saudara akan merasa diri dan kehormatan Saudara sudah diinjak-injak kaki orang lain. Jikalau pacar Saudara mempermainkan Saudara untuk memuaskan dirinya saja, Saudara akan merasa hidup sangat tidak berarti, karena diri kita adalah seorang yang beroknum. Pada waktu pernikahan itu terjadi, berarti oknum dan oknum itu bertemu dan berjanji bersatu. Ini merupakan hal yang begitu besar, sehingga kalimat ini tidak salah: penuh hormat terhadap pernikahan. Ini adalah ajaran Alkitab yang jauh lebih baik daripada segala buku pedoman tentang seks, perkawinan dan keluarga yang ditulis hanya dengan pikiran otak manusia. Setiap orang yang mau menikah haruslah mengerti bahwa ini pertemuan oknum dan oknum dengan perjanjian yang selamanya. Ini bukan permainan. Menikah bukan seperti membeli barang. Menikah dengan seseorang bukan seperti memilih benda-benda yang kita senangi. Menikah adalah suatu kehormatan yang Tuhan berikan kepada manusia, di mana oknum tertarik dengan oknum, di mana kedua oknum berjanji untuk hidup bersama selama-lamanya di dalam dunia ini.
3. MENYANGKUT DASAR DAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA.
Kita harus menghormati pernikahan karena pernikahan menjadi dasar keluarga, dan memberikan pengaruh dan tanggung jawab yang paling panjang di dalam diri, dan hidup kita. Mungkin kita berkawan dengan orang lain, tetapi kalau ia mau pergi meninggalkan kita, kita tidak berhak melarang, tetapi pernikahan tidak demikian. Pernikahan mengandung suatu unsur kemauan yang kekal untuk pertemuan dengan oknum yang lain. Antara kasih dan kekekalan ada satu kaitan yang khusus dan sangat bersifat rahasia. Itu sebab para psikolog mengakui, bahwa jika seseorang mengasihi orang lain dalam kaitan pernikahan, maka kita akan mengkonsentrasikan kasih kita pada orang itu. Tidak mungkin kita bercabang ke banyak orang. Jika kita mencintai seseorang, kita tidak mungkin lagi mencintai secara sama kepada orang lain. Jikalau seseorang ayah mencintai 5 anak, itu bisa sama rata dan adil, tetapi jika mencintai seseorang dalam tujuan pernikahan, tidak mungkin orang mencintai dengan cinta yang sama terhadap seseorang dibanding dengan orang yang lain. Maksudnya, jika kita mencintai seseorang, cinta itu begitu mutlak, dan menuntut keseluruhan, tidak mungkin dicabangkan sehingga disamaratakan dengan obyek cinta yang lain. Maka ini menuntut kita harus menghargai pernikahan. Bukan hanya itu, cinta tidak hanya berkait dengan keutuhan, tetapi juga dengan kekekalan. Kita pernah mendengar pemuda-pemudi yang belum tahu banyak tetapi bisa bicara seperti seorang filsuf. Pada waktu mereka jatuh cinta, merea mengatakan: "Bagaimanapun aku mencintai engau, sampai mati pun aku akan tetap mencintaimu," padahal belum pernah mati. Sepertinya mereka sudah tahu apa artinya hidup dan mati, bahkan ada yang mengatakan: "Biarlah sampai bulan jatuh, gunuing rontok, air laut Pasifik kering, cintaku tidak berubah." Saya belum pernah melihat bagaimana gunung rontok, air itu kering, mana mungkin secara riil kita mengatakan kalimat-kalimat seperti itu. Itu berarti ia ingin mencetuskan sesuatu, yaitu: Cinta dan kekekalan (Immortal) dipersatukan (secara instinktif). Cinta yang sejati membutuhkan laitan antara cinta dengan keutuhan dan cinta dengan kekekalan. Allah itu kekal, dan Allah itu kasih, itu sebabnya, kekekalan adalah hakekat cinta dan cinta menuntut tanggung jawab yang kekal. Di sini kita harus menghargai pernikahan, karena cinta yang ada di dalam pernikahan itu perlu berkait dengan Allah baru Saudara mungkin mengerti tanggung jawab yang sesungguhnya.
4. SUMBER PROKREASI TERUS MENERUS
Pernikahan bukan sekedar mengisi waktu yang belum sampai, atau mengasihi seseorang, tetapi merupakan sesuatu yang akan menghasilkan keturunan yang terus menerus. Jadi pada saat Saudara memilih, itu bukan memilih gelas atau mobil, tetapi seseorang yang akan menjadi nenek moyang keturunan Saudara. Maka tidak boleh sembarangan. Kita perlu penuh hormat dengan pernikahan. Selain memilih dia, bagaimana memupuk, dan menyempurnakan pernikahan, karena oknum yang Saudara nikahi, bersama Saudara akan menghasilkan keturunan yang turun-temurun. Maka "hendaklah kamu penuh hormat terhadap pernikahan" adalah prinsip-prnsip yang betul-betul kita hargai. Bukan saja demikian, melalui pernikahan kita haruslah menjadi contoh teladan di dalam keluarga kita. Perkataan, pengajaran terhadap anak-anak tidak lebih kuat dibanding dengan hidup, teladan dan prinsip sehari-hari yang Saudara jalankan di dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup pernikahan dari seorang laki-laki dan perempuan mengakibatkan mereka boleh menjadi wakil Tuhan di dalam rumah dan teladan yang memancarkan sinar cahaya Pencipta kepada anak-anak yang dicipta dalam keluarga mereka. Dalam konsep Barat dikatakan, "A son is born into my family" (seorang anak telah dilahirkan di dalam keluarga), sehingga konsep anugerah itu jelas, bahwa anak-anak yang dilahirkan di dalam keluarga kita melalui pernikahan, berarti Tuhan memercayakan anak-anak ciptaan-Nya kepada kita. Kalau anak-anak itu dilahirkan di dalam keluarga kita, kita harus sadar bahwa bukan saya yang melahirkan, menciptakan dan memproduksi itu, tetapi kepercayaan Tuhan, sehingga hidup-hidup yang masih kecil itu boleh diasuh oleh saya. Di sini perasaan tanggung jawab harus mendahului tindakan pernikahan. Pengertian semacam ini menjamin kita bisa hidup baik-baik untuk bisa menjadi wakil Tuhan di dalam keluarga.
5. UNIT MASYARAKAT YANG MENJADI SAKSI
Pernikahan akan menghasilkan satu unit masyarakat yang harus menjadi saksi Kristus. Setiap keluarga
Kristen ada1ah satu unit masyarakat. Di mana pun Saudara berada, keluarga Saudara menjadi wakil dan saksi Tuhan. Biarlah keluarga kita boleh memancarkan cahaya Tuhan di dunia ini bagaikan mercu suar yang memberikan cahaya terang bagi kapal yang sedang berada di tengah ombak yang besar. Keluarga yang baik, indah dan bahagia memberika suatu ketukan kepada hati-hati yang tidak beres, hati nurani yang sudah menyeleweng, sehingga mereka melihat keadaan keluarga Kristen dan memanggil mereka untuk bertobat sebelum kita membuka mulut untuk menginjili mereka. Begitu banyak orang Kristen menginjil dengan mulut, tetapi hidup keluarga mereka tidak menunjang, karena hidup mereka di lingkung mereka demikian mempermalukan nama Tuhan, mengakibatkan daerah sekitar itu sulit diinjili. Pernikahan perlu dihormati dengan pengertian semacam ini, dengan demikian kita melihat bahwa pernikahan perlu sepenuhnya dihormati.
6. PERNIKAHAN LAMBANG KRISTUS DENGAN GEREJA-NYA
Di butir yang penting ini, kalau pada butir yang pertama pernikahan ditetapkan oleh Allah, maka pada butir yang terakhir, pernikahan melambangkan lambang yang paling rahasia, yaitu Kristus dan gereja-Nya. Seperti Kristus demikian mengasihi gereja-Nya sampai Ia mengorbankan diri-Nya untuk gereja-Nya, suami atau kepala keluarga harus belajar seperti Kristus, berarti ia sebagai kepala bertanggung jawab mengambil segala resiko dalam mencintai keluarganya, berkorban sehingga seluruh keluarganya disempurnakan.
Kita telah membahas tentang definisi cinta. Cinta adalah mengorbankan diri demi menyempurnakan yang lain. Di mana ada pengorbanan, di situ ada tanda tindakan cinta. Di mana ada cinta kasih yang sesungguhnya, disana ada kerelaan untuk mengorbankan diri. Bagaimana Kristus menyerahkan diri untuk gereja-Nya, demikian juga suami rela mengorbankan diri untuk keluarganya. Demikianlah keluarga didirikan.

Referensi 3b diambil dari:
Judul Buku    : Hanya Maut yang Memisahkan Kita
Judul Artikel : Romantisme dalam Pernikahan
Penulis  : Pdt. Roby Setiawan, Th. D.
Penerbit : Setiawan Literature Ministry, 2007
Halaman  : 50  —  54

ROMANTISME DALAM PERNIKAHAN
Setiap pernikahan dapat berubah suasananya sejalan dengan pergerakan waktu. Romantisme yang pernah ada pada waktu berpacaran pun bisa berubah. Memang hal ini bergantung pada pasangan itu. Pada sebagian pasangan, romantisme dapat hilang begitu saja; namun pada pasangan lainnya romantisme diekspresikan dengan cara yang selalu baru dan lebih kreatif.
Setiap orang memang mempunyai pemahaman yang berbeda tentang romantisme. Perbedaan yang belum dipahami itu sering menimbulkan ketegangan dan kekecewaan dalam hubungan suami-istri. Romantisme yang sehat adalah apabila terdapat keseimbangan antara unsur perasaan dan pikiran.
Kebencian adalah perintang romantisme besar. Kebencian merugikan kedua belah pihak. Kebencian menimbulkan sakit hati pada si pembuat masalah juga tentunya pada diri orang yang disakiti. Memang, dalam pernikahan selalu ditemukan unsur kekecewaan, luka hati karena kebutuhan dan harapan yang tak terpenuhi. Ingatlah, bahwa Anda menikah dengan orang yang tidak sempurna sama seperti diri Anda juga demikian.
Bersediakah Anda menerima pasangan Anda apa adanya? Tentunya ini sesuai dengan firman Tuhan yang berkata, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah" (Rom 15:7*).
Tuhan Yesus menerima kita tanpa mempersoalkan lebih dahulu kejahatan kita waktu lalu; dan tanpa menuntut kita agar suci dahulu. Ia rela menerima kita sebagaimana adanya, baru setelah itu Ia menolong kita untuk memperbaiki diri.
Penerimaan berarti pengampunan perbuatan akan masa lampau. Jika seseorang diterima apa adanya, maka ia akan merasa bebas untuk: mengembangkan dan memperbaiki diri, menjalani kehidupan, sharing secara terbuka dan bebas mengasihi diri sendiri serta pasangannya secara sehat. Berikut ini ada beberapa "bahasa kasih" dari suami/istri kepada pasangannya.
A. Bahasa kasih yang diekspresikan oleh sang suami kepada istrinya.
"Istriku akan senang sekali apabila  … "
1. Aku memeluknya dari belakang secara tiba-tiba.
2. Ketika makan bersama kakiku mencari-cari kakinya.
3. Aku mengusap-ngusap mukanya dan mencium matanya pada waktu ia berbaring di tempat tidur.
4. Aku menyiapkan bekal untuk anak-anak untuk sekolah ketika tekanan darahnya anjlok.
5. Aku mensharingkan rencana masa depan kami, visi dari Tuhan dan apa yang bisa kami lakukan bersama anak-anak untuk mencapai visi itu.
6. Kami ke kamar anak-anak menjelang mereka tidur untuk bernyanyi dan berdoa bersama-sama.
7. Aku memujinya di depan anak-anak.
8. Ia berbaring dan bersandar di lengan kiriku sambil mendengarkan bunyi detak jantungku yang teratur dan tegas.
9. Waktu pulang dari luar kota, aku membawakannya bakso, karena itulah makanan favoritnya.
10. Aku melakukan "warming-up" (persiapan) yang cukup sebelum menikmati hubungan intim.
B. Bahasa kasih yang diekspresikan oleh sang istri kepada suaminya
"Suamiku akan merasa bahagia apabila  … "
1. Aku mendengarkan sharingnya dengan sungguh-sungguh sambil mengarahkan pandanganku kepadanya.
2. Aku memijat-mijat kepala, punggung, dan badannya ketika ia sedang stres.
3. Aku menemaninya untuk menonton film dan program-program kesukaannya di layar TV.
4. Aku membacakan artikel-artikel khusus yang ia minta, sehingga pada waktu diskusi rasanya nyambung dan enak.
5. Pada waktu ia pulang malam dan capek sekali, aku menyiapkan makanan kesukaannya.
6. Aku menepuk pundaknya dan mendoakannya pada waktu ia akan menjalani tugas yang besar.
7. Aku "berteriak-teriak" - sewaktu ia menggosok-gosokkan jenggot yang baru tumbuh di lenganku.
8. Aku memakai body lotion yang wanginya ia sukai.
9. Aku merawat tubuhku agar tetap fit dan langsing.
10. Aku memakai baju tidur yang rendah belahan lehernya dan seolah-olah berkata, "welcome".
C. Beberapa saran untuk menyulut cinta romantis:
1. Romantika dalam pernikahan tidaklah didapat secara otomatis, tetapi harus diusahakan, sehingga membutuhkan waktu dan pengorbanan dari suami dan istri.
2. Jadilah pribadi yang menarik walaupun tidak rupawan. Christian Dior pernah berkata, "Wanita yang jelek itu tidak ada. Yang ada ialah wanita yang tidak tahu membuat dirinya menarik." Untuk menjadi pribadi yang menarik dibutuhkan adanya keelokan batin.
3. Tidak selalu benar bahwa seorang wanita kehilangan daya pikatnya ketika bentuk-bentuk lahiriahnya mulai memudar. Pengetahuan dan pengalaman seorang yang sudah senior apabila digunakan dengan baik bisa menyaingi gadis-gadis muda. Berikut ini adalah contoh orang-orang yang terkenal: Balzac pada usia 23 tergila-gila dan menikah dengan seorang wanita yang berusia 40. Goethe pada usia 26 menikah dengan wanita berusia 33. Rousseau pada usia 21 menikah dengan wanita berusia 34. Lou Tellegen (31 th) terpikat dengan Sarah Bernhardt yang berusia 35 tahun lebih tua darinya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ciri-ciri fisik seorang wanita memang menarik pada awal perjumpaan; namun selanjutnya dibutuhkan kemampuan jiwa untuk membuat sang partner terus-menerus tertarik padanya. Justru ironis sekali melihat fakta bahwa perceraian lebih banyak menimpa orang-orang yang rupawan. Salah satu sebabnya adalah karena mereka lebih mudah memikat orang lain, atau mereka mempunyai sifat narcistik (memuja diri) dan egocentric (berpusat pada diri sendiri saja). Dengan demikian, kecantikan dan ketampanan dapat berubah menjadi’racun’.
4. Memiliki rasa percaya diri yang sehat. Ini tidak identik dengan sifat sombong. Rasa percaya diri didasarkan pada keyakinan bahwa anugerah Allah cukup bagi setiap orang. Setiap orang perlu merasa dirinya baik dan diberikan potensi serta karunia yang unik oleh Tuhan, sehingga ia tidak perlu iri hati terhadap orang lain. Rasa percaya diri dapat terpancar lewat caranya berdandan, berbicara dan membawa diri.

4 - Peran Suami dan Istri Dalam Pernikahan Kristen
A. SUAMI DALAM PERNIKAHAN KRISTEN
Ayat Hafalan    : "Hai, suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Ef 5:25*).
1. Kasih yang Rela Berkorban
Tanggung jawab pertama dari seorang suami dalam pernikahan adalah mengasihi istrinya. "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." (Kol 3:19*). Kata yang digunakan Ef 5* untuk "kasih" suami kepada istrinya adalah kata yang sama untuk mengungkapkan "kasih" Allah kepada umat-Nya. Kasih ini adalah kasih yang terus memberi meskipun tidak menerima imbalan. Kasih ini hanya mencari apa yang baik bagi yang dikasihinya, tanpa mempedulikan biaya dan pengorbanan secara pribadi. Sebagaimana kesatuan pernikahan dalam kitab Kejadian merupakan gambaran dari kasih Allah, hubungan suami istri dalam Ef 5* merupakan gambaran Kristus dan gereja-Nya.
Kita bisa mengerti dengan lebih baik bagaimana suami hendaknya mengasihi istrinya ketika kita melihat Kristus mengasihi gereja-Nya. Dari Ef 5:21-22*, buatlah daftar tentang ciri khas dari kasih Kristus terhadap gereja-Nya. Kemudian, dari ayat-ayat yang sama, buatlah daftar yang menunjukkan tanggung jawab sang suami dalam mengasihi istrinya.
2. Pemeliharaan dan Perlindungan
Alkitab tidak mengistimewakan suami lebih dari istri. Peran suami berpusat pada tanggung jawab, dan menyediakan kebutuhan istrinya seperti yang disebutkan dalam Ef 5:28-29*. Suami dikatakan harus memberikan kepada istrinya perhatian yang sama seperti kepada tubuhnya sendiri. Hal ini termasuk menyediakan materi, makan dan kebahagiaan pada sang istri. Daftarlah kebutuhan yang dimiliki istri Anda; secara fisik, sosial budaya, emosi, dan rohani.
3. Penghargaan dan Penghormatan
" …  hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1Pet 3:7*). Para suami seharusnya tidak merendahkan, mengejek dan berbicara kasar terhadap istri di hadapan orang banyak. Baik secara pribadi maupun di hadapan umum, seorang suami harus menunjukkan hormat dan penghargaan kepada istrinya. Suami yang gagal untuk mengasihi dan memberikan perhatian terhadap istrinya, doanya akan terhalang.
4. Kepemimpinan
" …  Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." (Ef 5:23*). Alkitab tidak menekankan kekuasaan secara diktator, melainkan adanya kepemimpinan. Menjadi kepala keluarga tidak berhubungan dengan kelemahan atau kekuatan. Kepala keluarga adalah kedudukan pelayanan yang khusus supaya suatu pernikahan boleh berkembang dan bertumbuh. Sang suami memberikan contoh dari kehidupan Ilahi.
" …  pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;  …  Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yos 24:15*). Pelajarilah bagaimana Yosua memberikan kepemimpinan secara rohani kepada keluarganya. Kepemimpinan rohani termasuk memberikan nasihat dan petunjuk berdasarkan firman Allah. Sang suami memimpin dalam membuat keputusan di keluarga. Dia melibatkan istrinya dalam doa dan dalam usaha pencapaian persetujuan. Kepemimpinan adalah suatu tanggung jawab yang berat bagi seorang suami. Dia tidak bisa menanggungnya sendiri. Kunci untuk menjadi pemimpin di rumah disebutkan dalam: "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh."
5. Sukacita dan Berkat
Dari beratnya tanggung jawab yang dibebankan atas suami, sangat mungkin baginya untuk menyerah dan melupakan bahwa Allah bermaksud mengadakan pernikahan untuk kebaikan dan kesukaan. Ketika pernikahan dilaksanakan sesuai dengan rencana Allah - yaitu dengan kasih, perhatian, kelembutan, penghargaan dan penghormatan - upahnya adalah sukacita dan berkat-berkat. Bacalah 1Pet 3:8-12; Rom 12:17; 1Tes 5:15; 1Kor 4:12*. Seorang yang percaya harus memberi berkat supaya dapat menerima berkat dari Tuhan.
Seorang suami hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri:
1. Apakah kelebihan istri yang bisa saya puji?
2. Dengan cara apa saya bisa menjadi berkat bagi dia?
3. Dalam hal apa saya bisa berterima kasih kepada istri saya?
4. Dalam kehidupan istri saya, hal khusus apa yang harus saya doakan agar Tuhan memberkatinya?
Dengan suatu sikap dan tindakan yang menanggapi segala sesuatu sebagai berkat, maka "hari-hari yang baik dan hidup yang diberkati" bersama sang istri akan diberikan Tuhan kepada suami.

B. ISTRI DALAM PERNIKAHAN KRISTEN
Ayat Hafalan    : "Istri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya." Ams 31:10-12
1. Penolong dan Teman
Kej 2:18-23* menunjukkan kehendak Tuhan atas seorang istri, yaitu sebagai penolong dan teman. Istri akan menjadi teman, penghibur dan pelengkap bagi suaminya. Kerinduan istri haruslah untuk membangun dan mengungkapkan kepercayaan diri atas kemampuan suaminya, mendorong dan menunjukkan penghargaan pada suaminya, percaya pada kebijaksanaan dan menunjukkan penghormatan pada suaminya, menolong suami meraih segala keberhasilan, mendengarkannya dengan lembut dan mengagumi suami, berdiri di samping sang suami dalam keadaan apapun. Sang istri akan menolong suami merasa aman dengan mengasihinya.
2. Kerendahan Hati
Kerendahan hati adalah istilah Alkitab yang digunakan dalam semua hubungan. Saling merendahkan diri satu dengan yang lain adalah suatu sifat dalam kekristenan dan sebagai akibat dari kepenuhan Roh Kudus. Merendahkan diri adalah dengan sukarela mengangkat orang lain di atas diri Anda sendiri untuk melayaninya. Suami istri hendaknya saling merendahkan diri, saling mengangkat, dan saling melayani. Paulus memulai suatu diskusi tentang tanggung jawab pernikahan setelah dia menyatakan prinsip-prinsip umum tentang merendahkan diri. "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus" Ef 5:21*.
Di dalam hubungan pernikahan, kerendahan hati membuat dua pribadi bisa berfungsi sebagai satu tubuh, saling melengkapi dan bukannya saling bersaing. Ef 5:21-23* menunjukkan bagaimana Yesus telah menjadi model bagi tanggung jawab seorang suami atau istri. Yesus telah merendahkan diri dan taat kepada Bapa dan melepaskan segala hak yang Dia punya (Fil Ef 2:6*). Begitu juga, hendaknya sang istri taat dan merendahkan diri kepada suaminya. "Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." (Kol 3:18*).
Kerendahan hati yang sejati menurut Alkitab adalah merupakan kesukaan sang wanita yang kreatif yang berusaha menemukan bagaimana dia bisa menunjukkan kepada suaminya bahwa dia menghormati, mengagumi dan bergantung padanya. Ini berarti bahwa sang istri akan menjadi lebih tertarik kepada kebutuhan suami daripada kebutuhannya sendiri.
Ketaatan dan kerendahan hati sang istri pada suaminya bisa terlihat dengan baik ketika dia mendorong peran kepemimpinan sang suami dan tidak pernah berusaha untuk menghancurkan, memudarkan, dan melemahkan atau menguranginya.
3. Perhatian Terhadap Kecantikan dari Dalam
Dalam 1Pet 3:1-4*, Petrus mendorong istri untuk mengembangkan kecantikan dari dalam yang mencerminkan kewanitaan, kelembutan, perhatian dan kasih. Petrus tidak mengatakan pada para wanita bagaimana harus berpakaian. Dia hanya memberikan suatu prinsip: wanita yang cantik adalah seorang wanita yang mempunyai kecantikan hati yang berupa sikap yang murni dan hormat dan merupakan pancaran dari roh yang lembut dan tenang.
4. Merawat Seisi Rumahnya
Seorang istri hendaknya merawat seisi rumahnya. Dia mungkin memberikan perhatian sepenuhnya akan segala kegiatan di rumah atau dia mungkin juga bekerja di luar rumah. Lidia, Priskila dan Dorkas jelas bekerja di luar rumah. Jika sang istri bekerja di luar rumah, sangatlah penting untuk menjamin keseimbangan sehingga keluarganya tidak diabaikan. Hal ini berarti bahwa seluruh keluarga perlu untuk memutuskan pembagian tanggung jawab seisi rumah yang efektif. Dalam beberapa rumah tangga, mungkin ada yang memekerjakan pembantu. Perhatian istri yang utama bukanlah mendapatkan uang melainkan kesejahteraan suami dan anak-anaknya. Istri yang baik yang digambarkan dalam Ams 31:10-31*, sementara memberikan kasih dan perhatian kepada suami dan anak-anaknya, ia juga bisa mencari nafkah dan membantu orang yang memerlukan.
Berikut adalah sifat (karakter) dari seorang "istri yang baik":
a. Dia adalah pasangan yang bisa dipercaya dari suaminya.
b. Kesejahteraan suaminya menjadi perhatiannya.
c. Dia memelihara seisi rumahnya dengan makanan.
d. Dia memelihara seisi rumahnya dengan pakaian.
e. Dia mengajarkan hikmat dan kebaikan.
f. Dia murah hati kepada orang miskin dan yang memerlukan.
g. Dia seorang wanita bisnis yang baik.
h. Dia bisa meningkatkan reputasi suaminya.
i. Dia dihormati oleh suami dan anak-anaknya.
j. Dia berserah kepada Tuhan dan memberikan tempat pertama bagi-Nya.

C. BERTUMBUH DALAM MASALAH
Ayat Hafalan    : "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Ef 4:32*.
Pernikahan adalah suatu hubungan dimana dua pribadi bergabung menjadi satu. Karena tiap pribadi adalah unik, masing-masing mempunyai kehendak, kebutuhan dan cita-citanya sendiri, maka konflik tidak bisa dihindari. Tapi ini hal yang wajar, bahkan baik. Bagaimana tiap pasangan menanggapi konflik tersebut adalah hal yang lebih penting.
1. Pertentangan/Konflik
Kamus menjabarkan konflik sebagai "suatu perjuangan, pertentangan, benturan, ketidakcocokan, dan kehendak yang bertolak belakang." Pertentangan dapat menjadikan hubungan pernikahan bertumbuh atau justru bisa menjadikannya menyakitkan, tidak terselesaikan, dan menghancurkan. Banyak orang Kristen yang menghadapi masalah secara tertutup sebab tidak ada yang mengajarkan kepada mereka cara-cara efektif untuk mengatasinya.
2. Apakah yang Menyebabkan Pertentangan?
Bacalah Yak 4:1-3*. Sebelum menikah, masing-masing pribadi sudah hidup sendiri-sendiri selama lebih dari dua puluh tahun. Selama jangka waktu itu, masing-masing pribadi sudah memiliki selera, pilihan, kebiasaan, kesenangan dan ketidaksenangan, nilai-nilai dan standar sendiri-sendiri. Persatuan dalam pernikahan tidak membuang semua perbedaan-perbedaan ini. Mereka tidak harus meluangkan waktu, dan melakukan segala sesuatu bersama-sama. Di sinilah setiap pasangan akan memunyai perbedaan pendapat atau pilihan dan inilah yang menyebabkan munculnya berbagai ketidakcocokan.
3. Tanggapan Terhadap Pertentangan
Orang-orang menanggapi konflik/pertentangan dengan cara yang berbeda.
a. Ada orang yang memilih untuk menyendiri. Mereka bisa secara fisik meninggalkan ruangan atau tempat pertentangan. Mereka menyendiri secara jiwa dengan tidak berbicara, dan mengabaikan pasangannya, atau menutup diri sehingga tidak ada perkataan atau perbuatan yang dilakukan bersama.
b. Ada orang yang merasa mereka harus menang, tidak peduli berapapun "harganya". Karena tiap pribadi mengetahui kelemahan dan luka yang dimiliki pasangannya, maka mereka sering menggunakannya untuk memaksa pasangannya menyerah. "Si pemenang" mungkin menyerang harga diri atau keadaan pasangannya supaya menang.
c. Ada orang yang mau mengalah agar berbaikan kembali dengan pasangan mereka. Mereka menyembunyikan kemarahan dan membiarkannya tetap tersimpan. Kepahitan dan luka hati masih ada namun tetap melanjutkan hidup bersama sehingga masalah yang sebenarnya tetap tak terselesaikan.
d. Ada orang yang bisa berkompromi, atau memberikan sedikit dan mendapatkan sedikit. Kadang-kadang kompromi penting. Namun, menggunakan cara ini agar mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri adalah tanggapan yang kurang baik terhadap suatu konflik.
e. Ada orang yang bersedia meluangkan waktu untuk berkomunikasi secara langsung dan terbuka sehingga beberapa keinginan atau ide-ide bisa dipadukan. Mereka puas dengan jalan keluar yang sudah mereka setujui. Mereka telah menyelesaikan pertentangan tersebut dengan baik. Bacalah Ef 4:29-32.
4. Hubungan Secara Pribadi dalam Pernikahan
Bacalah Mat 18:15-17*. Bagaimana menerapkan ayat-ayat ini dalam pernikahan? Pengajaran dari firman ini adalah, jangan masuk dalam situasi yang mana menimbulkan kerusakan hubungan pribadi, tapi kerjakan yang perlu untuk memperbaiki hubungan yang rusak (perdamaian). Perhatikanlah beberapa tindakan dan urutan sebagai berikut:
a. Saudara dengan saudara sebagai pribadi-pribadi yang setara.
b. Jika timbul masalah maka segera harus ditangani.
c. Penyelesaian perlu bersifat pribadi - muka dengan muka.
d. Jika pertemuan secara pribadi gagal, bawalah dua atau tiga saksi yang mempunyai kehidupan rohani yang baik. Tujuannya bukan untuk mencari yang salah atau yang benar. Juga bukan untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menyerang seseorang, melainkan untuk mendengarkan dari dua pihak sehingga terjadi pendamaian. Membicarakan masalah dengan kehadiran beberapa orang Kristen yang bijaksana, baik dan murah hati dapat menciptakan suasana yang baru dalam melihat masalah yang ada.
e. Jika hal ini masih tetap gagal, bawalah ke dalam persekutuan di gereja. Ini bukan untuk membuka masalah di muka umum. Pesekutuan merupakan lingkungan dimana doa, kasih dan hubungan indah secara pribadi dijunjung tinggi. Jelas bahwa Kristus menghendaki perdamaian dan bukan penghakiman.
f. Jika usaha ini gagal, orang tersebut adalah seperti bangsa kafir atau pemungut cukai. Namun bukan berarti ia harus dikucilkan dan dianggap tidak ada harapan untuk disatukan lagi. Tuhan Yesus tidak pernah membatasi pengampunan terhadap umat manusia. Bacalah Mat 18:21-35*. Ini adalah tantangan untuk memenangkan orang dengan kasih bahkan untuk hati yang paling keras sekalipun. Persekutuan dalam gereja harus mampu menyatukan kembali pribadi-pribadi untuk masuk dalam proses pendamaian.
5. Langkah-langkah dalam Menangani Pertentangan/Konflik
a. Langkah pertama dalam menangani masalah adalah memulai proses pendamaian.
Meninggalkan atau mengabaikan masalah dengan harapan masalah itu akan pergi dengan sendirinya tidak akan menyelesaikan masalah. Jagalah supaya hubungan tetap hidup. "Jagalah kesatuan …  Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera." (Ef 4:1-3*). Janganlah menunggu sampai pasangan Anda yang memulai proses pendamaian tersebut. Pakailah bahasa yang tidak mengancam atau menghakimi, seperti:
1. "Dapatkah kita berbicara tentang  … "
2. "Apakah ini sesuatu yang bisa kita rundingkan?"
3. "Saya sungguh merasa putus asa tentang  … "
4. "Saya kuatir tentang  … "
5. "Saya akan tidak bahagia jika  … "
6. "Saya tidak mengerti mengapa  … "
b. Ketidakcocokan sebagai salah satu bagian dari keseluruhan masalah.
Bacalah Fil Ef 2:1-8*.
Ketika masing-masing pasangan merasa lebih berkuasa dari pada yang lain, maka masalah tidak akan pernah bisa diselesaikan. Satu pihak tidak bisa lebih banyak berpikir, berbicara atau menguasai yang lain dalam menyatakan pikiran atas situasi yang sedang terjadi. Diskusi harus terbuka sehingga tiap pihak bisa menyumbangkan idenya secara seimbang dan dihargai untuk menemukan jalan keluar yang menguntungkan.
c. Tukarlah posisi.
Rela melihat situasi yang terjadi menurut pendapat pasangan kita akan menolong memberi pengertian bagaimana hal itu mempengaruhi pernikahan. Masalahnya akan bisa diselesaikan jika mereka memiliki sikap lemah lembut dan saling menghargai perasaan orang lain. Bacalah Kol 3:12-17*.
d. Tanganilah masalah satu persatu.
Kadang-kadang salah satu pihak mencoba mengalihkan tanggung jawab dengan menyebutkan masalah yang lain atau menyalahkan pasangan mereka. Fokuskan untuk menangani masalah yang ada. Jangan mencoba menyelesaikan masalah-masalah lain, baik yang ada hubungannya atau tidak. Anda bisa menanggapinya dengan mengatakan, "Anda mungkin benar tentang hal itu, tetapi sekarang ini kita sedang membicarakan tentang  … "
e. Seranglah masalahnya dan jangan orangnya.
Terlalu banyak pasangan yang saling menyerang dengan sindiran-sindiran, penghinaan dan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan.
1. "Kamu selalu  … ";
2. "Kamu tidak pernah  … " atau;
3. "Kenapa kamu tidak bisa  … ";
Kalimat di atas berarti Anda sedang menyerang orangnya. "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Mat 7:2; Rom 2:1*). Pelajarilah bagaimana memberitahu pasangan Anda tentang perasaan Anda. Jangan melempar sebuah batu pada mereka.
f. Minta pertolongan dari para pembawa damai yang penuh roh.
Allah sudah menempatkan orang-orang dalam persekutuan di gereja yang memiliki karunia sebagai pembawa damai. Sang pembawa damai hendaknya seseorang yang tidak mudah dipengaruhi dan adil, dan dapat melihat kedua sisi. Sang pembawa damai dapat menurunkan nada-nada yang merusak komunikasi dan menolong kedua pasangan untuk menuju pada perdamaian.
g. Maafkan dengan segenap hati.
Kalau Anda sudah menerima Kristus sebagai Juru Selamat, Anda sudah mengalami pengampunan yang dari Allah. Kemudian Anda pun mempunyai kemampuan untuk mengampuni diri sendiri dan orang lain (Kol 2:13; Kol 3:13*). Bacalah 1Pet 2:21-24*. Pengampunan terjadi jika kasih rela menerima luka dan kesengsaraan hidup dan mengabaikan semua tuduhan terhadap yang lain. Pengampunan adalah menerima orang lain ketika dia sudah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pengampunan bukanlah menerima dengan syarat bahwa orang yang diampuni itu harus melakukan sesuai kehendak kita. Pengampunan diberikan secara cuma-cuma, dengan kesadaran bahwa si pemberi maaf tersebut juga mendapatkan maaf secara terus-menerus. Pengampunan adalah suatu hubungan antara dua pribadi yang setara yang menyadari bahwa mereka saling memerlukan. Tiap orang memerlukan pengampunan dari yang lain. Tiap orang perlu untuk diterima oleh yang lain. Tiap orang perlu orang lain. Demikian juga, di hadapan Allah, setiap orang menghentikan tuduhan, menolak semua penghakiman secara sepihak, dan mengampuni. Mengampuni sebanyak "tujuh puluh kali tujuh" seperti yang dikatakan Yesus dalam Mat 18:21-22*.

DOA
"Ya Allah, terima kasih untuk suami (istri) yang Engkau berikan kepadaku. Tumbuhkan dalam hati kami masing-masing kasih sejati yang dari pada-Mu supaya ketika kami mengalami konflik kami bisa terus belajar untuk saling mengasihi dan mengampuni. Amin"

PERTANYAAN A:
1. Gambaran apakah yang diberikan Paulus dalam Kol 3:19*, untuk menjelaskan hubungan antara suami istri?
2. Apakah peran suami dalam sebuah rumah tangga?
3. Prinsip penting apakah yang harus dijalankan suami dalam memimpin keluarganya?
4. Apakah upah dari seorang suami yang mentaati rencana Tuhan atas keluarganya?
5. Apakah peran "penolong" dari seorang istri kepada suaminya?
6. Mengapa sikap kerendahan hati perlu ditekankan bagi seorang istri?
7. Apakah yang harus diperhatikan jika istri memiliki pekerjaan di  luar rumah?
8. Mengapa konflik dalam keluarga adalah sesuatu yang tidak dapat  dihindari?
9. Sebutkan cara-cara menangani pertentangan yang negatif dalam  keluarga.
10. Bagaimana menangani suatu konflik dengan baik?
PERTANYAAN B:
1. Bagaimana mengatasi konflik yang disebabkan karena istri terlalu  dominan dalam mengatur keluarga?
2. Mengapa perceraian sering diambil sebagai jalan keluar bagi  keluarga yang terus menerus mengalami konflik? Apa saran lain  yang lebih baik?

Referensi 4a diambil dari:
Judul Buletin : TELAGA
Judul Artikel : Menjadi Sahabat Bagi Istri
Penulis  : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph. D.
Penerbit : Literatur SAAT, Malang, 2004
Halaman  : 5  —  17

MENJADI SAHABAT BAGI ISTRI
Persahabatan tidak bisa dijalin secara sepihak. Walaupun istri mau bersahabat namun bila suaminya menolak tentu tidak terjadi persahabatan. Sebenarnya banyak suami yang sungguh-sungguh mau menjadi sahabat buat istrinya, namun belum tahu apa yang harus dia lakukan. Jadi saya rasa pembahasan ini pasti akan menjadi berkat bagi kita sekalian.
Sering kali wanita maupun pria melihat satu sama lain sebagai makhluk yang asing, makhluk yang tidak bisa dia pahami. Dalam hal-hal tertentu masing-masing bisa memahami pasangannya, tapi untuk waktu-waktu yang lain, suami terkadang menganggap cara pikir istri begitu lain, dan aneh. Sebaliknya, istri berprasangka suami berpikiran begitu aneh, mengapa dia sampai bisa berpikir seperti itu. Maka saya setuju dengan komentar, bahwa ada suami atau istri yang sebetulnya berupaya dengan tulus untuk mengerti pasangannya, tapi mengalami kesulitan.
ENAM PRINSIP YANG DAPAT MENJADI BERKAT BAGI RUMAH TANGGA
1. Seorang suami perlu mengerti bahwa wanita sangat dipengaruhi oleh suasana hati dan gejolak hormonalnya.
Wanita memang mudah dipengaruhi secara emosional, jadi apa yang terjadi di luar akan menggugah emosinya dan waktu emosi itu sudah tergugah, maka emosi akan berperan sangat besar dalam pertimbangannya, dalam persepsinya, dan dalam bagaimana dia bereaksi terhadap apa yang sedang terjadi. Wanita juga dipengaruhi oleh gejolak hormonalnya, setiap bulan wanita harus melewati menstruasi atau datangnya haid. Pada masa ini akan terjadi perubahan hormonal dan akan membawa perubahan dalam emosinya. Pria tidak harus mengalami gejolak hormonal seperti ini. Setiap bulan pria itu melewati hari-harinya dengan sama, tapi wanita tidak sama. Ada hal-hal yang membuat wanita mudah terpancing dengan amarah, mudah bereaksi dengan kesedihan sedangkan pria tidak. Kadang kala pria salah sangka dan menganggap wanita tidak stabil. Sebetulnya bukan tidak stabil, dalam pengertian adanya kelemahan, tapi memang wanita sangat dipengaruhi oleh suasana hatinya dan gejolak hormonalnya. Jadi yang harus dilakukan oleh seorang pria adalah perlu memperhatikan bahasa tubuh istri kita, artinya perhatikan gerak-geriknya, wajahnya, sikapnya, apakah mulai berubah. Sebab seharusnya hal ini terlihat dengan jelas, waktu pria melihat bahwa istrinya mulai berubah, berarti ada yang mengganggunya. Kita harus menyesuaikan tindakan, sikap, atau kata-kata kita pada saat itu. Jangan sampai kita seperti orang yang tidak bijaksana, apapun perubahan yang terjadi pada diri istri kita tetap kita labrak, tetap kita katakan yang mau kita katakan, tanpa memilih waktunya atau memilih kata-katanya. Suami yang bijaksana ialah suami yang bisa melihat gerak-gerik istrinya dan mengetahui bahwa si istri dalam perasaan tertentu atau suasana hati tertentu.
Dalam kondisi emosi tidak stabil, yang paling penting adalah suami tidak membalasnya. Kalau istri mulai beremosi dan suami membalasnya, emosi disulut oleh emosi akan memperburuk keadaan. Juga jangan mendiamkannya, ada suami yang akhirnya karena takut, mendiamkan, justru tidak mau mengajak si istri berbicara. Itu juga salah. Yang harus dilakukannya adalah tetap berbicara seperti biasa tapi lebih peka, nada suara jangan terlalu dinaikkan, gunakan kata-kata yang lebih lembut. Dengan kata lain, kita mencoba mengontrol suasana di luar agar kondusif, dan bisa lebih reda. Misalkan masih ada piring-piring menumpuk yang harus dicuci, dan si suami melihat istri mulai tegang, tawarkanlah diri untuk mencuci piring-piring tersebut. Atau ketika anak perlu perhatian, istri mulai merasa tegang, suami bisa berkata, "Apa bisa saya bantu, saya saja yang mengajak anak malam ini." Gerakan atau upaya suami untuk menolong istri akan menciptakan suasana yang teduh, yang dapat membawa istri untuk lebih tenang.
2. Yang perlu dipahami oleh seorang suami, bahwa istri atau wanita membutuhkan sentuhan fisik agar membuatnya merasa dikasihi.
Saya tahu ada wanita yang tidak terlalu membutuhkan, tapi umumnya wanita membutuhkan sentuhan fisik. Sentuhan bukan berarti dipegang-pegang, sentuhan berarti sentuhan yang lembut, yang sangat  sederhana tapi mengkomunikasikan perasaan cinta suami kepada istri. Saran saya, jangan hanya menyentuh si istri waktu berhubungan seksual. Bila kita hanya menyentuh istri pada waktu berhubungan seksual, tidak bisa tidak istri akan merasa dipakai. Jadi jangan sampai melakukannya hanya pada saat itu saja, sentuhlah dia dalam suasana yang jauh lebih santai, ketika mau pergi, sedang lewat, sedang berpapasan, peganglah tangannya, sentuhlah pundaknya atau sedikit memegang tubuhnya. Hal ini membuat istri merasa bahwa suami bersama dengan dia dan dia tidak sendiri. Bagi seorang wanita, memiliki perasaan bersama atau kebersamaan adalah perasaan yang penting. Waktu berjalan suami tidak berjalan sendirian tapi berusaha memegangnya atau menyentuhnya. Ini membuat ia merasa adanya kontak yang membuat ia merasa dikasihi dan bersama-sama, ini hal-hal kecil yang bagi pria memang tidak ada artinya tapi berarti besar bagi seorang wanita. Perempuan menghargai sentuhan-sentuhan kecil seperti itu dan sama sekali tidak berarti kekanak-kanakan atau manja.
Mengapa kadang-kadang pria merasa canggung, justru setelah dia menjadi suami bagi wanita yang sekarang jadi istrinya? Waktu berpacaran rasanya tidak ada kecanggungan untuk memegang pundaknya, dan memegang tangannya ketika berjalan. Tapi setelah menjadi suami-istri sekian tahun lalu pria canggung. Saya kira ada beberapa penyebabnya:
a. Pada masa berpacaran tentunya sentuhan adalah sesuatu yang juga dinikmati oleh pria, karena sesuatu yang baru biasanya memang menyenangkan. Lama kelamaan dia akan terbiasa, dan waktu sudah terbiasa si pria tidak lagi merasakan gunanya. Sentuhan bagi seorang pria kebanyakan hanya bermakna sentuhan fisik, tapi bagi seorang wanita, sentuhan berarti suatu pengkomunikasian cinta. Jadi sangat bersifat dalam dan emosional. Dengan kata lain bagi pria, dia sudah berkali-kali menyentuhnya, ya sudahlah, hilanglah daya tariknya atau maknanya tapi tidak demikian dengan wanita.
b. Penyebab kedua adalah karena pria biasanya berorientasi pada target. Dia tahu bahwa wanita senang dipegang, disentuh dan dipeluk. Pada masa berpacaran dia seperti sedang mencoba mendapatkan targetnya, yaitu si calon istri. Setelah mendapatkan, dia merasa tidak perlu lagi mengeluarkan banyak energi untuk menyentuhnya seperti itu, karena sudah mendapat targetnya. Sebenarnya itu harus dipelihara, jangan sampai pria melupakan, bahwa setelah mendapat target, sudah boleh disia-siakan.
3. Dalam hal komunikasi suami-istri, supaya suami bisa menjadi sahabat bagi istrinya ia perlu mengerti bahwa wanita senang diajak berbicara karena hal ini membuatnya merasa penting dalam kehidupan si pria.
Jadi bagi wanita tidak penting dia dilihat orang seperti apa, tetapi dia ingin kepastian bahwa bagi suaminya, dia adalah orang yang penting. Waktu dia merasa tidak penting bagi hidup suami, itu hal yang mencemaskan dan sangat menakutkannya. Saran saya, pilih waktu yang santai sekurangnya seminggu sekali untuk berbincang-bincang dengan lumayan panjang, kalau bisa lebih banyak. Tapi misalnya kalau sibuk sekali, sediakan waktu seminggu sekali untuk bisa pergi berdua dan bisa ngobrol-ngobrol dengan bebas tanpa anak, tanpa orang lain. Atau misalnya seorang suami berkata, "O …  saya tidak pandai bicara, bagaimana ini?" Saya sarankan kalau tidak bisa berbicara banyak, ajukan pertanyaan. Tanyakan tentang kegiatannya hari itu, tentang anak-anak hari ini dan hal-hal rutin lainnya. Saya berikan contoh yang sedikit memalukan saya. Beberapa waktu yang lalu saya mulai bertanya kepada istri saya, "Apa kabar kamu hari ini?" Waktu saya bertanya, saya kaget ternyata bertahun-tahun saya tidak pernah menanyakan itu. Saya menganggap sudah tahu bagaimana keadaannya setiap hari, ya sudah tidak perlu ditanya lagi. Tapi waktu saya bertanya, saya diingatkan bahwa ini adalah pertanyaan yang menyenangkan dia. Biasanya waktu saya tanyakan itu, dia bercerita tadi begini, tadi begitu, tadi si anak begini, tadi si itu begitu. Yang dibutuhkan oleh istri adalah jalinan kontak. Waktu dia bisa berbicara dengan suaminya, dia merasa tidak tertinggal, tidak dikeluarkan dari kehidupan suaminya, dia tetap bersama suaminya sehingga ada kontak-kontak emosional. Wanita sangat mendambakan jalinan atau kontak-kontak emosional seperti ini.
Bisa juga meluangkan waktu pada saat jalan pagi atau sore sesudah makan, di halaman atau di ruang tamu berbincang-bincang, ini memang harapan setiap istri.
Bila mau dilakukan, ternyata tidak terlalu susah, jalan pagi bersama-sama atau berduaan sore-sore, atau ngobrol-ngobrol berdua. Itu nantinya bisa menjadi kebiasaan. Dan saya melihat akhirnya waktu suami bisa memberikan meskipun tidak banyak waktu seperti itu, hasil yang dia akan petik justru sangat besar. Si istri merasa disayangi dan akan membalas dengan lebih banyak cinta kasih kepada suaminya.
4. Seorang suami perlu mengerti bahwa wanita sangat dipengaruhi oleh emosi sesaat dan mudah kehilangan keseimbangan rasional.
Kadang kala istri akan mencetuskan kata-kata "aku tidak suka denganmu," hati-hati agar pria tidak menginterpretasi kata-kata ini secara kaku. Waktu wanita berkata demikian umumnya itu adalah emosinya yang sesaat dan kita perlu ketahui bahwa cetusan emosi tidak sama dengan isi hati. Pria berbeda, pada umumnya pria baru mengeluarkan kata-kata yang negatif atau menyakitkan setelah dia merasakan itu untuk waktu yang lama, kalau wanita tidak. Jadi sebaliknya kepada para wanita, sebisanya hati-hati dengan kata-kata itu, sebab pria cenderung menafsir kata-kata itu secara permanen, selama-lamanya engkau tidak suka denganku. Misalnya dalam hubungan seksual, waktu si istri tidak bersedia mungkin sang suami berpikir engkau tidak suka dan kalau engkau tidak suka berarti selama-lamanya engkau tidak suka.
a. Pria perlu menyadari wanita dipengaruhi oleh emosi sesaat, dan yang sesaat tidak berarti selama-lamanya.
b. Yang lainnya lagi yang harus dilakukan oleh pria adalah menoleransi ketidakkonsistenan dan subjektifitas istrinya. Memang istri mungkin akan berkata begini hari ini dan besok lain lagi, atau berpandangan cukup subjektif dan kurang melihat secara objektif. Suami seharusnya tidak mempermasalahkan hal itu. Jangan menyerang istri dan berkata "engkau tidak konsisten," "engkau terlalu subjektif". Hadapi dan beritahukan saja apa yang menurut pria ini seharusnya dipikirkan atau dilakukan, tanpa harus menyerang bahwa istri ini terlalu apa atau bagaimana. Sebab memang begitulah adanya.
c. Bila ada konflik, berilah penjelasan setelah emosi wanita reda, namun sewaktu emosinya belum mereda, tidak berarti si pria harus meninggalkan istri, itu lebih memancing kemarahan. Biarkan duduk sama-sama, dengarkan dulu sampai dia sudah tenang, kemudian disambung lagi. Atau si pria bisa berkata, "Saya rasa tidak bisa kita teruskan sekarang, kita tunda dulu, nanti kita lanjutkan." Nanti setelah dia tenang, suami akan bisa berbicara dengan lebih logis. Jadi intinya jangan membalas emosi dengan emosi karena emosi mudah tersulut oleh emosi yang lainnya.
5. Berikutnya adalah tentang bertanya.
Ini sering kali mengganggu bila wanita suka bertanya dan pria menganggap, wanita ingin menguasainya, mengatur hidupnya atau mempertanyakan keputusannya. Pria perlu mengerti bahwa umumnya pada saat wanita bertanya, ia ingin bicara dan kalau tidak hanya ingin bicara, biasanya dia memang sungguh-sungguh tidak begitu mengerti dan ingin mendapatkan penjelasan dari pria. Jadi jarang wanita yang sungguh-sungguh berminat atau berambisi untuk menguasai suaminya, kebanyakan hanya untuk bertanya karena tidak tahu atau hanya untuk ngobrol. Atau agar bisa terjadi percakapan, maka dia bertanya. Saran saya adalah jangan mudah merasa defensif, marah, apalagi tersinggung karena si istri bertanya, jawab seadanya. Dan kalau tidak sempat menjawab, kita    bisa menjanjikan kesempatan yang lain, kita bisa berkata sekarang aku lagi sibuk, sekarang aku lagi mengerjakan ini bagaimana nanti aku akan berikan jawabannya. Janjikanlah kesempatan lain dan penuhi janji itu.
Mungkin saja pertanyaan itu merupakan kebutuhan istri untuk memberikan rasa aman pada dirinya, cintanya berkali-kali ditanyakan, "kamu cinta saya?" Padahal dia tahu kalau dia masih atau tetap dikasihi. Tadi kita sudah singgung bahwa wanita bersikap sangat subjektif dan dipengaruhi oleh emosi sesaat, bahwa sesuatu itu tidak bisa langsung dianggap permanen. Jadi bagi seorang wanita hari ini dia tahu dia dikasihi, besok dia ingin diberikan jaminan lagi bahwa dia dikasihi. Kalau pria tidak perlu, dia tahu si istri mencintainya dan itu berlaku untuk selamanya. Berbeda dengan wanita yang memerlukan peneguhan ulang. Sebab wanita dipengaruhi oleh emosi sesaat. Waktu dia melihat suaminya agak sedikit repot, tidak begitu banyak ngomong dengan dia hari ini, itu sudah membuat wanita merasa berbeda, ada yang tidak sama antara kemarin dan sekarang. Berarti dia harus tahu, apakah perasaan suami tetap sama atau jangan-jangan ada apa-apa dengan dia. Dia mau memastikan sehingga ia harus bertanya.
Ada kemungkinan istri dipengaruhi oleh kebiasaan laki-laki suka menyeleweng, karena hal ini sering terjadi. Boleh dikatakan, ketakutan ini menghantui semua istri, jadi untuk berjaga-jaga jangan sampai kecolongan, maka wanita akhirnya bertanya-tanya. Kadang-kadang yang sering kali terjadi adalah istri menceritakan satu hal yang sama berulang-ulang. Sekali lagi, bagi wanita, berbicara adalah hal yang memang merupakan kebutuhannya. Jadi isinya, berapa rasionalnya, berapa pentingnya itu memang nomor dua. Yang penting terjadinya percakapan, itu adalah tujuan akhirnya. Kalau pria berbicara biasanya untuk tujuan tertentu demi mencapai target. Kalau wanita tidak, bicara itu sendiri adalah targetnya.
6. Pria perlu mengerti bahwa wanita melihat dunianya secara personal atau pribadi dan wanita ingin dinilai baik.
Pada dasarnya pria ingin dinilai sanggup atau mampu, wanita ingin dinilai baik. Maksudnya begini:
a. Jangan mengkritik wanita secara langsung apalagi kasar, karena wanita memang bersifat personal. Mudah sekali sesuatu itu ditafsirkan sebagai serangan terhadap dirinya bahwa ada yang tidak baik tentang dirinya, bahwa dia bukan orang yang baik, tidak layak, atau ada yang cacat, itu sangat mudah melukai hati wanita. Jadi kritiklah dengan sangat hati-hati, karena bila langsung menghujamkan kritikan, kebanyakan akan berdampak negatif.
b. Jangan membandingkan istri dengan orang lain, karena biasanya  akan memancing kemarahan, sebab wanita bersifat pribadi dan berorientasi secara personal. Jadi waktu dibanding-bandingkan, dia merasa dirinya jelek dan ada orang yang lebih bagus dan dia dipermalukan karena orang lain yang dibandingkan lebih bagus daripadanya. Jadi hati-hati, jangan membandingkan bahkan dengan ibu atau saudara sendiri sekalipun.
c. Bila suami ada ketidakpuasan, ungkapkanlah ketidakpuasan itu dengan lemah lembut dan yakinkanlah bahwa ini demi kebaikan relasi kita berdua. Kalau pria perlu diyakinkan, ini untuk kebaikan si pria, kalau wanita tidak. Wanita lebih peduli kalau dikatakan bahwa ini untuk kebaikan relasi kita berdua sebab sekali lag; bagi wanita kebersamaan itu sangatlah penting, jadi bila dia tahu ini untuk kebaikan suami-istri, dia akan lebih peka waktu mendengarkannya.
Walaupun di sini tidak mengungkapkan sedikit pun tentang seks, sebenarnya tetap ada pengaruhnya. Suami yang menginginkan seks pada istri biasanya tetap membuat istri penting, menarik, tetap bergairah atau menggairahkan. Waktu suami tidak mau lagi berhubungan dan tidak lagi meminta, cenderung membuat istri merasa dia sudah tidak lagi menggairahkan suaminya. Dan ini bisa menjadi kerikil. Namun kalau suami bisa memberikan hubungan seksual itu dengan teratur meskipun tidak terlalu sering biasanya itu sudah sangat memuaskan bagi istri, sebab memang kebutuhan seksual pria dan wanita tidak sama. Bagi wanita kebutuhan emosional berada di atas kebutuhan seksual, bagi pria pada umumnya kebutuhan seksual berada di atas kebutuhan emosionalnya.
Dalam Ef 5:28* ada nasihat: "Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri."
Firman Tuhan dengan jelas meminta suami untuk mengasihi istrinya dan siapa yang mengasihi istri, dia adalah sahabat istri. Enam hal yang telah kita bahas di atas merupakan contoh-contoh konkret bagaimana suami bisa mengasihi istrinya. Misalkan dengan sentuhan, kata-kata yang lembut, mengerti bahwa dia memang cenderung subjektif dan sebagainya. Itu adalah wujud cinta kasih dan waktu suami memberikan semuanya itu, istri melihat bahwa suami mengasihinya dan dia menganggap suami sebagai sahabatnya, berada di pihaknya.
Hal ini akan menjadi contoh buat anak-anaknya sehingga mereka juga mencintai ibunya. Juga bila suami suka menyentuh dan merangkul, anak juga suka melakukan hal yang sama pada ibunya. Jadi anak-anak akan belajar banyak dari perilaku kita, waktu dia melihat hal-hal yang baik dia juga akan mengikutinya. Dan itu adalah investasi yang bagus bagi si anak karena nanti dia akan memberikan itu kepada istrinya pula.
Hanya dengan persahabatan yang kokoh di mana Tuhan yang menjadi pemersatunya, keluarga-keluarga saat ini akan dapat bertahan di tengah-tengah gempuran pencobaan dan tantangan zaman.

Referensi 4b diambil dari:
Judul Buletin : TELAGA
Judul Artikel : Menjadi Sahabat Bagi Suami
Penulis  : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph. D.
Penerbit : Literatur SAAT, Malang, 2004
Halaman  : 5  —  18

MENJADI SAHABAT BAGI SUAMI
Pembahasan kali ini terutama diarahkan kepada para ibu atau istri. Ibu-ibu juga dituntut menjadi sahabat buat anak, maka pengertian menjadi sahabat buat suami secara umum perlu dijelaskan terlebih dahulu. Sahabat adalah:
1. Seseorang yang pertama-tama akan mendampingi.
2. Seseorang yang akan bisa melengkapi.
Tuhan memberikan peranan khusus kepada istri seperti dalam kitab Kejadian, bahwa istri itu menjadi seorang penolong yang sepadan bagi suaminya. Memang di Alkitab tidak dijabarkan apa maksudnya penolong, tapi melalui realitas sehari-hari kita bisa menimba dan menyimpulkan beberapa hal yang bermanfaat bagi para istri.
Jadi kita akan melihat dua arti sahabat ini dalam kelima hal yang bisa dilakukan seorang istri buat suaminya. Hal utama yang mendasari kelima hal yang akan dibahas lebih lanjut adalah:
Seorang istri harus mengerti suaminya, karena seorang suami pada umumnya memiliki keunikan-keunikan yang membedakan dia dari seorang wanita. Seorang istri perlu mengerti bahwa pria menghormati wanita yang stabil emosinya. Bagi pria ketidakstabilan emosi diidentikkan dengan kelemahan kepribadian. Apalagi kita hidup dalam dunia yang menuntut kestabilan emosi, menuntut rasionalitas, menuntut subjektifitas, yang menuntut seorang pria mengedepankan rasionya dan menempatkan emosinya di belakang. Maka di dunia pria, seorang yang terlalu dikuasai oleh emosi cenderung dijauhi dan tidak ditoleransi oleh sesama pria, bahkan bagi banyak pria seseorang yang menunjukkan emosi yang terlalu kuat menjadi seseorang yang menakutkan. Sehingga reaksi pria pada umumnya adalah tidak mau dekat-dekat dengan sesama pria yang beremosi terlalu kuat. Saya kira persepsi atau standar ini dibawa oleh pria ke dalam rumah tangganya, sehingga pada umumnya pria akan berkeberatan kalau istrinya terlalu beremosi.
Padahal seorang wanita pada pembawaan dasarnya memang emosional. Jadi perlu ada usaha dari kedua belah pihak untuk menyesuaikan diri.
1. Wanita perlu mengupayakan mengontrol emosinya, waktu berbicara.
Ini tidak berarti wanita sama sekali tidak boleh menunjukkan perasaan atau emosinya yang kuat. Namun yang lebih penting adalah waktu menunjukkan emosi, istri juga berusaha mengemukakan alasan-alasannya yang seharusnya bersifat logis atau rasional. Jadi ucapan-ucapan seperti, "pokoknya aku merasa begini atau aku melihatnya begini," itu adalah pernyataan yang sukar diterima oleh seorang pria. Maka sewaktu wanita mengemukakan argumennya dia perlu mengemukakannya dengan rasional dan sebisanya mengontrol emosi, sehingga tidak terlalu meledak-ledak atau meluap-luap. Sebab pada umumnya pria akan menjauhi wanita yang beremosi tinggi.
Waktu seorang wanita ingin menyampaikan permintaannya dia harus membahasakannya dengan tepat. Pria peka dengan yang namanya tuntutan. Jadi sebaiknya waktu wanita minta sesuatu, dia memintanya dengan cara yang halus dan sopan karena pria cenderung bereaksi terhadap yang namanya tuntutan. Sampaikan permintaan itu dengan lemah-lembut dan harus konkret, ada hal-hal yang bagi wanita sangat mudah dicerna, contohnya adalah kasih. Wanita bisa meminta kepada pria "tolong kasihi aku," tapi bagi pria kata ‘kasihi aku’ adalah kata yang sangat abstrak, pria kurang mengerti hal yang seperti itu. Misalnya lagi aku membutuhkan engkau di rumah, bagi seorang pria membutuhkan engkau di rumah artinya diam di rumah. Tapi bisa jadi yang diminta oleh wanita bukan secara fisik berada di situ, tapi yang dibutuhkan oleh istri misalnya membantunya untuk menangani pelajaran anak, membantunya memasak atau bersama-sama berbicara, berbincang-bincang dan sebagainya. Itu yang dimaksud oleh wanita dengan "aku meminta engkau untuk sering di rumah". Jadi hal seperti ini perlu dikonkretkan, pria tidak begitu bisa memahami isi hati wanita yang baginya abstrak, oleh, karena itu penting bagi seorang pria mendapatkan penjelasan-penjelasan yang konkret.
Sering kali pria menjauhi wanita yang beremosi tinggi. Kenyataannya kalau istri itu terlalu emosional, pria sering kali menjauhi, rasanya tidak suka dengan istri yang emosi. Pada masa berpacaran, wanita mungkin berpikir "O …  pacarku tidak berkeberatan," padahal dalam kenyataannya dia berkeberatan. Namun karena pada masa berpacaran frekuensi pertemuan itu tidak intensif atau tidak bertemu setiap jam, pria tidak terlalu merasa dampaknya. Namun setelah dia serumah dan mulai melihat emosi wanita yang turun-naik, kecenderungannya adalah pria itu akan melarikan diri. Dia tidak sanggup menghadapi emosi yang begitu kuat, jadi daripada menghadapinya dan kewalahan, akhirnya ia menghindar. Ini sering kali menjadi pola dalam masalah-masalah pernikahan, di mana pria akhirnya menghindar dan wanita mengejar. Mengejar agar pria itu menemani dia, sabar menunggu dan menghadapi emosinya, si pria tidak bersedia, dan kebanyakan pria akan melarikan diri.
2. Seorang istri perlu mengerti bahwa pria tidak siap menghadapi dan tidak menyukai kejutan.
Yang dimaksud dengan kejutan di sini adalah perubahan mendadak dari sesuatu yang sudah rutin. Memang tidak semua pria seperti ini, namun pada umumnya pria menyukai hal-hal yang sudah bisa diantisipasi, hal-hal yang memang sudah terencana. Waktu wanita misalnya dengan tiba-tiba berkata ada satu hal yang mengganggu saga, saya ingin bicara dengan kamu, bagi seorang pria ungkapan itu sudah mengejutkan dia. Dia pulang ke rumah mengharapkan situasi rumah seperti kemarin, tiba-tiba istri marah atau tiba-tiba istri menangis dengan begitu sedih. Itu adalah perubahan yang tak diantisipasi dan bagi pria hal seperti ini membuat dia sangat tidak nyaman. Dalam kondisi seperti itu, pria cenderung seperti keong yang terkejut dan memasukkan kepalanya ke dalam rumah keong. Dengan kata lain, pria tiba-tiba akan mematikan reaksinya dan tidak memedulikan istri, malahan bisa-bisa dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim pria akan bereaksi. Dengan kemarahan, ia memaksa wanita untuk tidak bicara lagi dan memaksanya untuk diam.
Kenapa pria cenderung berbuat seperti itu? Karena dia tidak begitu biasa dan tidak begitu nyaman dengan perubahan mendadak. Pria mempunyai suatu kebutuhan yaitu kebutuhan untuk menguasai keadaan, mengontrol situasi. Sewaktu istri tiba-tiba marah atau karena pelajaran anak tiba-tiba si istri mulai berteriak-teriak, hal itu membuat suasana tidak terkontrol, pria tidak suka dengan yang namanya tidak terkendali. Maka dia berusaha menciptakan suasana yang terkendali. Maka saya menasihati para ibu, jika ada masalah, rencanakanlah waktu untuk bicara dengannya, artinya jangan secara tiba-tiba langsung melontarkan problem itu di hadapan pria. Apalagi memaksa pria untuk langsung menghadapi atau menjawabnya. Saran saya adalah, katakan pada suami, "Ada yang ingin saya bicarakan nanti malam, apakah boleh. Atau kalau misalnya malam ini kurang begitu cocok kapan kita bisa berbicara."
Saya membagikan pengalaman saya sendiri, istri saya mencoba memahami saya dalam hal ini, tapi sekarang pun kalau istri saya berkata ada yang ingin saya bicarakan nanti malam, saya sudah langsung memberikan reaksi menutup diri, jantung saya sudah mulai berdebar-debar dengan lebih cepat dan saya sudah membayangkan bahwa nanti malam akan ada pembicaraan yang serius, dan saya sudah takut. Karena pembicaraan yang serius berarti kemungkinan emosi akan keluar, kemungkinan ada pertengkaran    atau perselisihan. Jadi meskipun istri saya sudah mencoba menghaluskan bahasanya dengan berkata ada yang ingin saya bicarakan dan dia tidak langsung mengutarakannya, tetap saya sudah bereaksi. Saya masih ingat, dulu waktu istri saya langsung mengeluarkan unek-uneknya tanpa saya siap untuk menghadapinya, kecenderungan saya adalah saya mendiamkan dia, saya tidak menanggapi dia. Itu membuat dia tambah panas, tambah marah, akhirnya menjadi bertengkar. Akhirnya kami menemukan cara yang lebih cocok untuk kami dan mudah-mudahan ini juga bisa diterima oleh para pembaca.
Mungkin juga ada kekhawatiran dari kaum pria atau suami yaitu kalau diperhadapkan masalah secara tiba-tiba dan ia tidak siap dengan jawabannya maka itu cukup memalukan. Padahal setiap kita tentu menghindari untuk dipermalukan dengan cara seperti itu. Pria ingin dilihat mampu atau sanggup, jadi sewaktu diperhadapkan dengan suatu yang tak bisa dikuasainya dia menjadi sangat kewalahan. Dan dalam kewalahan itu ia kurang bisa rasional, sehingga memaksa wanita untuk diam. Atau semakin menegaskan posisinya sebagai seorang suami. Jadi istri harus tunduk kepadanya.
Memang kenyataannya seorang laki-laki itu demikian keras. Bagaimana sikap seorang istri jika suaminya menghadapi suatu masalah itu dengan marah? Apakah istri itu bijaksana kalau masalah diatasi sendiri … ?
Kalau ada hal-hal yang bisa diatasi sendiri dan memang tidak berkaitan langsung dengan si suami, saya kira tidak apa-apa. Jadi suami memang mempunyai batas-batas sampai berapa jauh dia bisa mengatasi stres, kalau seorang istri menyadari bahwa inilah batas sang suami maka ia bisa bersikap dan bertindak dengan tepat. Malam itu jika waktu suami pulang wajahnya sangat tegang, dia sangat letih, dan si istri tahu topik ini bisa langsung memicu kemarahan si suami maka kalau si istri berhikmat, akhirnya ia memutuskan lebih baik tidak saya sampaikan dulu sekarang. Mungkin nanti setelah beberapa hari situasi sudah reda dan waktunya sudah cocok baru saya sampaikan. Itu hal yang baik, itu adalah hikmat. Karena satu hal yang juga perlu kita sadari adalah suami tidak merasa berkewajiban mengetahui semua hal. Kadang kala ada satu kesalahfahaman di pihak kita yaitu saya harus memberitahukan semuanya padahal tidak demikian. Sebab cukup umum pria berpikiran bahwa hal-hal rumah tangga adalah wewenang istri, hal-hal di luar yang berkaitan dengan pekerjaan dan sebagainya adalah wewenang saya atau tanggung jawab saya. Jadi kalau misalnya istri memutuskan, biarlah untuk urusan ini atau urusan anak atau apa tidak perlu langsung diberitahukan kepada suami, saya kira itu tidak apa-apa, bisa ditoleransi asalkan memang bukan dengan motivasi menutupi atau membohongi. Maka dalam pengertian mencari waktu yang lebih tepat dan memutuskan bahwa ini memang bukan waktunya, saya kira itu bijaksana. Kalau masalah itu sudah selesai baru diceritakan dan kebanyakan tidak akan berkeberatan. Kecuali saat itu, setelah istri menceritakan, suami berkata, "Saya keberatan, lain kali saya lebih mau diberitahukan dari awalnya". Tapi wanita bisa berkata, "Saya ini takut kalau saya bicarakan langsung reaksimu akan begitu keras, jadi bagaimana jalan keluarnya?" Mintalah masukan dari suami supaya istri bisa menyampaikan kepadanya tanpa membuat dia lepas kendali, sehingga bisa dibicarakan. Kalau dia berkata, "Ya tidak apa-apa, engkau beritahukan aku setelah semuanya ini selesai." ini berarti tidak apa-apa untuk lain kali pun kita bisa menggunakan metode yang sama.
Jadi memang erat kaitannya bagaimana istri menjadi sahabat suami ini dalam pemecahan masalah dalam keluarga. Dan penting sekali istri menjadi bagian dari pemecahan masalahnya.
3. Wanita perlu mengerti bahwa pria tidak menyukai problem dalam rumah.
Saya menggarisbawahi kata "dalam rumah," sebab biasanya pria tidak berkeberatan dengan problem di luar rumah, di tempat pekerjaan, tempat di mana dia harus menghadapi problem dan masuk ke dalam lingkungan di mana dia tidak menghadapi problem. Tapi waktu di rumah kecenderungannya adalah dia tidak begitu siap menghadapinya. Sekurang-kurangnya ada 2 alasan:
Pertama, pria cenderung menganggap atau mengharapkan rumah sebagai tempat berteduh. Rumah adalah tempat dia bisa ke luar dari tempat pekerjaan (tempat di mana dia harus menghadapi problem) dan masuk ke dalam tempat di mana dia tidak menghadapi problem. Jadi waktu harus menghadapi problem di rumah, pria cenderung kurang begitu mahir untuk memecahkannya.
Kedua, adakalanya pria kurang begitu mahir menghadapi problem di rumah karena problem membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Waktu si istri memunculkan masalah dengan dia, mengkritiknya, meminta dia bahwa dia kurang berlaku ini, dia kurang berbuat ini, suami akan merasa bahwa ada yang kurang pada dirinya, ada yang perlu diperbaiki. Pria tidak suka dengan hal itu, pria cenderung menginginkan dirinya dilihat sanggup, mampu mengatur dan mengatasi semuanya. Sewaktu mendengar komentar-komentar seperti ini, cenderungnya adalah dia bersifat defensif atau membela diri. Tatkala problem itu memang betul-betul ada, secara konkret wanita atau istri harus bersikap terhadap suaminya seperti berikut ini:
a. Dia bisa mengungkapkan masalah atau ketidakpuasannya dalam kemasan positif. Daripada berkata dalam kemasan negatif: kamu perlu begini, kamu memang begini, gara-gara inilah kamu begini; lebih baik berkata dalam kemasan positif seperti: saya kira ini perlu kita perbaiki agar hubungan kita bisa makin baik, jadi kita kemas dalam nada yang positif.
b. Hindarilah kata-kata tuduhan yang tertulis di atas yang mengatakan bahwa suami begini, suami begitu, kamu memang begini, kamu seharusnya begitu, karena kata-kata tuduhan cenderung memancing reaksi membela diri.
c. Fokuskan dampak persoalan itu pada diri sendiri, bukan pada apa yang keliru atau salah dilakukannya. Maksudnya, daripada berkata engkau tidak melakukan ini, engkau begini-begini, lebih baik istri berkata waktu engkau begini aku merasa begini. Contohnya waktu engkau pulang malam tidak meneleponku, bukankah aku sudah memintamu untuk meneleponku? Aku takut ada apa-apa denganmu dan itu membuatku khawatir, aku tidak bisa konsentrasi, aku tidak bisa mengajar anak-anak, aku tidak bisa memberi diriku pada anak-anak, karena terus tegang memikirkan kamu, jadi tolong bantu aku dengan menelepon aku. Dengan kata lain dia mencoba untuk tidak memfokuskan atau menyerang si suami, namun memfokuskan pada dampak perlakuan si suami terhadap dirinya.
Kalau memang suaminya yang menjadi sumber problem, saya kira yang akan kita bicarakan adalah dalam pengertian ada niat baik dari kedua belah pihak. Dan ada rasa kepedulian dan cinta kasih yang tinggi antara dua belah pihak. Kalau suaminya sudah menjadi problem misalnya disengaja ada perempuan lain, dia berjudi dan sebagainya, dia tidak bertanggung-jawab main dengan teman-temannya, malam pulang dengan semaunya, saya kira dalam konteks seperti itu yang dibicarakan akan efektif. Memang di dalam persahabatan harus ada timbal balik, baru terjalin persahabatan.
4. Wanita perlu mengerti bahwa pria mengharapkan istrinya menjadi sahabat dan sahabat berarti dia tidak meragukan pertimbangannya.
Maksudnya adalah:
a. Waktu berbeda pendapat jangan menyerangnya secara frontal. Karena kalau kita menyerangnya dengan frontal seolah-olah kita tidak lagi percaya pada pertimbangannya. Kalau misalnya tidak setuju, saya anjurkan istri mengajukan beberapa pilihan untuk dipertimbangkan, bagaimana kalau begini, bagaimana menurutmu kalau begini. Jadi berikan 2 atau 3 pilihan sehingga suami bisa memikirkannya.
b. Sahabat berarti istri membantunya untuk berhasil dalam usahanya, pria berharap istri menolong dia dan tidak menghambat dia dalam kariernya. Untuk urusan pekerjaan jika tidak setuju, saya sarankan istri untuk meminta izin, boleh tidak saya memberikan pendapat saya. Dan tekankan bahwa ini untuk kepentingan dia, bukan untuk kepentingan istri. Jadi para suami memang cenderung tidak suka kalau istri seolah-olah mencampuri urusan pekerjaannya dan mengatur dia di tempat pekerjaan. Jadi ditanya boleh tidak saya memberikan pendapat dan tekankan ini untuk kebaikan engkau untuk kebaikan usahamu, setelah itu diam. Jangan memaksa suami untuk menuruti pandangan Anda. Sekali, dua kali mungkin suami tidak akan menghiraukan karena dia percaya pandangannya lebih baik. Tapi setelah satu, dua kali ternyata istri yang betul, maka kemungkinan besar untuk lain kalinya waktu istri memberikan pandangan, suami lebih bersedia untuk menerimanya. Pria cenderung berpikir dunia pekerjaan adalah dunianya jadi dialah yang mengerti.
c. Suami mengharapkan istri menghormatinya di hadapan orang. Ini penting, ingatlah bahwa pria peka dipermalukan apalagi di depan orang lain. Saya menghimbau kepada para istri, jangan berselisih pendapat dengan suami di muka umum, itu amat memalukan suami. Sebab suami merasa dia kepala, waktu si istri berselisih dengannya di depan orang lain, tidak setuju, dan mengatakan dia salah, itu memalukan dia sekali. Dan itu akan menghancurkan harga dirinya dan sering kali akhirnya membuahkan pembalasan dalam bentuk lain. Juga sebaliknya, suami jangan berbuat hal yang sama kepada istri.
5. Wanita harus mengerti bahwa pria menikmati seks sebagai kepuasan fisiknya dan menggunakan seks sebagai wadah penyataan kemesraannya.
Jadi biarkan suami menikmati tubuh saudara dan ini tidak identik dengan memanfaatkan diri Saudara. Karena pria sangat bahagia kalau si istri bisa berpartisipasi dalam hubungan seksual dengannya. Terimalah kemesraan seksualnya sebagai kemesraan romantis. Ada istri yang salah sangka dengan berpikir, engkau hanya memakaiku sebab kalau tidak berhubungan, engkau tidak begitu mesra. Pria kurang mampu menunjukkan kemesraan dan sering kali hanya bisa menunjukkan kemesraan dalam hubungan seksual, jadi terimalah itu sebagai kemesraan romantisnya. Sedapatnya jangan menolak kebutuhan seksualnya, sebab penolakan atau ketidaksenangan ditafsirkan sebagai penghinaan bagi seorang pria. Jadi kalau memang sungguh-sungguh tidak bisa, katakan apa adanya namun sebisanya coba layani dia, karena itulah yang membuat dia senang.
Ada yang bertanya, dalam hal ini perlukah si istri itu menawarkan diri terlebih dahulu?
Saya kira kalau memang misalkan sudah ada jadwal tertentu beberapa minggu sekali, istri bisa bertanya apakah ini yang perlu dilakukan malam nanti. Saya kira jika hal itu membuat suami merasa bahwa istri juga membutuhkan dan menyenanginya, sehingga bukan hanya dia sendiri yang meminta, itu akan membuat suami merasa jauh lebih baik dan jauh lebih senang.
Semua itu jelas merupakan suatu pengorbanan dari si istri untuk menjadi sahabat bagi suami. Firman Tuhan dalam Ef 5:22* menasihatkan: "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat."
Jadi pada intinya kalau mau menjadi sahabat buat seorang suami, yang terpenting adalah benar-benar mencoba menghormati dia, pikirannya, permintaannya, keinginannya. Dan sewaktu istri mulai mengedepankan keinginan si suami, biasanya itu akan direspons secara positif oleh suami. Jadi mulailah mengedepankan dan menundukkan diri di hadapan suami. Itulah pesan firman Tuhan yang tentunya sangat berguna bagi kita sekalian.

Referensi 3b diambil dari:
Judul Buku    : Persiapan Pernikahan
Judul Artikel : Menghadapi Konflik
Penulis  : H. Norman Wright
Penerbit : Gloria, Yogyakarta, 1998
Halaman  : 180  —  182

MENGHADAPI KONFLIK
Ada lima cara untuk menghadapi konflik pernikahan.
Yang pertama adalah menarik diri. Jika Anda cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang sama sekali tak dapat dielakkan dan sangat sulit dikendalikan, maka mungkin memang tak ada gunanya Anda mencoba mengatasinya. Anda dapat menarik diri secara fisik dengan meninggalkan ruangan atau lingkungan tertentu, atau secara psikologis dengan tidak berbicara, bersikap acuh atau melindungi diri sedemikian rupa hingga apa yang dikatakan tidak akan mempengaruhi Anda. Ada banyak orang yang menggunakan pendekatan ini untuk nelindungi diri mereka.
Memenangkan pertarungan adalah sebuah alternatif lain. Jika konsep diri Anda terancam atau jika Anda merasa harus mempertahankan kepentingan Anda, maka kemungkinan metode ini tepat bagi Anda. Jika Anda berada pada posisi yang lebih berotoritas dan posisi tersebut terancam, maka memenangkan pertarungan merupakan serangan balasan. Tak peduli apa pun harga yang harus dibayar, menang merupakan sasaran utama.
Orang menggunakan berbagai macam taktik untuk menang. Karena pasangan suami-istri sadar betul akan daerah-daerah kelemahan dan yang bisa menyakitkan pasangannya, seringkali mereka justru memanfaatkannya untuk memaksa pasangannya mengikuti kemauan mereka. Para "pemenang" ini bahkan mungkin menyerang harga diri seseorang supaya menang. Mereka menyimpan dendam dan menggunakannya pada saat yang tepat untuk menghadapi sebuah konflik. Mereka dapat meluapkan emosi dan sakit hati yang sudah tersimpan lama pada saat yang menguntungkan. Pendekatan "menumpuk dendam" seperti ini merupakan bentuk lain dari balas dendam dan jelas tidak mencerminkan sikap pengampunan dari orang Kristen.
Kalau memenangkan pertarungan adalah cara yang Anda pilih, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah kemenangan itu sangat perlu untuk membangun atau mempertahankan harga diri Anda atau untuk mempertahankan gambar diri yang kuat dari pribadi Anda?
Orang memerlukan harga diri yang kuat untuk mendapatkan kepuasan dalam hidup dan dalam pernikahan mereka. Tetapi apa yang mendasari hal ini? Jika seseorang merasa tidak aman atau ragu-ragu, seringkali ia menciptakan gambar diri yang palsu untuk membodohi orang lain yang pada akhirnya justru membingungkan dirinya sendiri. Tunduk pada orang lain, mengalah atau kalah dalam debat atau pertengkaran merupakan ancaman besar terhadap perasaan seseorang akan dirinya sendiri, sehingga ia berjuang agar hal itu tidak terjadi. Orang yang otoriter biasanya tidak pernah merasa seaman seperti yang ia bayangkan. Tunduk pada orang lain merupakan suatu tanda bahwa posisinya telah lemah.
2. Apakah kemenangan diperlukan karena Anda dibingungkan antara keinginan dan kebutuhan?
Seseorang yang merasa membutuhkan sesuatu akan lebih gigih berusaha untuk mendapatkannya daripada bila ia hanya menginginkan sesuatu. Sudahkah Anda membedakan antara kebutuhan dan keinginan? Mungkin Anda akan melihat sesuatu sebagai kebutuhan dalam hidup Anda sementara pasangan Anda melihatnya sebagai keinginan belaka. Bagaimana Anda tahu bahwa sesuatu itu benar-benar merupakan kebutuhan?
Pendekatan ketiga dalam menghadapi konflik adalah menyerah. Kita sering melihat rambu-rambu jalan yang mengharuskan kita memberi jalan kepada orang lain; yang ditempatkan demi keamanan kita sendiri. Jika kita mau mengalah dalam suatu konflik, berarti kita juga melindungi diri kita sendiri. Kita tidak ingin berisiko menghadapi konfrontasi, sehingga kita mengalah dan mengikuti pasangan kita.
Kita semua menggunakan pendekatan ini dari waktu ke waktu, tetapi apakah mengalah merupakan pola yang biasa Anda gunakan? Mengalah terus-menerus bisa menciptakan rasa kemartiran atau pada akhirnya perasaan bersalah dalam diri pasangan Anda. Kita bahkan menemukan beberapa orang yang harus "kalah" dalam konflik rumah tangganya. Pendekatan ini merupakan cara untuk menjaga kesaksian kita. Dengan mengalah akan timbul kesan bahwa Anda dapat menguasai diri dan adalah orang yang "paling Kristen."
Kita belajar untuk menekan atau menahan kemarahan dan juga menumpuknya, bukannya melakukan apa yang Nehemia lakukan ketika mendengar adanya perlakuan sewenang-wenang terhadap bangsanya yang miskin. "Maka sangat marahlah aku [Nehemia], ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. Setelah kupikir masak-masak, aku menggugat dan para pemuka dan penguasa" (Neh 5*:b-7). Sebagian orang mendapatkan banyak hal dari kekalahan mereka sebanyak yang orang lain dapatkan dari kemenangan mereka.
Sebuah metode lain dalam menghadapi konflik adalah berkompromi atau memberi sedikit untuk mendapat sedikit. Anda telah belajar bahwa Anda perlu menahan sebagian ide atau tuntutan agar pasangan Anda dapat memberi respon. Anda tidak mau terus-menerus menang, tetapi juga tidak mau bila pasangan Anda yang terus-menerus menang. Pendekatan ini memembutuhkan persetujuan dari kedua pihak.
Metode kelima disebut "menyelesaikan".  Jika Anda mengikuti metode ini dalam menghadapi konflik, maka setiap situasi, sikap atau perilaku diubahkan melalui komunikasi secara langsung dan terbuka. Pasangan ini bersedia meluangkan cukup banyak waktu untuk membicarakan keberbedaan-keberbedaan di antara mereka sehingga meski sebagian dari keinginan dan ide mereka yang semula telah berubah, mereka sangat puas dengan solusi yang mereka capai.          Metode yang paling baik atau paling ideal untuk mengatasi konflik? Masing-masing memiliki keefektifan dalam situasi-situasi tertentu. Ada saatnya mungkin, memenangkan pertempuran merupakan cara yang terbaik, dan bukan kompromi. Mengalah pada saat-saat tertentu bisa merupakan suatu tindakan nyata dari kasih dan perhatian yang benar dan murni. Tetapi cara ideal yang kita pakai adalah cara yang menyelesaikan konflik.
Ketika seseorang menggunakan penarikan diri sebagai pola yang biasa ia gunakan dalam menghadapi konflik, hubungan akan terganggu dan kebutuhan-kebutuhan akan sulit terpenuhi. Ini merupakan cara yang paling tidak membantu dalam menghadapi konflik. Hubungan tersebut tidak dapat bertumbuh dan berkembang.
Jika ini merupakan cara Anda, pikirkan mengapa Anda menarik diri. Ini bukanlah demonstrasi dari ketundukan dan kerendahan hati yang alkitabiah. Metode ini seringkali dipakai karena adanya perasaan takut-terhadap pasangan Anda atau terhadap kemauan Anda sendiri.
Memenangkan pertarungan akan memenuhi tujuan pribadi tetapi pada saat yang sama mengorbankan hubungan yang dimiliki. Seseorang bisa saja memenangkan pertempuran tetapi kalah dalam perang. Dalam suatu pernikahan, pernikahan, hubungan yang baik lebih penting daripada tujuan pribadi, dan memenangkan pertarungan dapat menjadi kemenangan yang hampa.
Mengalah punya nilai yang lebih tinggi karena kelihatannya membangun sebuah hubungan, tetapi tujuan atau kebutuhan pribadi seseorang dikorbankan di sini yang dapat menimbulkan dendam. Mengalah mungkin tidak membangun seperti yang diyakini banyak orang, karena jika hubungan itu sedemikian pentingnya, maka seseorang akan bersedia berbagi, berkronfontasi dan berani bicara. Apa yang dapat dicapai melalui resolusi akan membangun hubungan lebih baik lagi dan memperlihatkan perhatian yang semakin besar lagi bagi hubungan itu lebih dari metode lainnya.
Kompromi merupakan sebuah usaha untuk menjaga kelangsungan suatu hubungan dan pemenuhan sebagian kebutuhan. Tawar menawar yang terjadi dapat berarti bahwa ada beberapa nilai yang dikompromikan. Anda bisa saja mendapati bahwa Anda tidak begitu puas dengan hasil akhirnya, tetapi masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Sebenarnya hal ini pun dapat mengancam hubungan tersebut. Akan timbul kegelisahan setelah kompromi dibuat.
Menyelesaikan konflik adalah cita-cita yang harus dituju oleh setiap pasangan. Sebuah hubungan dapat diperkuat setelah konflik terselesaikan dan kebutuhan-kebutuhan terpenuhi bagi kedua pihak. Di sini dibutuhkan lebih banyak waktu, penerimaan serta kesediaan untuk mendengarkan.
Anda mungkin bisa berubah dalam proses tersebut, tetapi Anda senang dengan perubahan yang terjadi. Perubahan yang positif dan menguntungkan. Dan perubahan itu mungkin dilakukan, bahkan perlu dilakukan! Karena Yesus Kristus ada dalam hidup Anda, Anda dapat menyerahkan segala ketakutan dan kegelisahan. Anda dapat memiliki keyakinan dan keberanian baru untuk menghadapi berbagai masalah hidup, dan dengan cara yang baik, dengan orang-orang lain di sekitar Anda. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak mungkin berubah. Namun Firman Allah berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Fili 4:13*)



5 - Rumah Tangga Kristen
A. ORANG TUA DALAM RUMAH TANGGA KRISTEN
Ayat Hafalan    : "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Ef 6:4*.
1. Karunia Tuhan
Anak-anak yang diberikan kepada suami dan istri merupakan karunia Tuhan. Ketika Esau bertanya kepada Yakub tentang orang-orang yang bersama-sama dengan dia, Yakub berkata bahwa mereka adalah "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." Kej 33:5*. Beberapa tahun kemudian, ketika Yusuf ada di Mesir, dia menunjukkan dua anaknya kepada Yakub yang sudah tua dan berkata, "Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini." Kej 48:9*.
Pemazmur Menulis,"sesungguhnya anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah
kandungan adalah suatu upah." Mazm 127:3*. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang umumnya hanya berbicara tentang anak-anak lelaki. Mereka kadang-kadang melupakan nilai dari anak-anak perempuan. Kristus datang ke dunia dalam bentuk manusia untuk memulihkan umat manusia ke dalam rencana Allah yang mula-mula. Sungguh dalam Kristus "tidak ada laki-laki atau perempuan" Gal 3:28*. Karunia Allah adalah anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.
Renungkan kembali tentang rencana Allah yang indah dalam pernikahan antara seorang pria dan wanita yang saling mengasihi dan menghormati Tuhan. Ingatlah kembali bahwa anak-anak adalah merupakan karunia Tuhan. Tuhan memberikan karunia berupa anak-anak di dalam beberapa rumah tangga; di beberapa rumah tangga yang lain yang juga dikasihi-Nya, Dia memberikan karunia yang lain. Kita akan mempelajari lebih banyak tentang rumah tangga tanpa anak dalam pelajaran berikutnya. Sekarang marilah kita mempelajari tanggung jawab dari orang tua terhadap anak-anak sebagai karunia yang indah.
2. Rencana untuk Mereka
Tanggung jawab apa yang dimiliki oleh orang tua dalam merencanakan besar kecilnya keluarga mereka? Apakah mereka seharusnya memunyai anak sebanyak mungkin menurut kekuatan tubuh mereka? Dalam beberapa masyarakat tradisional, tiap keluarga ingin memunyai anak sebanyak mungkin. Anak-anak merupakan kebanggaan keluarga; mereka diperlukan sebagai para pekerja. Banyak anak yang meninggal sebelum usia dewasa. Ada banyak faktor di Indonesia sekarang yang membuat pemerintah memikirkan program yang sungguh-sungguh mengenai keluarga berencana. Hal ini termasuk perlunya memikirkan tingginya biaya untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak yang sering tidak sebanding dengan pendapatan keluarga. Angka kelahiran yang tinggi juga telah menambah masalah di Indonesia, misalnya kelaparan, kekurangan gizi, terbatasnya sekolah dan pengobatan, dll.. Alkitab memerintahkan untuk bertanggung jawab dalam merencanakan keluarga yang baik. "Tetapi jika ada orang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman." (1Tim 5:8*). Orang tua Kristen perlu berdoa untuk mempertimbangkan jumlah anak yang bisa mereka asuh.
Seorang penulis dari Afrika, John S. Mbiti, mengatakan, "menjadi orang tua adalah suatu tanggung jawab yang besar. Anda melecehkan kesempatan dan kepercayaan itu jika Anda menjalaninya dengan ceroboh, jika Anda menjalankannya dengan cara dimana Anda hanya membuat anak-anak merana, lapar, berpakaian yang tidak layak, tidak berpendidikan, dan merasa rendah diri di masyarakat. Hal utama yang harus diketahui orang tua sekarang ini adalah berapa jumlah anak yang bisa diasuh dengan layak sehingga nantinya menjadi pribadi yang sehat, bahagia, berkembang dengan baik, dan bisa menjadi bagian yang memberkati  masyarakat dan bangsa."
3. Mengajar Mereka
Supaya bisa diterima masyarakat dan bangsa dengan baik, orang tua Kristen hendaknya membimbing perkembangan anak-anak mereka ke dalam jalan-jalan Tuhan. "Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya." (Kej 18:19*). Ayat ini menyebutkan tentang perintah Allah yang harus diikuti Abraham sehingga Allah dapat membawa Abraham ke tanah yang sudah dijanjikan-Nya. Apakah dua hal yang harus dilakukan anak-anak dan seisi rumah Abraham dilakukan untuk "berjalan menurut jalan Tuhan?"
Mungkinkah Allah membuat bangsa yang besar dari anak-anak Abraham jika mereka tidak melakukan yang benar dan adil? Bagaimana mungkin anak-anak Anda menggenapi rencana Allah bagi mereka jika Anda tidak mengajarkan kepada mereka untuk menurut jalan-jalan Tuhan? Tuhan memberikan janji ini: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang dari jalan itu." (Ams 22:6*).
"Sesungguhnya diantara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis." kata Yesus, Mat 11:11*. Bacalah Luk 1:6* untuk mempelajari macam lingkungan rumah tangga yang disediakan Zakharia dan Elisabet bagi Yohanes. Dapatkah Anda mengikuti contoh yang diberikan Zakharia dan Elisabet? Alkitab mengatakan bahwa mereka "keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat."
4. Merawat dan Memelihara Mereka
Alkitab memberikan perintah yang khusus kepada orang tua. Paulus menggambarkan hubungannya dengan orang-orang Kristen di Korintus dengan mengatakan, "Karena bukan anak-anak yang mengumpulkan harta untuk orangtuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya." (1Kor 12:14*). Paulus mengatakan bahwa dengan sukacita ia akan memberikan apa yang dia punya untuk orang-orang Korintus. Haruskah orang tua mempunyai permintaan terhadap anak-anaknya yang menyebabkan kesulitan keuangan yang besar? Permintaan-permintaan tersebut termasuk pesta, pesta pernikahan, hadiah yang mahal, dll.. Sebagai orang yang baru dewasa, Anda mungkin tidak bisa mengubah cara yang dipakai orang tua Anda. Tapi Anda harus belajar mengikuti ajaran-ajaran Kristen ketika Anda menjadi orang tua.
5. Mengasuh Mereka
Paulus memberikan suatu perintah yang pasti kepada para orang tua. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Ef 6:4*.
Musa telah memimpin bangsa Israel sampai diusia tuanya. Dalam pidato perpisahannya, dia memberikan perintah yang terakhir dari Tuhan. Bacalah Ul 6* untuk mempelajari perintah-perintah yang penting ini. Bagaimana bangsa Israel mengatakan kebenaran-kebenaran ini kepada anak-anak mereka? Lihatlah ayat Ul 6:6-9*.
Ayat Ul 6:4* memberikan perintah Allah yang Agung. Saat Anda membaca ayat Ul 6:7* carilah beberapa "waktu untuk pengajaran Firman Allah" yang bisa dipakai oleh seluruh keluarga untuk mengajar anak-anak. Perhatikan bagaimana Allah menjadi pusat bagi keluarga pada masa itu. Anak-anak diajarkan tentang Firman Tuhan dengan rajin dan rutin.
6. Membimbing Mereka
Luk 2:52* menyebutkan kepada kita bahwa Yesus "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." Dengan menggunakan empat bidang berikut ini, pikirkanlah sikap-sikap dan kecakapan-kecakapan yang ingin anak-anak Anda miliki jika mereka dewasa nantinya. Bagaimana cara terbaik yang bisa Anda tempuh untuk mengembangkan kecakapan dan sikap mental anak-anak? Pendidikan apa yang Anda inginkan bagi anak-anak Anda? Pikirkanlah juga perkembangan secara fisik. Apa yang perlu diketahui anak-anak Anda mengenai tubuh mereka agar mereka bisa memperlakukan tubuh mereka dengan benar sebagai Bait Roh Kudus? Apa yang perlu diketahui, dialami, dilakukan anak-anak untuk bisa bertumbuh secara rohani? Apa yang seharusnya menjadi ciri hubungan mereka dengan Allah? Bagaimana mereka perlu berhubungan dengan orang lain - dengan orang Kristen dan non-Kristen?
7. Bersaksi Bagi Mereka
Ceritakan pada anak-anak Anda tentang pekerjaan Tuhan dalam hidup Anda. Ceritakan kepada mereka pada waktu Tuhan menyembuhkan Anda, atau ketika Allah dengan ajaib menyediakan makanan bagi Anda saat Anda tidak mempunyai uang. Ceritakan kepada mereka bagaimana perbuatan Tuhan selama ini kepada Anda. Mazm 78:4*, "Kami tidak hendak sembunyikan terhadap anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya." Ambil Alkitab Anda sekarang dan bacalah Mazm 78:1-7*. Ceritakan tentang kebaikan Tuhan kepada anak-anak Anda. Maka, mereka juga akan menaruh kepercayaan mereka terhadap Tuhan.
8. Mengasihi Mereka
Tunjukkan kedekatan Anda kepada anak-anak. Jika mereka melakukan sesuatu yang baik, berikan pujian, ungkapkan, "Aku mengasihi engkau," dalam perkataan dan perbuatan. Dorong dan bimbing serta ajar mereka secara pribadi. Ada saatnya tiap orang tua meluangkan waktu sendiri dengan tiap anaknya.
Ajarkan kepada anak-anak Anda tentang Firman Tuhan dan berdoalah dengan anak-anak Anda. Firman Tuhan dapat memberikan hikmat kepada anak-anak Anda menuju kepada keselamatan melalui iman dalam Yesus Kristus.

B ANAK-ANAK DALAM KELUARGA KRISTEN
Ayat Hafalan    : "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian." Ef 6:1*
"Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu." Ams 6:20-21*. Allah memberikan kepada Musa sepuluh perintah, ya hanya sepuluh peraturan yang paling penting untuk menuntun hidup kita. Perintah yang kelima adalah, "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." Ul 5:16*. Paulus menyebutkan perintah ini dengan suatu janji, Ef 6:2*.
1. Ketaatan
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan." (Kol 3:20*). Alasan apa yang diberikan oleh Paulus agar mentaati orang tua dalam segala hal?
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." (Ef 6:1-3*). Paulus menuliskan ayat-ayat ini dalam sebuah surat ketika dia sudah tua dan ada di dalam penjara. Dia bukanlah seorang penjahat; dia salah satu murid Tuhan Yesus yang sejati. Paulus melayani dengan nasihat-nasihat yang penuh kasih kepada semua orang. Dalam tes ini dia mengikutsertakan anak-anak dan orang tua. Bacalah Rom 1:30* dan 2Tim 3:2*. Apakah Anda memerhatikan bahwa ketidaktaatan kepada orang tua adalah termasuk sebagai dosa yang paling jahat? Baik ayah maupun ibu, keduanya harus dihormati.
2. Kasih Allah kepada Anak-Anak
Kasih Allah kepada anak-anak merupakan alasan yang utama mengapa Dia menekankan ketaatan kepada orang tua. Tuhan berfirman kepada kita untuk menghormati orang tua, "supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." Ef 6:3*. Anak-anak tidak bisa secara alamiah mengetahui untuk "menolak yang jahat dan memilih yang baik." Mereka mesti bertumbuh dalam hikmat ini, mereka mesti diajarkan pengetahuan ini. Orang tua adalah guru kedua yang penting setelah Tuhan sendiri. Bacalah masa kecil Yesus dalam Luk 2:41-51*. Sebagai anak kecil, bagaimana Yesus melaksanakan perintah taurat yang kelima ini?
Ef 5* berbicara tentang para istri yang harus merendahkan diri/taat kepada suami mereka. Dalam Ef 6*, suami dan istri sekarang disebut orang tua. Anak-anak hendaknya mentaati orang tua mereka. Tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa salah satu orang tua berhak atas penghormatan yang lebih besar dari yang lain.
3. Allah Ada di atas Para Orang Tua
Kis 5:29* menunjukkan suatu masa dimana ditunjukkan sikap agar kita lebih mengasihi Tuhan dari pada yang lain. "Kita harus mentaati Allah lebih daripada manusia" Jika orang tua kita meminta agar kita berbuat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita harus mentaati Allah. Allah berbicara kepada anak-anak, dan kehendak Allah harus menjadi yang pertama, bahkan sebelum kehendak orang tua. Samuel hanyalah seorang anak kecil ketika dengan cara yang ajaib Tuhan datang pada malam hari di tempat tidurnya dan berbicara kepadanya. Lihatlah dalam 1Sam 3*.
Bahkan ketika maksud untuk mentaati Tuhan bertentangan dengan kehendak orang tua, kita tidak boleh begitu saja meremehkan keinginan orang tua kita. Kita harus berusaha sedemikian untuk mencapai suatu persetujuan. Kita tidak boleh marah terhadap mereka, atau membuat mereka marah. Kita hendaknya menunjukkan kepada mereka segala bentuk kasih dan penghormatan meskipun mereka menentang kehendak Tuhan.
Petrus mengingatkan kepada kita bahwa seorang Kristen harus rendah hati dalam semua hubungan. "Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang-orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’" (1Pet 5:5*). Ketika kehendak orang tua bertentangan dengan perintah Tuhan, seorang Kristen memilih jalan Tuhan dengan kelembutan dan kerendahan hati.
4. Ketika Anak-Anak Menjadi Dewasa
Orang dewasa pun harus terus menghormati orang tua mereka. Seorang anak yang telah dewasa mungkin hidup jauh dari orang tua dan harus membuat sebagian besar keputusan sendiri. Perpisahan ini dapat menyebabkan kekuatiran bagi orang tua mereka. Mereka mungkin akan merasa ditinggalkan atau bahkan ditolak kalau anak-anak mereka yang telah "modern" tidak menjaga suatu hubungan yang dekat. Selalu ada perbedaan dalam tiap generasi dari umat manusia. Hal ini nyata khususnya di negara-negara dimana gaya hidup berubah dengan cepat. Anak-anak yang sudah dewasa perlu untuk menjaga hubungan yang dekat dengan orang tua mereka, untuk memberitahu mereka bahwa mereka masih dikasihi dan dihormati.
Usia tua sering membawa masalah yang memerlukan perhatian yang penuh kasih dari anak-anak yang sudah dewasa. Dalam Mr 7* Yesus menegur para pemimpin agama pada masa itu karena melaksanakan tradisi mereka namun tidak betul-betul memerhatikan kebutuhan orang tua dan menghormati mereka. Di dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia dalam rumahnya. Yoh 19:25-27* Ayat ini menceritakan bagaimana Yesus membuat suatu rencana untuk merawat ibunya bahkan ketika Dia hampir mati di atas kayu salib. Seperti Yesus yang menunjukkan penghormatan dan perhatian untuk ibunya selama hidupnya, orang-orang Kristen saat ini perlu memegang perintah Tuhan untuk menghormati orang tua mereka.

DOA
"Bapa, terima kasih untuk anak-anak yang Kau karuniakan bagi kami. Berilah kami hikmat untuk dapat menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Amin"

PERTANYAAN A:
1. Apakah artinya bahwa anak-anak yang diberikan melalui suami istri adalah karunia Tuhan?
2. Apakah orang Kristen perlu membuat perencanaan berapa anak yang  akan dimiliki? Mengapa?
3. Sebagai orang Kristen, pengajaran apakah yang paling penting  diberikan orang tua kepada anak-anaknya?
4. Ayat-ayat mana di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Tuhan  memberikan tanggung jawab penuh kepada orang tua untuk mengajarkan  Firman Tuhan kepada anak-anaknya?
5. Apakah upah seorang anak yang taat dan menghormati orang tua,  menurut Ef 6:3*?
6. Dalam keadaan bagaimana anak boleh menentang orangtua?
7. Menurut Kis 5:29*, jika orang tua meminta melakukan sesuatu yang  bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita harus mematuhi  … 
8. Kapan kita bisa berhenti menghormati orang tua kita?
9. Mengapa anak-anak yang sudah dewasapun harus tetap memelihara hubungan dengan orang tua mereka?
10. Bagaimana Yesus menunjukkan kasih dan perhatian-Nya pada ibu-Nya?

PERTANYAAN B:
1. Apakah Anda setuju orang tua perlu mendisiplin (menghajar) anak-anaknya jika anak-anaknya tidak menuruti perintah orang tua? Cara  apa yang paling tepat untuk dipakai?
2. Bagaimana menghadapi orang tua yang terlalu menuntut anak-anaknya untuk memperhatikan dan mendukung kebutuhan finansialnya?

Referensi 5a diambil dari:
Judul Buku    : Hanya Maut yang Memisahkan Kita
Judul Artikel : 10 Sifat dan Kebiasaan yang Perlu Diajarkan Kepada Anak-anak
Penulis  : Pdt. Roby Setiawan, Th. D.
Penerbit : Setiawan Literature Ministry, 2007
Halaman  : 102  —  112

10 Sifat dan Kebiasaan yang Perlu Diajarkan Kepada Anak-Anak
Pengamsal menasehati para pembacanya demikian, "Ajarlah seorang anak cara hidup yang patut baginya, maka sampai masa tuanya ia akan hidup demikian" (Ams 22:6*).
Ada sebagian orang mengijinkan anak mereka yang masih kecil untuk melakukan apa saja, walaupun perbuatan itu salah dan kurang ajar. Biasanya, alasan mereka adalah: "Anak kami masih kecil, nanti saja jikalau sudah besar, ia akan kami disiplin." Pendapat itu tidak benar! Lihatlah ilustrasi berikut ini.
Seekor ayam yang salah satu kakinya cacat, berjalan melewati lapisan semen basah dengan satu kaki saja. Kemudian, seorang pemuda mengusir ayam itu dari sana. Namun, bekas tapak kakinya masih tercetak di semen. Keesokan harinya setelah semen itu menjadi kering, bekas tapak kaki si ayam terlihat jelas sekali. Ayam itu sendiri telah dipotong dan dimakan, namun bekas tapak kakinya terus terlihat selama bertahun-tahun kemudian. Demikian pula dengan watak anak; sebelum watak anak Anda mengeras, cap apa yang orang tua sudah buat dan tinggalkan dalam kepribadian mereka?
85% dari pembentukan pribadi seseorang terjadi pada waktu ia masih berada di kandungan ibunya sampai dengan usia 7 tahun. Tujuh tahun pertama di dalam kehidupan seorang anak adalah masa yang sangat penting, bagaikan lapisan semen yang masih basah bisa diberikan "cap" apa saja dan akan membekas selama berpuluh-puluh tahun kemudian.
Figur Musa adalah contoh yang menarik. Pada waktu usianya sekitar 40 tahun, Musa, yang telah diadopsi oleh sang putri Firaun, membela bangsa Yahudi dan membunuh orang Mesir (Kel 2:11-14*). Mengapa bisa timbul perasaan nasionalisme kepada budak-budak Yahudi, padahal ia sudah tinggal nyaman di istana Firaun? Jawabannya adalah karena sewaktu masih kecil, Musa pernah dididik oleh mamanya sendiri sambil disusui (Kel 2:8-10*). Pastilah, sang mama terus menanamkan pemahaman di dalam diri Musa kecil, bahwa ia adalah orang Ibrani yang berTuhankan Allah Yahweh. Pengajaran itu berlangsung selama beberapa tahun sampai Musa menjadi besar (kemungkinan sampai berusia 7 tahun), barulah Musa diberikan kepada sang putri Firaun. Apa yang ditanamkan dalam usia 7 tahun pertama itu sungguh berdampak besar bagi kehidupan Musa. Berikut ini adalah 10 sifat dan kebiasaan penting yang perlu diajarkan kepada anak-anak dalam usia 7 tahun pertama:
1. Menghormati Allah di dalam kehidupan mereka Orang tua perlu setiap hari berdoa sambil menumpangkan tangan kepada sang janin yang masih di kandungan ibunya.
Ketika bayi itu sudah lahir, sang ibu perlu membiasakannya berdoa terlebih dahulu sebelum diberi susu atau makanan lembut lainnya. Kebiasaan untuk berdoa perlu terus diajarkan sampai anak itu besar. Ajarlah mereka berdoa syafaat sebelum mereka tidur, misalnya berdoa untuk: guru-guru di sekolah, kakek-nenek, orang tua, pekerjaan misi, orang yang sedang mengalami musibah, dll. Dalam hal ini, altar keluarga yang dipimpin oleh kepala rumah tangga sangat penting. Biarlah kebiasaan berdoa "mendarah-daging" dalam kehidupan anak-anak.
2. Bimbinglah anak-anak untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi mereka.
Usia antara 4 - 14 tahun adalah masa yang mudah bagi seseorang untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Jikalau masa itu diperpanjang, maka hanya sampai pada usia 19 tahun seseorang dapat menerima Injil dengan agak mudah. Setelah usia 19 tahun, adalah sulit bagi seseorang untuk menerima berita keselamatan di dalam Yesus, kecuali hanya dengan mujizat Ilahi.
Orang tua bisa mengajarkan Injil kepada anak-anak di dalam konteks dan dengan cara yang berbeda. Misalnya: ketika anak itu dibawa ke rumah duka dan melihat mayat yang terbaring di peti jenazah, orang tua bisa, memakai momen yang penting ini untuk memberitakan Injil bagi si anak.
3. Mendisiplin anak sedini mungkin.
Anak di bawah usia dua tahun sudah bisa diajar untuk makan dengan tidak berjalan-jalan. Selesai bermain, anak perlu diajar untuk membereskan mainannya dan mengembalikan ke tempatnya. Biarkanlah anak itu sendiri yang melakukannya, tidak perlu dilakukan oleh baby-sitternya atau pembantu. Anak tidak boleh bersikap kurang ajar kepada orang lain, walaupun kepada pembantu rumah tangga.
Jikalau si anak bandel, maka orang tua boleh memukul anaknya (Ams 22:15*), tetapi harus di bagian tubuh yang tepat, misalnya: di pantat (karena bagian ini berisi banyak lemak). Namun, pukulan apabila terlalu sering dilakukan akan menjadi tidak efektif. Pandangan mata yang berwibawa dari orang tua kepada anak akan lebih baik.
4. Mengajarkan sifat adil kepada anak
Seorang anak tidak menuntut orang tuanya harus kaya, tetapi adil. Ada sebagian orang tua yang lebih mengasihi anaknya yang paling pintar atau yang paling cantik, sehingga anak yang lain merasa cemburu. Hal pilih kasih terjadi di dalam keluarga Yakub. Yusuf yang lahir pada masa tua Yakub, diperlakukan secara istimewa, sehingga membuat rasa cemburu di dalam hati anak-anaknya yang lain (Kej 37:1-4*).
Jikalau orang tua baru pulang dari luar kota dan mau membawakan oleh-oleh untuk anak-anak mereka, jangan lupa memberikannya kepada setiap anak. Anak kecil belumlah mengerti harga, oleh karena itu berikanlah kepada mereka sesuatu yang mereka senangi, walaupun murah.
Disiplin haruslah adil kepada setiap anak. Disiplin bisa berbentuk pujian maupun hukuman (Ibr 12:5*). Setiap anak, apabila berbuat baik harus dipuji; jika berbuat salah, haruslah dihukum. Berat atau ringannya hukuman harus disesuaikan dengan macam kesalahannya. Misalnya: seorang anak lelaki yang berusia 9 tahun mencoba untuk men-starter mobil ayahnya. Sebelumnya, sang ayah telah memberitahukannya beberapa kali tentang prosedur menyalahkan mesin mobil, yakni dengan menetralkan lebih dahulu posisi versneling. Si anak sudah melakukannya beberapa kali dengan baik. Namun pada suatu malam, si anak bersikap ceroboh. Ia tidak menetralkan posisi versneling lebih dahulu, sehingga ketika distarter, mobil itu langsung menabrak pintu garasi. Akibatnya, pintu garasi dan bemper mobil rusak. Si ayah mendisiplin anaknya dengan tidak mengijinkan bermain di Timezone selama 1 bulan. Bagi si anak, bermain di Timezone adalah hal yang sangat disukainya. Tetapi karena kesalahannya, ia harus menyangkal diri, dan itulah bentuk disiplin yang cocok baginya. Jadi, disiplin tidak selalu berbentuk pukulan fisik.
5. Mengajar anak untuk menghargai setiap pemberian
Anak perlu diajar untuk berterima kasih atas setiap berkat Tuhan yang mereka terima, misalnya:
makanan/minuman, kesempatan untuk belajar, tempat tinggal, kendaraan yang dipakai, pembantu yang setia melayani, semua mainan yang tersedia, kado HUT, dll. Jangan biarkan mereka bersungut-sungut.
Anak yang sejak kecil sudah biasa hidup "enak," ada kecenderungan untuk tidak menghargai kenyamanan hidup yang mereka nikmati, dan bersikap take it for granted (menganggap hal itu sebagai sudah seharusnya demikian). Anak seperti itu perlu sesekali diajak, misalnya, menumpang bis umum atau angkota. Biarkan mereka melihat dan mengalami realita hidup yang sesungguhnya, dimana begitu banyak orang yang kondisi hidupnya begitu susah. Dengan demikian, mereka bisa mengucap syukur untuk mobil orang tua mereka yang ber-AC.
Pada waktu Ebenezer, anak kami yang kedua, berulang tahun yang ketujuh, kami mengadakan pesta HUT yang unik. Bersama dengan perayaan HUT Angie, anak ketiga dari salah seorang anggota majelis gereja, kami mengundang anak-anak dari "kolong jembatan" untuk menghadiri acara ini. Tentu saja, anak-anak teman sekolah minggunya juga diundang. Kami menyediakan snack dan nasi untuk mereka yang kekurangan. Juga, beberapa anggota gereja menyumbangkan beberapa bahan pokok, seperti beras, minyak, dll, untuk orang tua dari anak-anak prasejahtera itu. Momen seperti itu sungguh memberikan kesan yang mendalam bagi anak kami. Mereka belajar untuk menghargai setiap anugerah Tuhan dan belajar untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan.
6. Menjauhkan anak dari sifat kejam
Sifat kejam adalah sifat yang menikmati ketika melihat penyiksaan terjadi pada diri orang lain atau binatang. DR. Albert Schweitzer berkata, "Hargailah kehidupan!" Jangan siksa seekor anjing, kucing, atau semut sekalipun. Jikalau mau membunuhnya, bunuhlah, tetapi jangan disiksa sedikit demi sedikit sampai mati. Seorang anak yang dibiarkan menyiksa seekor binatang, pada suatu saat dia akan menyiksa manusia juga. Pertunjukan yang sadis di acara-acara TV perlu dijauhi, misalnya: free wrestling (gulat bebas), UFC, film-film dan game-game yang bernafaskan kekerasan hendaknya dijauhi. Apa yang ditonton oleh mereka akan sangat mudah ditiru. Rasul Paulus memberikan prinsip yang penting sbb,
"Segala sesuatu diperbolehkan, benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain" (1Kor 10:23-24*).
7. Mengajar anak berkata jujur
Karena takut dihukum atau untuk menghindari suatu tugas yang mereka tidak senangi, sebagian anak berbohong kepada orang tua atau guru mereka. Orang tua perlu peka terhadap hal ini. Adakan cross-check dengan orang-orang yang menyaksikan hal itu, lalu bandingkan dengan apa yang dikatakan oleh si anak.
Misalnya: seorang anak yang dileskan piano oleh orang tuanya, harus berlatih main piano setiap harinya. Pada suatu hari, si ibu bertanya kepada anaknya, apakah ia sudah berlatih piano pada hari itu. Si anak berkata: sudah. Namun, si ibu perlu sesekali melakukan cross-check kepada pembantunya, yang setiap saat di rumah, apakah betul si anak sudah berlatih piano. Jikalau si anak berbohong, maka ia perlu didisiplin. Jangan biarkan kebohongan sekecil apapun dilakukan oleh anak yang masih kecil, sebab hal itu menjadi benih yang tidak baik untuk masa depan hidupnya.
Contoh lain lagi: si Andi menangis ketika pulang dari sekolah. Ia mengadu kepada orang tuanya, bahwa ia baru saja dipukul oleh Joni, temannya. Orang tua tidak perlu panik dalam hal ini, dan jangan langsung percaya 100% kepada perkataan Andi. Orang tua perlu bertanya kepada guru kelas dari Andi, atau kepada orang yang melihat kejadian itu. Ternyata, yang diceritakan Andi hanya separoh benar. Si Andi suka menggodai Joni, sehingga akhirnya Joni menjadi marah dan memukulnya. Dengan demikian, orang tua yang bijaksana harus mendisiplin Andi dan mengajarnya untuk berkata jujur; tidak menutup-nutupi sebagian fakta dengan tujuan untuk mendapat dukungan dari orang tua.
Tentunya, teladan orang tua dalam hal kejujuran adalah sangat penting. Apabila si anak melihat orang tuanya sering berbohong kepada orang lain, bahkan ada pula orang tua yang mengajarkan anaknya untuk berbohong dalam hal-hal tertentu, maka hal itu pasti akan berdampak negatif bagi kepribadian si anak.
8. Mengajar anak sikap tekun dan ulet
IQ yang tinggi tidak menjamin seorang anak menjadi sukses. Thomas Alva Edison (1847-1931) pernah berkata, bahwa IQ hanya menyumbangkan 5% saja dari kesuksesan seseorang, sisanya adalah ketekunan, keuletan, dan sifat-sifat positif lainnya.
Memang dalam kehidupannya, Thomas telah berusaha untuk menjadi tekun dan ulet. Pada masa
kecilnya, salah satu telinganya menjadi tuli karena infeksi. Thomas kecil sulit bergaul dengan teman-temannya di sekolah dan dianggap sebagai pembuat masalah oleh guru-gurunya. Pada usia 11 tahun, ia dikeluarkan oleh guru sekolahnya karena dianggap "anak bodoh"; namun, ibunya mendidiknya dengan sabar. Akhirnya, setelah mengalami kegagalan sebanyak lebih dari 1000 kali, muncullah seorang Thomas Alva Edison yang menemukan beberapa hal penting, yakni: bola lampu, phonograph (piringan hitam), gambar bergerak, telegraph, dan teknologi telepon. (1)
Ketekunan dan keuletan perlu diajarkan sejak dini di dalam kehidupan anak-anak. Kepribadian mereka perlu dilatih untuk tidak mudah menyerah. Jikalau mendapat nilai merah di dalam pelajaran di sekolah, janganlah cepat-cepat mundur dan putus asa. Robert Schuller mendefinisi ulang makna "kegagalan":
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda adalah orang yang gagal. Itu berarti bahwa Anda masih belum berhasil.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda tidak menyelesaikan apa-apa; itu berarti bahwa Anda telah belajar sesuatu.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda telah dipermalukan; itu berarti bahwa Anda telah berkemauan mencoba.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda tidak mendapatkannya; itu berarti bahwa Anda harus melakukannya dengan cara yang lain.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda telah menyia-nyiakan hidup Anda; itu berarti bahwa Anda mempunyai alasan untuk mulai lagi.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda harus menyerah; itu berarti bahwa Anda harus mencoba lebih keras.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Anda tidak akan pernah mencapainya; itu berarti Anda masih memerlukan waktu sedikit lebih lama.
-       Kegagalan tidak berarti bahwa Allah meninggalkan Anda; itu berarti bahwa Ia memiliki gagasan yang lebih baik. (2)
9. Biarkan anak untuk bertanggung jawab atas segala perbuatannya
Ada seorang anak yang berlari-lari mengelilingi suatu ruangan. Lalu, tiba-tiba kakinya tersandung kaki meja dan jatuh. Orang tuanya cepat-cepat datang dan memukul meja itu sambil berkata, "Meja nakal. Ayo anakku sayang, bangunlah." Padahal yang salah bukanlah meja itu, tetapi anak itu sendiri yang kurang hati-hati. Namun, kejadian yang nampaknya sederhana itu dapat menanamkan kesan yang kurang baik di dalam diri si anak. Orang tua terlalu melindungi si anak, sehingga si anak tidak diberikan kesempatan untuk bertanggung jawab atas tindakannya yang kurang hati-hati. Sebaiknya, orang tua itu berkata, "Ayo anakku, bangunlah. Lain kali hati-hati yakh, kalau berlari jangan menabrak meja" (sambil sang orang tua memeriksa lutut si anak yang jatuh itu).
Apabila si anak nakal di sekolah, lalu kemudian gurunya mendisiplinnya; biarlah orang tua tidak dengan serta-merta membela anaknya. Anak itu perlu belajar untuk menerima risiko dari kenakalannya.
10. Orang tua perlu merelakan anaknya menghadapi kesulitan dan tantangan
Nyanyian Musa memberikan kita pengajaran yang baik dalam melatih kepribadian anak, "Laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya" (Ul 32:11*).
Seekor induk burung rajawali melatih anak-anaknya untuk terbang dengan cara "membuang" anak itu di angkasa. Anak-anak burung itu dilatih untuk menggunakan sayap mereka. Ketika anak-anak burung itu hampir jatuh ke tanah, maka sang induk cepat-cepat menatangnya kembali di atas kepaknya. Berkaitan dengan training kepribadian anak, Jendral Mac Arthur pernah mengucapkan suatu doa yang unik:
Ya Tuhan, aku mohon supaya anakku jangan dibawa ke jalan yang mudah dan lunak, melainkan dibawa ke jalan yang penuh desakan, kesulitan dan tantangan. Didiklah anakku supaya ulet berdiri di atas badai. Bentuklah anakku menjadi manusia yang hatinya jernih, yang cita-citanya luhur, anak yang sanggup memimpin dirinya sebelum sanggup memimpin orang lain. Dengan demikian, aku, ayahnya akan memberanikan diri untuk berbisik, "Hidupku ini tidaklah sia-sia. "Amin. (3)
Catatan:
1. Groiler Incorporated, The New Book of Knowledge, vol. 5 (Dandury, Connecticut: Grolier Incorporated, 1995), s v. "Edision, Thomas Alva."
2. Robert H. Schuller, Keuletan Kunci Keberhasilan: Penuh Inspirasi dan Motivasi untuk Hidup Lebih Kreatif dan Produktif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 13  —  14.
3. Andar Ismail, Selamat Pagi Tuhan: 33 Renungan Tentang Doa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000).

Referensi 5b diambil dari:
Judul Buku    : Raising Kids to Love Jesus 2
Judul Artikel : Bimbingan dalam Membesarkan dan Mendidik Anak
Penulis  : H. Norman Wright
Penerbit : Gloria, Jogjakarta, 2003
Halaman  : 63  —  82

BIMBINGAN DALAM MEMBESARKAN DAN MENDIDIK ANAK
Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan; dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. Ams 24:3,4*
Saya senang memelihara binatang. Saya memelihara anak ayam, itik, dan kucing ketika masih kecil. Setelah dewasa, saya pun memelihara anak anjing. Membesarkan anak anjing tidaklah sesederhana dan semudah yang dipikirkan banyak orang karena dibutuhkan kondisi dan suasana yang sesuai. Anda akan memahami yang saya maksud bila Anda pernah mencoba menetaskan telur. Telur tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena selain membutuhkan suhu yang tetap dari pemanas, telur itu juga perlu selalu dibolak-balik. Anak anjing yang baru lahir juga membutuhkan perawatan yang sangat saksama. Ia perlu dijauhkan dari anjing-anjing yang lain. Kita juga harus mencuci tangan dulu sebelum menyentuh anak anjing itu jika kita telah menyentuh anjing lain selain induknya. Mengapa? Karena sistem kekebalan tubuh mereka belum bekerja, sehingga mereka masih sangat rentan.
SUASANA YANG MEMBANTU ANAK MENJADI SERUPA DENGAN YESUS
Suasana dalam keluarga sangat berperan untuk menoiong anak-anak menjadi serupa dengan Yesus. Ada beberapa hal yang harus dihindari. Ada pula beberapa hal lain yang harus tersedia. Mari kita cermati hal-hal yang terjadi dalam keluarga dan apa saja yang masih perlu kita lakukan.
Pernahkah Anda membantu anak-anak membuat sesuatu yang rumit seperti miniatur pesawat terbang? Saya tidak tahu pengalaman Anda. Yang jelas ketika saya mengalaminya, saya merasa perlu memiliki sebuah perencanaan yang rinci mengenai setiap potongan miniatur serta letaknya. Kehidupan keluarga juga merupakan sesuatu yang paling rumit, karena terdiri atas banyak hubungan yang rumit dan saling terkait dengan dunia di sekeliling kita. Bukan berarti semua anggota dari sebuah keluarga yang sehat akan terlihat seolah-olah keluar dari satu cetakan yang sama. Oleh kreatifitas Allah yang tak terbatas, akan muncul banyak keanekaragaman di sekeliling kita.
Adakah suatu pola khusus yang dapat diikuti untuk membangun keluarga? Saya telah menemukan beberapa pola ketika meneliti berbagai buku berdasarkan topik ini. Saat ini, banyak orang mengaku sebagai ahli di bidang ini. Siapakah yang dapat kita percaya untuk proyek yang sangat berharga ini?
Jika Anda berkata kepada seorang dokter, "Saya sehat," maka untuk memastikan ketepatan diagnosa Anda, sang dokter akan menggunakan suatu kriteria tertentu. Jikalau Anda pergi ke seorang ahli terapi keluarga dan bertanya, "Apakah keluarga saya sehat?" Kriteria apakah yang akan digunakan sang ahli terapi ini untuk menganalisanya? Mari kita lihat beberapa dasar untuk membangun keluarga yang sehat.

MEMBANGUN DASAR PERNIKAHAN YANG SEHAT
Hubungan Pernikahan
Hubungan pernikahan merupakan faktor yang paling penting dalam kehidupan berkeluarga. Hubungan pernikahan merupakan fondasi dari struktur keluarga yang akan dibangun. Kita perlu membedakan suami dan istri sebagai unit pernikahan atau sebagai unit orang tua. Namun masing-masing punya peran dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dua orang secara bersamaan dapat berfungsi sebagai pasangan dan orang tua, tetapi tetap mempunyai peran yang berbeda.
Sebuah keluarga dengan pernikahan yang tidak sehat akan selalu menghadapi pertentangan yang berat. Hubungan pernikahan yang hangat, penuh kasih, dan saling mendukung akan berpengaruh sangat baik terhadap pertumbuhan anak. Dengan banyaknya buku mengenai pernikahan, kita takkan kekurangan informasi tentang topik ini.
Bagaimana Tanggapan Keluarga Terhadap Kekuasaan?
Apakah yang terlintas dalam pikiran Anda ketika berpikir mengenai kekuasaan? Dalam konteks pembicaraan ini, saya mengartikan "kekuasaan" sebagai kemampuan setiap orang untuk mempengaruhi orang lain; atau kemampuan untuk menjadikan pikiran dan perasaan kita sebagai kekuatan utama dalam mengambil keputusan.
Kekuasaan dalam keluarga dapat dipilah-pilah dalam berbagai cara. Kekuasaan dapat dibagi secara merata di antara seluruh anggota keluarga. Atau sebaliknya, kekuasaan hanya didominasi oleh satu orang. Dalam keluarga yang berpola dominasi seperti ini, peluang untuk membangun hubungan yang dekat atau intim sangat kecil. Pasangan atau orang tua yang sangat dominan biasanya tidak dapat membina hubungan yang akrab. Dalam keluarga yang sehat, kekuasaan dibagi di antara kedua pasangan, sementara itu sedikit demi sedikit memberikan peluang kepada anak-anak untuk belajar menggunakan kekuasaan dengan cara yang sehat. Mereka mengajar anak-anak untuk mandiri.
Keakraban Keluarga
Karakteristik ketiga dari keluarga yang sehat adalah tingkat dan jenis keakraban keluarga. Keakraban satu keluarga sangatlah penting, tetapi perlu diseimbangkan dengan adanya kebebasan berekspresi dan kesempatan untuk menyendiri bagi setiap individu bila diperlukan. Artinya, Anda saling memahami dan menerima kebutuhan-kebutuhan yang timbul karena perbedaan kepribadian.
Pengekangan emosi atau pengungkapan emosi secara berlebihan dalam keluarga dapat sangat merusak. Dalam dua situasi tersebut, batas-batas pribadi cenderung dilanggar. Tidak adanya kehangatan dan kasih sayang dapat menimbulkan rasa tak aman dan kehausan akan kasih sayang. Sebaliknya, kontrol yang berlebihan menekan kebebasan dan keakraban individu.
Keakraban dan otonomi perlu diusahakan dalam sebuah keluarga. Jika tidak, kelak semua anggota keluarga, terutama anak-anak, akan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Seberapa akrab hubungan antar-anggota keluarga Anda? Seberapa baik batas-batas pribadi diperhatikan dan dihormati? Semua hal ini merupakan dasar-dasar penting dalam membangun keluarga yang sehat.
Satu keluarga memang berbeda dari keluarga lain. Demikian pula setiap orang mempunyai kepribadian yang unik. Pesan berikut perlu diperhatikan dengan saksama: tidak ada salahnya Anda menjadi diri Anda sendiri dan saya menjadi diri saya sendiri.
Pola Komunikasi
Hal keempat yang perlu dievaluasi adalah pola komunikasi dalam keluarga. Apakah setiap orang diperbolehkan untuk berbicara, membagikan perasaan, membagikan hal-hal yang disenangi dan yang tidak? Adakah setiap orang bebas mengungkapkan perasaan? Atau, adakah daftar larangan tak tertulis untuk beberapa macam emosi?
Beberapa keluarga mengizinkan anggotanya untuk marah, tetapi tidak untuk mengungkapkan kasih sayang. Mungkin saja keluarga yang lain menerapkan sebaliknya. Beberapa keluarga lainnya melarang anggota-anggotanya mengungkapkan semua jenis perasaan. Beberapa keluarga lagi membiarkan keadaan hati mempengaruhi suasana, baik itu kehangatan, sopan santun, kemarahan, depresi, atau kehilangan harapan.
Kita semua dapat bertumbuh dan berfungsi dengan baik bila lingkungan sekitar menerima kehadiran kita. Adakah setiap anggota keluarga bersedia saling mendengarkan? Yang saya maksud adalah mendengar sungguh-sungguh, dengan mata dan telinga. Kebanyakan percakapan dalam keluarga hanya seperti percakapan antara orang-orang tuli. Firman Allah memanggil kita untuk menjadi pendengar yang "selalu siap untuk mendengar" (Yak 1:19*). "Seseorang yang memberi jawab sebelum mendengar fakta-faktanya adalah bodoh dan akan mendapat malu." (Ams 18:13*).
Orang tua harus menjadi teladan. Dengan gaya komunikasi mereka sendiri, mereka dapat mengajarkan prinsip-prinsip berbicara dalam bahasa orang lain. Kita hanya perlu berhati-hati terhadap perbedaan gender dan kepribadian yang dapat memicu timbulnya berbagai macam reaksi.
Dapatkah setiap anggota keluarga mengungkapkan dirinya secara bebas? Mungkin dalam keluarga Anda setiap orang bebas memotong pembicaraan orang lain, berbicara mewakili anggota lain, atau menyelesaikan perkataan anggota keluarga lain. Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti ini dapat berkembang tanpa kita sadari.
Berdasarkan kerangka pola komunikasi, pertumbuhan dan kemajuan setiap unit keluarga dicerminkan oleh kemampuan masing-masing pribadi untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan konflik. Kemampuan bermusyawarah merupakan keahlian yang perlu dipelajari oleh pasangan suami-istri dan kemudian diajarkan kepada anak-anak mereka.
Dalam keluarga yang sehat, kita dapat menanggapi konflik sebagai peluang untuk bertumbuh. Pernahkah Anda membayangkan konflik yang terjadi dalam keluarga Yesus? Antara Yesus dan orang tua-Nya serta saudara-saudara-Nya? Saya sangat ingin tahu cara mereka menyelesaikan konflik yang ada.
Munculnya sebuah konflik dapat menjadi peluang bagi Roh Kudus untuk menuntun dan memulihkan kita.
Keluarga yang terus-menerus bertumbuh secara sehat selalu memusatkan diri pada keberhasilan dan bukan pada kegagalan. Mereka lebih mengingat saat-saat permasalahan dapat terselesaikan dan juga cara-cara pemecahannya agar mereka dapat melakukannya lagi. Mereka mau belajar dari pengalaman. Mereka tak mau terus memperdebatkan kegagalan masa lalu.

MENYESUAIKAN DIRI DAN BERTUMBUH
Beberapa tahun lalu, Chicago Cubs memenangkan kompetisi regional. Namun seperti yang biasa terjadi, seorang pemain andalan mereka mengalami kemunduran selama musim kompetisi tersebut. Manajer tim memperhatikan bahwa pemain ini menghabiskan banyak waktu untuk menonton film yang merekam penampilannya di lapangan, untuk menemukan penyebab kemundurannya. Sayangnya, hal itu jusru membuat permainannya semakin buruk!
Manajer tim menghargai usahanya mengatasi masalah sang manajer menasihatkan pemain ini untuk mulai menonton rekaman pertandingan pada masa jayanya, saat ia memukul bola dengan kekuatan penuh. Ketika ia mulai memusatkan perhatian pada hal baik yang pernah dilakukan sebelumnya, barulah ia dapat melakukannya lagi.
Kehidupan ini penuh tantangan bagi kita semua. Salah satu tantangan yang tersulit adalah menghadapi sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita karena kehilangan atau karena suatu peristiwa tragis. Kesanggupan keluarga dalam mengatasi situasi krisis maupun perubahan-perubahan yang sering terjadi dapat menjadi barometer kesehatan keluarga.
Perubahan yang umum, seperti anak meninggalkan rumah untuk sekolah, menikah, atau kembali ke rumah lagi, memberi peluang yang tak terhingga bagi seluruh keluarga untuk melakukan penyesuaian dan bertumbuh. Bagaimana tanggapan seseorang saat terjadi perubahan dan bagaimana tanggapan yang muncul antar-anggota keluarga mencerminkan kesehatan keluarga.
Banyak keluarga menjadi berantakan karena krisis yang mendadak atau perubahan yang tak terduga. Mereka memandang perubahan sebagai ancaman, sesuatu yang menakutkan. Keluarga lain mengalami kesulitan yang sama, tetapi dapat memetik pelajaran berharga dari pengalaman tersebut.
Semangat yang dimiliki keluarga berikut dapat menjadi contoh bagi kita. Seorang ibu menjalani operasi dan harus dirawat di rumah sakit selama 27 hari. Suami dan tiga anaknya yang berusia 7, 11, dan 14 tahun harus menjalani hidup tanpa ibu mereka selama masa tersebut. Mereka memasak, membersihkan rumah, dan melakukan tugas-tugas lain yang sama sekali asing bagi mereka. Ketika sang ibu kembali, ia masih perlu waktu untuk memulihkan kesehatan hingga akhirnya dapat melakukan tugasnya kembali. Pada saat-saat tertentu seluruh keluarga berkumpul dan saling berbagi tentang apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pelajari, dan bagaimana mereka berubah dengan ketidakhadiran sang ibu.
Krisis seperti ini dapat memperkuat, atau sebaliknya memperlemah hubungan yang ada. Masalah merupakan peluang yang memungkinkan kita untuk bertumbuh, baik secara perorangan maupun sebagai keluarga. Paulus menjelaskan hal ini ketika berkata:
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa [tidak biasa bagi Anda dan posisi Anda] terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita [bersorak gembiral pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya [dipenuhi cahaya dan kemegahan] (1Pet 4:12,13*).


MENJADI ORANG TUA YANG PENUH KASIH
Semua orang tua dalam keluarga yang sehat harus memenuhi panggilan Allah untuk menjadi orang tua yang penuh kasih. Tanggung jawab yang terutama adalah untuk membesarkan anak. Mari kita lihat beberapa hal yang dibutuhkan dalam membesarkan anak secara sehat.
Sebagai orang tua, pernahkah Anda berpikir, apakah yang telah saya lakukan bagi kerohanian anak saya? Banyak orang tua mempertanyakan hal ini, terutama setelah melewati hari yang penuh tekanan, sia-sia, kacau, dan melelahkan.
Ada orang tua yang berkata, "Suatu saat saya memertanyakan apakah saya telah menyelesaikan tugas saya. Kelihatannya saya hanya seperti mengawasi seorang anak pada saat-saat tertentu kemudian beralih ke anak yang lain, mencoba melindunginya dari suatu bencana, atau berusaha melakukan tindakan penyelamatan yang masih dapat dilakukan. Apakah ini, yang disebut menjadi orang tua? Apakah ini yang harus saya penuhi dalam hidup saya? Bagaimana saya dapat membawa mereka lebih dekat kepada Yesus? Saya hanya merasa seperti seorang pengawas."
Orang tua yang lain mengungkapkan, "Membesarkan anak ternyata jauh berbeda dari yang saya kira. Terkadang saya lebih merasa seperti seorang sopir dan di lain hari saya merasa seperti seorang pengontrol pekerjaan rumah anak-anak. Kemudian ada kalanya saya berperan sebagai penyeleksi acara TV dan koki untuk menyiapkan makan malam! Saya ingin berperan sebagai orang tua dalam hidup saya, dan saya tidak tahu kapan saya dapat melakukannya. Apakah saya telah kehilangan arah? Sudahkah saya memberikan waktu dan energi untuk bidang yang tepat, atau masih perlukah saya mengarahkan diri pada hal lain? Kapan saya dapat mengajar mereka menjadi lebih serupa dengan Yesus, di sela kegiatan mengasuh?"
Kadang kala mengasuh anak jauh lebih berat dibandingkan tugas lainnya. Kita sangat mudah tenggelam dalam tugas-tugas dan kegiatan rumah tangga, serta membereskan kekacauan-kekacauan yang terjadi. Dengan begitu kita tak lagi terfokus pada panggilan untuk menjadi orang tua kristiani.
Pada zaman dulu, ada saat-saat Allah memanggil umatNya untuk kembali pada tujuan utama mereka. Karena kesibukan yang ada, ada baiknya bila kita mengarahkan diri kembali pada panggilan kita sebagai orang tua. Pikirkan dan bacalah dengan cermat pemikiran berikut setiap hari selama satu bulan. Anda tidak akan kehilangan arah bila melakukannya.
Tujuan utama membesarkan anak adalah untuk menghasilkan anak yang berkarakter saleh, sehingga Allah dipermuliakan. Ini akan mengubah cara pandang kita terhadap kewajiban membesarkan anak. Tujuan kita bukan lagi untuk menyelesaikan masalah keluarga dan menemukan sedikit kedamaian. Kita terlibat dalam program akbar Allah. Kita sedang membentuk hidup yang siap masuk ke dalam kekekalan. Kita berperan dalam pembentukan watak anak sehingga ia dapat mencerminkan kemuliaan Allah.

6 - Keluarga Kristen dan Masyarakat Luas

A. BERBAGAI MACAM BENTUK DARI KELUARGA
Ayat Hafalan    : "Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti ia waktu dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat." 1Kor 7:17*.
Ketika kita berpikir tentang sebuah keluarga, biasanya kita berpikir tentang sepasang suami istri dan anak-anak mereka. Dalam pelajaran ini kita akan melihat pola keluarga yang berbeda; Ada pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak; dalam ada keluarga yang hanya memiliki satu orang tua; Selain itu ada juga orang-orang yang tetap tinggal sendiri (membujang). Allah bisa menghormati dan memberkati semua pola keluarga ini jika semua anggota keluarga tersebut mau menyerahkan diri kepada Tuhan.
1. Keluarga Tanpa Anak
a. Pola Perjanjian Lama
Pada masa Perjanjian Lama (PL), mempunyai banyak anak dianggap sebagai berkat bagi keluarga. Banyak anak artinya Tuhan berpihak pada mereka. "Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN." (Mazm 128:3-4*). Sebaliknya, tidak mempunyai anak dianggap sebagai aib, suatu tanda bahwa Allah tidak memberkati mereka. Namun di pihak lain, kita juga melihat bahwa tanpa anak, keluarga PL sebenarnya masih dihargai. Elkana berkata kepada istrinya Hana yang tidak memunyai anak, "Bukankah engkau lebih berharga bagiku daripada sepuluh anak laki-laki?" (1Sam 1:8*).
Bangsa Israel tinggal di antara bangsa-bangsa penyembah dewa-dewa kesuburan. Namun bangsa Israel memandang Allah sebagai pemberi hidup dan berkat satu-satunya, "buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu." (Ul 28:4*). Bacalah Kej 30:1-2* untuk mendengarkan tangisan Rahel yang mengeluh pada suaminya karena tidak memiliki anak. Yakub, suaminya marah, dan menjawab "Akukah pengganti Allah yang telah menghalangi engkau mengandung?"
b. Penekanan yang Baru Bersama Yesus
Dalam Perjanjian Baru (PB), setelah kedatangan Sang Mesias, Penebus, ada perubahan sikap terhadap ibu. Ada perubahan secara berangsur-angsur tentang pemikiran bahwa memunyai anak adalah hal yang paling utama bagi wanita. Nilai dari seorang wanita tidak lagi tergantung pada jumlah anak yang dilahirkannya. Titik berat beralih dari kelahiran secara fisik menjadi kelahiran secara rohani - yaitu jalan masuk ke dalam keluarga Allah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tentang hal memunyai anak disebutkan dalam 1Tim 5*. Paulus menasihatkan untuk menangani masalah janda-janda yang masih muda, mengikuti apa yang diinginkan oleh budaya setempat, supaya menikah lagi dan mempunyai anak. Alasannya adalah masalah moral (1Tim 5:11*) dan arti dari suatu kehidupan (1Tim 5:16*). Mereka tidak ingin gereja dibebani dengan menghidupi orang-orang muda tanpa sumber penghasilan untuk masa yang panjang.
c. Banyak Karunia
Tuhan Yesus menghormati dan merawat ibu-Nya. Tapi, Yesus menunjukkan bahwa seorang wanita tidak dihargai dalam pandangan Allah karena kemampuannya melahirkan anak, namun karena melakukan kehendak Tuhan. Bacalah dalam Luk 11:27* tentang wanita yang berteriak di antara orang banyak, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Yesus menjawab, "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memelihara-Nya." Ada banyak karunia lain yang dapat diberikan di samping anak-anak, dan karunia tersebut sama pentingnya. Seseorang dapat menyenangkan Allah dengan memunyai anak atau tanpa anak.
d. Beberapa Kepercayaan yang Salah.
Kepercayaan salah yang pertama: "Tidak punya anak selalu merupakan kesalahan istri."
Yang Benar: Tidak demikian! Tidak memunyai anak tidak seharusnya dianggap sebagai "kesalahan" suami atau pun istri, terutama istri. Saat ini, banyak yang dapat dilakukan secara medis untuk menolong pasangan yang tidak memunyai anak, dan mereka hendaknya tidak ragu-ragu untuk meminta nasihat dari dokter yang kompeten. Kepercayaan salah yang kedua: "Tidak mempunyai anak berarti pernikahan itu gagal."
Yang Benar: Tidak demikian! Meskipun tidak ada anak-anak yang dilahirkan, ada banyak alasan untuk pernikahan tetap bertahan, berbahagia dan diberkati. Memunyai anak hanya salah satu alasan adanya pernikahan. Dapat saling memberikan kasih, membantu untuk menjadi apa yang Allah inginkan, menguatkan dan menghibur - semuanya itu dapat memberikan kepuasan yang penuh. Kemampuan untuk dapat melahirkan anak tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa Anda memang bisa melahirkan anak. Ada jauh lebih banyak lagi yang diperlukan untuk membuat seseorang menjadi seorang suami atau istri yang baik, menjadi seorang ibu atau ayah yang baik.
Kepercayaan salah yang ketiga: "Tidak mempunyai anak merupakan hukuman Allah atas dosa."
Yang Benar: Tidak demikian! Tidak dikaruniai anak bukanlah tanda bahwa Allah sedang menghukum dosa kita. Anak adalah karunia Allah, dan Allah memunyai banyak karunia lain yang bisa diberikan.
Kepercayaan salah yang keempat: "Jika mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, mereka pasti akan mendapatkan anak."
Yang Benar: Tidak selalu! Jika sepasang suami istri mengasihi Allah, mereka harus percaya bahwa apa pun yang diberikan kepada mereka adalah yang terbaik, dan bukan terbaik nomor dua. Jika pasangan telah berkonsultasi dengan dokter yang baik dan sudah melaksanakan nasihatnya dan berdoa dengan sungguh-sungguh supaya diberikan anak - namun kemudian tidak ada anak yang dilahirkan, Tuhan memunyai sesuatu yang lebih baik bagi pasangan tersebut.
2. Rumah Tangga dengan Orang Tua Tunggal
Ada keluarga yang hanya mempunyai satu orang tua (orang tua tunggal). Hal ini bisa disebabkan karena kematian, perceraian, atau karena hidup yang tidak bertanggung jawab sehingga memiliki anak di luar nikah. Yang cocok bagi Allah adalah sebuah rumah tangga yang memunyai ayah dan ibu yang mengasihi. Tetapi, banyak orang yang akhirnya membesarkan anak-anak seorang diri. Tapi bagaimanapun, kita patut berterima kasih kepada orang tua tunggal yang rela menerima tanggung jawab ini.
Ketika anak-anak kehilangan satu orang tua karena kematian, maka orang tua yang masih hidup memunyai tugas yang berat untuk mengasuh anak-anak sendirian sementara masih berduka dan menyesuaikan diri karena kehilangan pasangannya. Sedangkan mereka yang gagal mengikuti rencana Allah dan sekarang harus merawat anak di luar nikah, hal ini juga menjadi tugas yang berat. Mereka bergumul mencari kehidupan yang baik bagi anak-anaknya agar dapat bertumbuh sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Tetapi Allah menerima kita apa adanya, karena Dia mengasihi kita. Dia mengampuni kehidupan kita yang keluar dari rencana-Nya dan gagal menerima berkat-berkat yang sudah disiapkan bagi kita. Maka kita harus menerima pengampunan itu dan mulai hidup dalam jalan-Nya dan mendidik anak-anak menurut jalan Tuhan (Ams 22:6*).
3. Orang yang Tidak Pernah Menikah
Biasanya seorang pria atau wanita pasti menikah. Namun ada perkecualian. Anda tidak harus menikah untuk mendapatkan kehidupan yang penuh dan bahagia. Rasul Paulus memberikan nasihat yang baik dalam 1Kor 7:17* saat dia berkata, "Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang hidup tetap seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah." Orang-orang yang mempunyai karunia untuk hidup sendiri "demi Kerajaan Allah" mampu untuk bertumbuh dalam kedewasaan sebagai pribadi-pribadi yang mengasihi tanpa harus melewati sebuah pernikahan. Mereka mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk melayani Tuhan. Paulus mengatakan bahwa ada keterbatasan untuk melayani Tuhan jika kita menikah. "Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku." (1Kor 7:8*).
Orang yang tidak menikah secara khusus harus memandang Allah sebagai sumber kekuatannya. Sangat mudah pada masa sekarang ini untuk orang yang tidak menikah terjerumus dalam perzinahan. Kalau Allah memberikan karunia hidup sendiri, maka Dia juga akan memberikan kekuatan untuk hidup dengan moral yang baik dan benar yang akan membawa kesaksian yang indah bagi-Nya.
4. Orang yang Bercerai
Perceraian bukanlah dosa yang tidak bisa diampuni. Allah masih mengasihi orang yang telah bercerai. Namun ia akan sangat bersalah jika dia tidak mencari dan menerima anugerah pengampunan dari Allah. Bagaimanapun perceraian bukanlah cara tepat untuk menangani masalah pernikahan. Perceraian melemahkan semangat, menghancurkan impian-impian dan mencerai-beraikan keluarga. Perceraian juga melemahkan kehidupan sebagai akibat dari kesepian, kepedihan, dan kedukaan. Perceraian merupakan pengumuman secara hukum di hadapan umum tentang kehancuran suatu keluarga. Hal ini jahat di mata Tuhan, Pencipta dari suatu keluarga. "Aku membenci perceraian," firman Allah dalam ayat Mal 2:16*! Bacalah juga Mr 10:2-12* untuk belajar apa yang Yesus ajarkan tentang perceraian. Secara positif Tuhan Yesus mengatakan bahwa pernikahan adalah dari Allah dan tidak boleh dihancurkan.
5. Jika Hanya Satu yang Kristen
Kita sudah mempelajari pentingnya memilih seorang Kristen sebagai pasangan hidup. Namun kadang-kadang seseorang menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Mungkin saja pasangannya itu akan diselamatkan setelah menikah, tapi yang jelas ia telah membuat suatu pilihan tanpa memperhatikan dengan serius pada rencana Allah. Dalam 1Kor 7* Paulus berbicara tentang menikah dengan orang yang belum diselamatkan. Dalam ayat 1Kor 7:15* dia mengingatkan kepada kita, "Tuhan memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera." Orang Kristen yang memiliki pasangan yang belum diselamatkan memunyai tanggung jawab besar untuk mempraktekkan prinsip-prinsip kekristenan tanpa dukungan dari pasangannya. Dalam hal ini, orang Kristen tersebut harus ingat untuk tetap berhubungan dengan kasih, lemah lembut, dan rendah hati dengan pasangannya. Petrus secara khusus berbicara kepada seorang istri yang suaminya belum diselamatkan, mendorongnya untuk hidup dengan jalan yang memungkinkan bisa membawa suaminya untuk mengenal Tuhan (1Pet 3:1*).
Paulus memerintahkan pada pihak yang Kristen untuk tidak menghancurkan pernikahan, tapi membebaskan pihak Kristen dari tanggung jawab jika pasangannya yang belum percaya tersebut meninggalkannya. Bacalah 1Kor 7:12-15*. Ketika pasangannya memilih untuk pergi, orang Kristen tersebut memiliki kebutuhan yang besar akan kasih dan dukungan dari lingkungan Kristen.

B. KELUARGA DAN MASYARAKAT
Ayat Hafalan    : " …  Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;  …  Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!" (Yos 24:15*).
Ketika Yosua dan umat Israel mengamati Tanah Perjanjian, mereka mempunyai pilihan yang harus dipilih.
a. Mereka bisa melayani allah nenek moyang mereka dulu.
b. Mereka bisa melayani allah asing di tanah baru yang mereka masuki.
c. Mereka bisa melayani satu-satunya Allah yang benar yang menyatakan diri-Nya pada umat Israel dan membebaskan mereka dari perbudakan.
Anda pun memiliki beberapa pilihan, khususnya untuk mengikuti atau tidak mengikuti budaya atau adat yang berlaku di tempat Anda tinggal.
1. Upacara Pernikahan
Sebuah pernikahan Kristen dimulai dengan persetujuan antara dua keluarga bersama dengan sumpah dan khalayak ramai. Ini adalah saat yang indah untuk menjadi saksi di lingkungan masyarakat Anda. Dalam pernikahan Kristen, sebuah upacara pernikahan hendaknya menjadi kesaksian dari iman dalam Tuhan dan komitmen Anda pada pasangan Anda. Anda punya kesempatan yang unik bagi penafsiran secara Kristen tentang nilai-nilai budaya.
Hati-hatilah dalam mempersiapkan pernikahan, buatlah sederhana supaya tidak memberi kesaksian yang buruk untuk nama Tuhan. Tujuan dari pernikahan Kristen adalah untuk memuliakan Allah, bukan untuk membuat orang lain kagum. "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15*).
Pasangan yang baru saja menikah kadang-kadang terjebak untuk terlibat dalam hutang karena harus membayar biaya pernikahan yang mahal, hadiah untuk anggota keluarga, bahkan akhirnya ikut membantu kebutuhan keluarga, baik keluarga suami atau istri. Bicarakan terlebih dahulu dengan pasangan Anda dan putuskan apa yang terbaik dengan uang yang ada. Belajarlah untuk hidup sederhana dan bertanggung jawab.
2. Keluarga Besar/Sanak Saudara
Ketika hari pernikahan tiba, terjadi perubahan; si pria dan wanita yang dulu hidup dengan ayah dan ibu mereka, sekarang harus menggabungkan diri untuk mendirikan keluarga yang baru. Kasih dan kesetiaan mereka yang pertama sekarang adalah untuk pasangan mereka. Alkitab mengatakan, " …  laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka akan menjadi satu daging." (Mat 19:5*). Curahkan semua simpati, penghiburan dan persahabatan yang Anda inginkan pada pasangan Anda, supaya hubungan yang intim dan dalam terbentuk. Kalau Anda bicara lebih terbuka kepada ibu atau ayah Anda daripada dengan suami atau istri Anda, maka Anda kehilangan sukacita yang penuh dari suatu pernikahan.
Namun hal ini tidak berarti bahwa keluarga dan sanak saudara yang lain segera dilupakan saat upacara pernikahan selesai. Di belakang dan di samping pasangan muda tersebut berdiri orang tua dan kakek atau nenek, bibi dan paman, saudara laki-laki dan perempuan. Bersama-sama, pasangan muda akan belajar untuk mengasihi dan menghargai semua saudara baik dari pihak suami atau istri. Bersama-sama mereka akan memberikan hormat dan kebaikan kepada para orang tua yang telah mengasuh mereka dari masa kanak-kanak. Tanggung jawab keluarga, yang dimiliki oleh suami atau istri secara pribadi, setelah pernikahan akan ditanggung bersama. Jika satu pihak mempunyai adik, orang tua yang sudah lanjut, sanak saudara yang sakit atau miskin yang harus dibantu, maka sudah sewajarnya dengan senang hati membantu seberapa bisa. Yang harus diingat, janganlah hal-hal tersebut memisahkan atau merenggangkan hubungan mereka. Bekerja sama untuk saling mengasihi dan menolong orang lain seharusnya menarik suami dan istri ke dalam hubungan yang lebih intim satu dengan yang lain.
Rumah tangga Kristen Anda dapat menjadi contoh bagi sanak saudara dan masyarakat. Kalau kasih Kristus dapat dilihat dalam hubungan keluarga Anda, maka yang lain akan menginginkan bimbingan Anda. Kalau Anda menunjukkan kedewasaan dan kepemimpinan Kristen, orang-orang di sekitar Anda akan menginginkan Anda duduk bersama mereka dan menjelaskan jalan hidup orang Kristen.
3. Muliakanlah Allah dalam Rumah Anda
Pergi ke gereja bersama-sama sangatlah penting. Namun pergi ke gereja tidak bisa menggantikan kesempatan melakukan ibadah keluarga. Dalam ibadah keluarga, setiap anggota keluarga dapat berperan. Ibadah dapat dibentuk untuk memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga untuk belajar Alkitab, berdiskusi atau memuji dan memuliakan Allah bersama. Jika Anda tidak merencanakan dan mempersiapkan pengalaman-pengalaman seperti itu, maka hal-hal itu tidak akan terjadi.
Keluarga bertanggung jawab atas pendidikan rohani anggotanya. "Apa yang kuperintahkan kepadamu
pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ul 6:6-7*). Pendidikan Kristen terdiri dari memberikan pengajaran, koreksi, dorongan, mendisiplin secara rohani. Mungkin yang lebih penting dan merupakan perintah secara langsung adalah memberi contoh kehidupan Kristen, terutama bagi anak-anak. Dengan sikap hidup Anda, bukti dari iman Anda, dan kerajinan Anda dalam mempelajari Firman Tuhan, lebih banyak yang bisa dipelajari jika dibandingkan dengan hanya mengajar.
Rayakanlah kebaikan Tuhan dalam keluarga Anda, demikian juga kejadian-kejadian penting bagi anggota keluarga seperti ulang tahun, kedatangan saudara atau teman, hari pertama sekolah, dll.. Para anggota keluarga dapat merenungkan pekerjaan dan berkat Tuhan lalu memberikan kesaksian bagi orang-orang di sekeliling mereka.
4. Keluarga Anda dan Gereja
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1Yoh 1:7*). Bacalah Ibr 10:24-25*. Gereja membentuk semacam keluarga besar yang mana seluruh anggota berhubungan seperti saudara-saudara dalam Kristus. Gereja akan menyediakan makanan rohani, semangat untuk bertumbuh, kesempatan untuk beribadah, bersekutu dan saling mendukung di masa-masa sulit. Keluarga perlu berdiskusi dan merencanakan terlibat dalam pelayanan gereja. Mereka perlu menjadi anggota dari sekolah Minggu, kebaktian, persekutuan doa, pelayanan keluar, pemuridan dan kegiatan-kegiatan lain. Keluarga harus merencanakan bersama-sama untuk memberikan perpuluhan dan persembahan. Keluarga dapat mendukung para pemimpin gereja dengan mengungkapkan sikap-sikap yang positif dan memberikan semangat. Keluarga-keluarga di gereja akan mempunyai hubungan yang dekat saat mereka ingat untuk saling mendoakan.
5. Keluarga Anda dan Orang Lain
Selain dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang telah dibicarakan, suatu keluarga hendaknya juga berhubungan baik dengan para tetangga, teman, orang-orang yang kekurangan, orang asing, rekan sekerja, pemerintah, pegawai di sekolah, dan masih banyak lagi yang lain. Sama seperti tiap orang percaya diperintahkan untuk melayani, demikian juga keluarga. Alkitab menekankan bahwa apapun yang Anda lakukan, lakukanlah untuk kemuliaan Tuhan. "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1Kor 10:31*). "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol 3:17*).
MANUSIA DAPAT MENEMUKAN SUKACITA DAN KEPUASAN JIKA DIA MENGATUR HIDUPNYA MENURUT RENCANA ALLAH

DOA
"Bapa, tolonglah keluarga kami agar dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang memuliakan Engkau melalui kegiatan hidup kami sehari-hari. Kiranya kasih karunia-Mu memancar melalui kehidupan kami dan keluarga kami sehari-hari. Amin"

PERTANYAAN A:
1. Mengapa ada kelompok-kelompok masyarakat di Perjanjian Lama yang menganggap aib jika keluarga tidak memiliki anak?
2. Perubahan konsep apa yang terjadi dalam Perjanjian Baru tentang keluarga/wanita yang tidak melahirkan anak?
3. Apakah keluarga yang tidak dikaruniai selalu berarti bahwa keluarga itu kurang beriman kepada Tuhan?
4. Mengapa orang tua tunggal yang memiliki anak di luar nikah harus bertobat dan menerima pengampunan dari Allah?
5. Dosa apakah yang mengancam orang yang membuat keputusan untuk tidak menikah seumur hidup?
6. Apakah arti perceraian bagi orang Kristen?
7. Pergumulan terberat apakah yang harus dipikul oleh pasangan yang menikah dengan orang yang tidak seiman?
8. Mengapa orang Kristen disarankan untuk merayakan pernikahan dengan sederhana?
9. Apakah arti ayat ini, " …  laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka akan menjadi satu daging." (Mat 19:5*)?
10. Apakah artinya "muliakanlah Tuhan dengan keluargamu"?
PERTANYAAN B:
1. Apakah menjadi orang yang membujang seumur hidup adalah dosa dan orang itu tidak akan mungkin bisa menjadi dewasa?
2. Bagaimana membangun ibadah keluarga di keluarga Anda? Ceritakan pergumulan keluarga Anda masing-masing.

Referensi 6a diambil dari:
Judul Buku    : Liku-liku Problema Rumah Tangga
Judul Artikel : Keluarga yang Sehat
Penulis  : Dr. Clyde M. Narramore
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
Halaman  : 12  —  26

KELUARGA YANG SEHAT
Keluarga yang sehat bukanlah sekelompok manusia yang sekadar hidup bersama-sama dan saling berbagi pengalaman. Kalau saya mengatakan bahwa keluarga Santosa adalah keluarga yang sehat, sesungguhnya yang saya maksudkan bukanlah bahwa setiap anggota keluarga Santosa itu bebas dari segala macam penyakit. Yang saya maksudkan ialah bahwa setiap pribadi dalam keluarga itu, yang tua dan yang muda, sedang menikmati kehidupan ini dan sedang bertumbuh menjadi orang sebagaimana yang direncanakan Allah baginya.
Apa yang menjadi ciri suatu keluarga yang sehat? Apakah yang terjadi di dalam keluarga yang setiap anggotanya sedang hidup dan berkembang dengan cara yang sehat? Saya yakin bahwa hal-hal yang berikut ini merupakan esensi dari satu keluarga yang sehat.
1. Membina Rasa Saling Menghargai
Di dalam keluarga yang sehat, baik orang tua maupun anak-anak, sama-sama membina rasa saling menghargai. Sang suami memperlakukan sang istri dengan baik dan dengan kasih, dan dengan demikian memberi teladan yang dapat diikuti oleh seluruh keluarga.
Untuk membina rasa hormat atau menghargai, orang tua perlu mendengarkan dengan cermat anak-anaknya. Orang tua tidak boleh memotong jika anaknya sedang berbicara. Memotong pembicaraan anak-anak bukan hanya menjengkelkan mereka, tetapi seakan-akan sekaligus mengatakan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang penting. Orang tua patut meminta saran-saran dari anak-anak mereka. Jika anak-anak itu melihat bahwa ada saran mereka yang dilaksanakan, maka mereka akan merasa diri mereka berharga.
Cara lain bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa mereka menghargai anak-anaknya ialah dengan mendorong mereka untuk sedapat mungkin mengambil keputusan sendiri. Dengan mengizinkan mereka untuk membuat beberapa keputusan, mereka mengetahui bahwa orang tua mereka mempercayai mereka dan keputusan mereka. Hal in akan memupuk perasaan untuk menghargai dirinya sendiri.
Untuk memupuk perasaan menghargai dirinya sendiri itu kita perlu bersikap sopan terhadap anak-anak. Jika orang tua berkata: "Terima kasih," "Bolehkah saya  … ?," dan "Tolong  … " kepada anak-anak, anak-anak pun akan mulai memakai ungkapan-ungkapan itu terhadap orang lain. Rasa menghargai akan melahirkan rasa menghargai.
Seorang anak perlu mendengar komentar yang positif tentang dirinya. Kita akan membuat anak itu berlaku tidak sopan, jika kita terus-menerus mempermainkan dia. Ia akan mulai merasa rendah diri dan juga merasa dirinya tidak layak.
Untuk membangun rasa menghargai, orang tua harus menaruh perhatian pada berbagai macam kegiatan anaknya. Gambar hasil karya anak itu sangat penting bagi anak itu sama seperti suatu urusan dagang yang besar bagi orang tua.
Jika Anda mengakui kepada anak-anak Anda bahwa Anda bersalah pada waktu Anda memang bersalah, maka Anda menyebabkan mereka menghargai Anda dan juga menghargai diri mereka sendiri sekalipun jika mereka pada suatu saat kelak berbuat salah. Kadang-kadang orang tua memberi pesan yang harus disampaikan oleh seorang anak: "Katakan kepada mereka bahwa saya tidak di rumah," atau "Katakan kepada mereka bahwa saya tidak dapat pergi, saya sakit". Jika pesan-pesan itu tidak benar dan anak-anak mengetahui hal ini, maka anak itu jadi kurang menghargai orang tuanya. Mereka pun akan bertanya-tanya apakah mereka juga sering dibohongi oleh orang tua mereka. Ini merupakan salah satu peristiwa di mana orang tua harus mengakui kesalahan mereka kepada anak-anaknya.
2. Menemukan dan Mengembangkan Bakat
Setiap manusia lahir di dunia ini dengan seperangkat bakat dan kemampuan yang unik, dan di rumahlah tempat yang paling tepat untuk menemukan bakat dan kemampuan setiap orang, mengenalinya, dan mengembangkannya. Inilah bagian yang paling mendebarkan dan menyenangkan dari suatu kehidupan keluarga yang sehat! Keluarga menjadi makin kuat dan makin bermanfaat karena dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan dari setiap anggotanya.
Keluarga harus mendorong sang ibu dalam minat dan bakat-bakatnya. Hal yang sama pun harus dilakukan terhadap sang ayah. Janganlah membiarkan orang tua berdiam diri. Setiap orang harus bertumbuh dan mengembangkan bakat-bakatnya. Setiap anggota keluarga harus mendorong sang ayah; setiap anggota keluarga harus memberi semangat kepada sang ibu. Dengan cara demikian mereka akan menjadi orang-orang Kristen yang lebih berbahagia, lebih sehat dan lebih berguna.
Orang tua harus menemukan bakat-bakat yang dikaruniakan Allah kepada putra-putrinya. Mereka harus mulai memperhatikan minat-minat ini sejak anak-anaknya masih kecil. Walaupun dalam masa pertumbuhan mereka, dari waktu ke waktu, minat anak-anak itu berubah, beberapa bakat biasanya tetap bertahan melampaui masa kanak-kanak, masa remaja, dan terus tetap bertahan dalam masa dewasa.
Dalam keluarga yang sehat, orang tua melakukan segala sesuatu yang mereka sanggup untuk menolong setiap anak agar menemukan bakat-bakatnya dan menggunakan bakat itu di dalam waktu senggang dan dalam berbagai hobi mereka. Jimmy mulai menunjukkan suatu minat dalam bidang memotret sejak umur sekitar sembilan tahun. Orang tuanya mendorong dia untuk membaca buku dan majalah mengenai seni memotret. Mereka membelikannya sebuah kamera yang sederhana sehingga ia dapat membuat berbagai potret, dan mereka juga memberi dia semangat. Jimmy benar-benar menikmati hobi ini dan mendapat banyak manfaat berkat dukungan orang tuanya.
3. Mengungkapkan dan Menunjukkan Kasih
Salah satu kebutuhan emosional yang paling penting adalah kasih-sayang. Setiap orang mendambakannya; setiap orang membutuhkannya. Tempat yang terbaik untuk menunjukkan, menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, dan mempraktekkan kasih sayang adalah di dalam keluarga. Dengan demikian, setiap anggota keluarga - ibu, ayah, putra, dan putri - berkembang dengan cara yang sehat dan dengan demikian akan dapat menyisihkan banyak sekali masalah di dalam kehidupan ini.
Memberi dan menerima kasih sayang ini harus berlaku bagi setiap orang di dalam keluarga. Orang tua harus saling menunjukkan kasih. Anak-anak harus menunjukkan kasih kepada orang tua, dan orang tua harus menunjukkan kasih kepada anak-anak mereka. Kakak-beradik harus saling mengasihi.
Dengan demikian di dalam diri setiap anggota keluarga - terutama sekali di dalam diri sang anak - akan tumbuh rasa menghargai dirinya sendiri dan akan memiliki sikap atau pandangan yang sehat terhadap dirinya sendiri. Suasana ini juga akan menumbuhkan rasa saling mempercayai dan saling menghargai di antara para anggota keluarga. Pada waktu anak itu sudah dewasa, pengalamannya di dalam keluarga yang penuh kasih akan membuat ia sanggup membuka dirinya kepada orang lain dan menjadi berkat bagi mereka.
Penting sekali agar orang tua senantiasa ingat untuk mengungkapkan kasih sayang mereka secara lisan, selain mengungkapkan kasih mereka dalam bentuk perbuatan. Tindakan atau perbuatan memang penting, namun kata-kata dapat makin meneguhkan apa yang sudah dinyatakan dalam bentuk perbuatan itu. Orang tua harus berkata dengan terus terang: "Saya sayang padamu, Budi" atau "Saya sayang padamu, Tina". Jika kasih itu diucapkan di dalam keluarga, maka anak-anak akan bertumbuh menjadi dewasa dan kelak dapat mengasihi suami atau istri mereka dengan sepenuh hati dan secara terang-terangan. Mereka akan terhindar dari kekurangan yang diderita banyak orang yaitu ketidakmampuan untuk menunjukkan dan menerima kasih sayang.
4. Menghormati Batas-batas yang Wajar
Segala sesuatu di dalam kehidupan ini ada batasnya. Mau atau tidak mau, untuk setiap orang ada hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Tempat yang paling baik untuk belajar mematuhi dan menghormati batas-batas ini ialah di dalam keluarga.
Orang tua dalam keluarga yang sehat menampilkan diri mereka menjadi contoh bagi anak-anak mereka dengan mematuhi undang-undang dan peraturan-peraturan negara, daerah, dan pemerintah setempat. Kepatuhan ini diperlihatkan baik dalam kata-kata maupun tindakan. Anak-anak akan belajar menghargai dan menyukai diri mereka dengan lebih baik apabila mereka taat, seperti orang tua mereka juga taat.
Jika seseorang melanggar hukum, maka ia akan dihukum menurut sistem peradilan yang ada. Demikian juga halnya jika anak-anak tidak taat; mereka pun harus dikenakan tindakan disiplin. Jika orang tua menghukum anak-anak mereka, itu berarti mereka sedang menunjukkan bahwa kasih mereka terhadap anak-anak mereka itu cukup besar sehingga mereka ingin membuat agar anak-anak itu taat. Sebagian orang merasa sulit menerima prinsip ini, namun hal ini memang benar. Kitab Amsal menyatakan: "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" (Ams 3:12*).
Jika seorang anak yang baru berumur lima tahun bersikeras untuk bermain-main di tengah jalan yang ramai, maka cara satu-satunya untuk mencegahnya ialah dengan menghukumnya, dan ia memang harus dihukum. Sama sekali tidak masuk akal jika ada orang tua yang mengasihi anaknya, tetapi mengizinkan dia untuk melakukan sesuatu yang bodoh seperti bermain-main di tengah lalu lintas yang ramai.
Tentunya, hukuman dan tindakan koreksinya harus sesuai dengan umur dan kepribadian anak itu. Waktu anak itu sudah makin besar, maka orang tuanya juga sudah harus makin sedikit menggunakan pukulan sebagai sarana hukuman. Bagi anak yang lebih besar orang tua sudah harus lebih banyak bertukar pikiran dengan anak itu, serta mengemukakan alasannya yang masuk akal atas apa yang dilakukannya itu. Beberapa bentuk hukuman lebih cocok bagi sebagian anak tertentu daripada bagi sebagian lainnya.
Dalam mengajarkan anak untuk menghormati undang-undang atau peraturan dan dalam melaksanakan tindakan disiplin, orang tua perlu menjelaskan kepada sang anak apa yang seharusnya ia lakukan dan mengapa ia harus dihukum untuk kesalahannya itu. Mengatakan "lakukan itu karena saya mengatakan demikian kepadamu" tidaklah akan menolong anak itu untuk mengerti atau menghargai wewenang.
5. Mengembangkan Citra Diri Sendiri yang Sehat
Bagi seorang anak atau orang dewasa hampir tidak ada hal lain yang lebih penting daripada citra yang sehat tentang dirinya sendiri. Seorang yang menghargai dirinya sendiri atau yang mempunyai citra diri yang sehat akan dapat mengatasi berbagai kesulitan di dalam kehidupan ini.
Orang tua perlu menolong anak-anak mereka agar mereka memupuk dan mengembangkan perasaan yang positif tentang diri mereka sendiri. Seorang anak yang memiliki citra diri yang baik bukan hanya akan disenangi banyak orang di sekelilingnya, tetapi rasa harga diri itu juga akan terus terbawa sampai ia menjadi dewasa. Perasaan yang positif tentang diri sendiri akan menyanggupkan dia untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan keadaan yang terus berubah.
Orang tua dapat membangun citra diri yang sehat dalam diri anak-anak mereka dengan memberi semangat kepada mereka untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka. Mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak-anak bukan hanya akan memberi kesan bahwa mereka itu penting, tetapi orang tua juga akan tetap mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri anak-anak itu, bagaimana sifat dan kepribadian mereka itu dibentuk dan dipengaruhi.
Orang tua dapat menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka itu penting bagi Allah. Ajarkanlah kepada mereka dari Alkitab bahwa Allah sendiri telah menciptakan mereka menurut gambar dan rupa Allah sendiri dan bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dengan harga yang mahal, yaitu darah Anak-Nya. Beritahukanlah kepada anak-anak itu bahwa malaikat-malaikat sedang melindungi mereka dan bahwa surga telah dipersiapkan untuk mereka. Segala kebenaran yang indah ini akan meyakinkan anak-anak bahwa mereka itu berharga sekali. Kehidupan mereka berharga di mata Allah, dan hal ini seharusnya membuat mereka melihat bahwa kehidupan mereka itu penting.
Tetapi bukan hanya anak-anak yang mendapat manfaat jika anak mempunyai citra diri yang sehat. Orang tua juga mendapat manfaat. Itu sebabnya suami istri hares saling memberi semangat. Janganlah ada salah seorang orang tua yang melewatkan satu hari pun tanpa dihargai atau tanpa mendapat dorongan semangat dari kawan hidupnya.
6. Peka terhadap Keadaan Masyarakat dan Dunia
Dalam keluarga yang sehat anak-anak menjadi besar dengan menyadari bahwa mereka bukan hanya bagian dari satu keluarga, tetapi juga bagian dari masyarakat dan bangsa-bangsa di luar batas negara mereka. Saat kita hanya memikirkan diri kita sendiri saja sekarang sudah lewat. Hampir tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di satu negara tanpa mempengaruhi negara lain. Anak-anak harus menyadari akan tanggung jawab mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sesama manusia mereka.
Di dalam keluarga Kristen, anak-anak harus belajar bahwa tanggung jawab mereka terhadap dunia itu lebih daripada sekadar mengetahui saja. Tanggung jawab itu meliputi juga usaha untuk mencari jalan bagaimana caranya mereka dapat ikut membantu. Satu contoh yang nyata yang dapat dimengerti anak ialah merogoh saku mereka untuk mengeluarkan uang untuk dikirim kepada orang-orang di luar negeri yang tidak seberuntung diri mereka.
Sayang sekali bahwa di dalam kebanyakan rumah tangga anak-anak tidak pernah diberi kesempatan untuk membagikan apa yang mereka miliki kepada orang lain dengan cara demikian. Sehingga anak-anak menjadi besar dengan hanya memikirkan diri mereka sendiri, mobil mereka sendiri, milik pribadi mereka, atau apa saja. Mereka tidak pernah mengalaml bagaimana rasanya memikirkan tentang orang lain yang berada di dalam masyarakat dan di negara lain, mereka tidak pernah mengalami bagaimana rasanya berdoa dan menolong mereka.
Sekarang terserah kepada orang tua apakah mereka bersedia untuk saling menolong dan dengan demikian menolong anak-anak mereka untuk mengembangkan pandangan terhadap dunia yang luas ini. Hendaknya tidak ada anggota keluarga yang menyembunyikan diri dan hidup seperti siput. Orang tua harus menjadi teladan dalam hal menaruh minat dan perhatian terhadap orang-orang lain atau terhadap organisasi-organisasi lain di seantero dunia.
7. Dipuaskan secara Rohani
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memelihara ketiga bidang kehidupan manusia: jasmani, emosional, dan rohani. Banyak keluarga yang mengabaikan kebutuhan rohani mereka, terutama kebutuhan rohani anak-anak mereka.
Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga merupakan makhluk rohani. Mereka mempunyai jiwa yang
harus diberi makan, sebab jika tidak jiwa mereka akan jadi kerdil. Sama seperti tubuh mereka harus diberi makan dan pakaian, demikian juga kerohanian mereka harus dipelihara dan diberi makan.
Sekali peristiwa ketika saya sedang bepergian dengan pesawat terbang saya duduk berdampingan dengan seorang pengusaha yang menceritakan kepada saya tentang keluarganya. Ia sangat bangga tentang anaknya yang adalah seorang atlet yang baik. Orang ini berkata bahwa ia telah bertekad untuk mendorong anak-anaknya di dalam kegiatan sekolah dan olahraga. Ia menyekolahkan mereka di salah satu perguruan tinggi yang terbaik (dan yang termahal) di negaranya agar mereka dapat meraih hasil yang sebesar-besarnya di dalam kehidupan mereka. Ketika saya menanyakannya apakah ia sudah memenuhi kebutuhan rohani anak-anaknya, ia memandang kepada saya dengan roman muka seolah-olah saya adalah orang yang baru saja tiba dari angkasa luar. Ia bukan orang Kristen, dan ia tidak pernah memikirkan soal mengikutsertakan Allah dalam keluarganya.
Sebagai suami istri kita harus senantiasa saling mendorong untuk berperan sebaik-baiknya bagi Kristus. Janganlah ada seorang ayah atau ibu yang tinggal diam secara rohani. Kita harus saling menolong agar bertumbuh.
Sebagai orang tua, kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah memberikan kepada anak-anak kita nilai-nilai yang kekal. Sudahkah kita mengusahakan segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk membina iman mereka kepada Allah? Kita dapat menolong anak-anak kita secara rohani dalam banyak cara. Sebagai contoh, kita dapat menjadi teladan dalam soal kesalehan; kita dapat menjalankan kehidupan yang benar yang menyenangkan Allah dan memberikan contoh-contoh nyata kepada anak-anak kita untuk mereka teladani atau bahkan melebihi teladan yang mereka lihat itu. Kita dapat menyatakan kepercayaan diri kita kepada Kristus dan menceritakan kepada anak-anak kita apa yang telah dilakukan Kristus di dalam kehidupan kita.
Tentunya, kesukaan yang terbesar ialah memimpin anak-anak kita kepada Kristus, namun pemeliharaan rohani tidak berhenti sampai di situ saja. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk mengasihi dan bergantung kepada Allah dan mengajarkan agar mereka memahami Alkitab. Orang tua dapat bercakap-cakap dengan anak-anak mereka tentang Tuhan dan menolong mereka menafsirkan kejadian-kejadian masa sekarang di dalam terang firman Allah dan rencana-Nya bagi dunia. Pendidikan Kristen sangatlah penting. Dengan adanya begitu banyak sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang baik, dan dengan begitu banyaknya perguruan tinggi yang istimewa, tak perlu seorang anak itu sekadar mendapat pendidikan yang biasa-biasa saja. Memenuhi kebutuhan rohani seorang anak berarti ikut menentukan di mana ia kelak berada sampai kekal.
8. Menentukan Sasaran Pribadi dan Sasaran Keluarga    Sama seperti seorang harus mempunyai sasaran, demikian juga setiap keluarga harus mempunyai sasaran. Di dalam keluarga yang sehat, orang tua saling memberi semangat agar sasaran-sasaran mereka dapat tercapai. Mereka juga mendukung anak-anak mereka dalam membuat dan mencapai sasarannya. Sangat menyedihkan bahwa banyak sekali anak yang bertumbuh menjadi dewasa tanpa mempunyai sasaran sama sekali, dan akibatnya, kehidupan mereka tidak mempunyai arah.
Anak-anak juga harus mengerti apa yang menjadi sasaran keluarganya dan harus ikut membantu agar sasaran itu dapat dicapai. Orang tua dapat membahas sasaran-sasaran keluarga ini pada waktu seluruh anggota keluarga sedang berkumpul atau pada waktu ibadah sekeluarga.
Dalam keluarga yang sehat setiap individu bukan hanya menaruh minat pada sasarannya sendiri, tetapi juga menaruh minat pada sasaran anggota keluarga lainnya. Setiap orang berusaha menolong sesamanya agar dapat mencapai aspirasi mereka.
Sayang sekali bahwa terlalu banyak anak yang menjadi dewasa di dalam keluarga-keluarga di mana mereka hanya makan minum, ke sekolah, tidur, dan mengulangi kegiatan yang serupa esok harinya. Mereka terantuk-antuk di dalam perjalanan hidup mereka tanpa arah yang tetap. Karena hanya ada satu kali kesempatan untuk hidup, maka sangatlah penting untuk mengetahui jalan mana yang hares ditempuh dan bagaimana caranya agar dapat sampai ke sana.
9. Bekerja dan Bermain Bersama
Salah satu dari kegembiraan kehidupan keluarga yang sehat ialah bekerja dan bermain bersama-sama. Dalam zaman modern ini mudah sekali bagi sang putra pergi ke perkumpulan anu, sang putri ke pramuka, sang ibu ke arisan, dan sang ayah ke rapat perusahaannya. Dengan melakukan perkara-perkara ini, mereka sebenarnya sedang menjauhkan diri dari salah satu kegembiraan yang terbesar yang mungkin dinikmati di dalam kehidupan ini yaitu bekerja dan bermain bersama sama sebagai satu keluarga.
Jika kita sebagai orang tua menyediakan waktu untuk bersama-sama dengan anak-anak kita, maka itu
berarti kita sedang memberitahukan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka. Bagaimanapun juga, kita  gemar menghabiskan waktu bersama-sama dengan orang-orang yang paling kita kasihi dan seharusnya orang-orang itu adalah keluarga kita sendiri. Dalam unit keluarga yang sehat setiap pribadi akan menghabiskan banyak waktu senggang dan waktu gembiranya bersama anggota keluarga lainnya.
10. Mempunyai Kebiasaan yang Baik Demi Kesehatan
Sangat sulit bagi seseorang untuk bertindak dengan baik jika ia tidak sehat. Orang tua bertanggung jawab untuk mengusahakan agar semua anggota keluarganya berada dalam keadaan kesehatan yang sebaik-baiknya dan agar setiap orang mempunyai kebiasaan yang baik untuk menjaga kesehatannya dan merasakan bahwa badannya dalam kondisi yang mantap. Orang tua melakukan sesuatu yang baik bagi anaknya sepanjang umur hidupnya apabila mereka mendorong anaknya itu agar mempunyai kebiasaan yang baik untuk menjaga kesehatannya dan membawa mereka ke dokter untuk diperiksa jika diperlukan.
Sebagai seorang ahli ilmu jiwa yang menangani masalah orang tua dan anak-anak selama bertahun-tahun, saya heran melihat banyaknya orang dewasa yang menceritakan kepada saya bahwa tidak ada seorang pun menyadari bahwa mereka kehilangan daya pendengaran atau mempunyai masalah pada penglihatan mereka sampai mereka sudah menjelang dewasa. Seorang dokter wanita mengatakan kepada saya: "Saya tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa orang lain tidak melihat dua bayangan dari satu benda yang dilihatnya sampai saat saya memasuki sekolah kedokteran." Selanjutnya ia mengatakan bahwa karena ia memiliki dua buah mata, ia menganggap bahwa wajarlah jika ia melihat segala sesuatu itu dua. Misalnya, jika ada seorang anak berdiri di depannya, ia melihat dua bayangan dari satu anak yang sama.
Kira-kira sepuluh kali setahun berbagai kelompok orang-orang dewasa datang ke kampus Narramore Christian Foundation di Rosemead, California, selama satu atau dua minggu untuk mengikuti latihan dan evaluasi khusus. Selama waktu itu saya beserta staf saya menjadi sangat kenal orang-orang itu. Suatu kenyataan yang selalu mengherankan saya ialah bahwa dalam setiap kelompok yang terdiri atas lima puluh sampai seratus orang, kami selalu mendapati cukup banyak orang, laki-laki dan wanita, yang mempunyai masalah fisiologis yang cukup gawat. Dan, tentunya "masalah kesehatan tubuh" mereka itu menghambat mereka sehingga mereka tidak dapat berhasil dan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri sebagaimana mestinya. Apakah sebabnya sehingga masalah-masalah fisik semacam itu sudah berlangsung sedemikian lama tanpa diketahui, bahkan sampai tiga puluh atau empat puluh tahun? Saya yakin bahwa sebagian dari jawabnya terletak pada kenyataan bahwa orang tua mereka tidak pernah mengamati mereka dengan saksama. Dalam keluarga yang sehat, kesejahteraan fisik setiap anggotanya juga diperhatikan.
11. Saling Mencukupi secara Finansial
Dalam keluarga yang sehat, setiap anggota keluarga memperhatikan agar dapat mencukupi kebutuhan finansial yang dasar dari anggota keluarga yang lainnya. Anak-anak dan orang tua haruslah membicarakan soal anggaran belanja keluarga dan membahas apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan keluarga, apa yang dapat dibeli, dan apa yang tidak. Dengan demikian anak-anak dapat mempunyai cara berpikir yang praktis dalam soal keuangan dan mendapat pengetahuan tentang penghasilan dan tentang tabungan uang. Orang tua dapat membuat suatu kontribusi yang bermakna seumur hidup bagi kesejahteraan anak-anak mereka dengan jalan menolong mereka agar mengerti tentang kerja, penghasilan, tabungan, dan penanaman modal. Anak-anak perlu mempunyai sikap yang sehat dan realistik terhadap uang, walaupun mereka harus menyadari juga bahwa uang bukanlah hal yang terpenting dalam kehidupan ini.
Tentunya, salah satu segi yang paling penting dari keuangan ialah perpuluhan. Sungguh merupakan satu hak istimewa bagi pasangan suami istri jika mereka memulai kehidupan bersama mereka dengan mengetahui bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu yang mereka miliki dan segala sesuatu yang kelak akan mereka miliki! Mereka sudah belajar dari orang tua mereka tentang berkat yang dialami jika mereka memberi persembahan untuk organisasi atau kegiatan Kristen. Sekarang mereka membawa hati yang suka memberi itu ke dalam kehidupan mereka yang barn. Mungkin hal yang sekarang menjadi masalah bagi banyak orang bukanlah tentang kemampuan seseorang untuk mencari uang, melainkan sikap orang itu terhadap uang yang dihasilkannya itu. Dan hal ini seharusnya dipelajari di dalam keluarga.
12. Memikul Tanggung Jawab dalam Keluarga
Setiap orang dilahirkan untuk melakukan sesuatu - untuk bekerja, untuk berlatih, dan untuk berkarya. Sungguh suatu keluarga itu adalah keluarga yang sehat, jika di dalam keluarga itu setiap anggotanya mengambil bagiannya dan belajar menerima tanggung jawab sejak usia dini. Tentunya, tanggung jawab seorang anak haruslah disesuaikan dengan kematangannya, namun setiap anak dapat melakukan sesuatu betapa pun kecilnya anak itu.
Belum lama berselang saya berbicara dengan seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga di mana ia tidak pernah mendapat tanggung jawab khusus apa pun. "Ibu saya seorang perfeksionis," kata wanita itu. "Saya tidak pernah dapat melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan dia, maka saya selalu diusirnya dari dapur atau di mana saja ia sedang bekerja, sambil mengatakan bahwa dialah yang akan melakukan semuanya. Tentu saja, ibu dapat melakukan segala sesuatu dengan lebih cepat dan lebih baik, tetapi yang menyedihkan ialah ketika saya menikah, saya tidak mampu melakukan apa pun. Saya tidak mengetahui apa-apa tentang mengurus rumah; dan yang lebih parah lagi, saya tidak percaya bahwa saya mampu melakukannya."
Betapa menyedihkan bila harus melepaskan anak untuk pergi sekolah di perguruan tinggi atau untuk menikah dan membina rumah tangga sendiri, tetapi kita mengetahui bahwa kemampuannya untuk mengerjakan sesuatu itu masih sangat terbatas! Jika seseorang telah belajar bertanggung jawab dan melakukan tugas-tugas di dalam keluarga, ia akan merasa lebih yakin dan akan memiliki sikap yang lebih sehat terhadap dirinya sendiri.

Referensi 6b diambil dari:
Judul Buku    : Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman
Judul Artikel : Peran Orang Tua dalam Perkembangan Anak
Penulis  : Yulia Singgih D. Gunarsa
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000
Halaman  : 41  —  47

PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN ANAK
Orang tua sangat berperan dalam mendidik anak menuju hidup bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat dapat mencapai taraf kesejahteraan bagi seluruh anggotanya apabila setiap unsur masyarakat turut membentuk dan memelihara kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat akan berjalan dengan lancar apabila ada dasar-dasar pedoman dan peraturan yang mengatur kehidupan bersama yang dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap anggota masyarakat. Kesinambungan kehidupan bermasyarakat dapat dipertahankan apabila dasar-dasar pedoman dan peraturan yang mengatur kelangsungan dan kelancaran hidup bermasyarakat secara berkesinambungan diteruskan kepada masyarakat.
Suatu masyarakat terdiri dari berbagai macam unsur, dan keluarga merupakan salah satu unsur kesatuan yang kecil dari masyarakat. Setiap keluarga dapat dikatakan telah mencapai kesejahteraan dan tujuan utamanya apabila dapat mengatur kehidupan keluarganya dengan balk. Apabila setiap keluarga berusaha menciptakan kesejahteraan antara keluarga-keluarga, maka seluruh masyarakat akan menjadi masyarakat sejahtera. Dengan demikian keluarga memegang peranan penting dalam usaha membentuk masyarakat sejahtera atau, umat sejahtera.
A. Keluarga Sebagai Unsur Masyarakat
Setiap keluarga terdiri dari anggota keluarga yang sekaligus menjadi anggota masyarakat. Maka setiap anggota keluarga turut mengambil bagian dalam upaya membentuk, mencapai, dan memelihara kesejahteraan. Anggota masyarakat seyogyanya belajar dan memiliki peraturan atau tatanan hidup bermasyarakat agar tidak terjadi bentrokan yang menghambat tercapainya kesejahteraan umum ataupun merusak kesejahteraan yang mungkin sudah terbentuk. Agar setiap anggota masyarakat dapat turut berperan aktif dalam membentuk kesejahteraan masyarakat, anggota keluarga harus mengalami dan menjalani sosialisasi.
Sosialisasi adalah suatu proses yang dijalani seorang individu agar pedoman hidup, prinsip-prinsip dasar hidup, ketangkasan, motif, sikap dan seluruh tingkah lakunya dibentuk sesuai dengan peranannya saat ini maupun kelak di masyarakat.
B. Sosialisasi Sudah Dimulai dari Masa Bayi
Bayi laki-laki dikenakan baju berwarna biru muda dan warna merah muda untuk bayi perempuan; bayi ditimang-timang dan dimanja oleh ibu yang lembut; bayi, dibiarkan menangis oleh ibu yang tidak mau memanjakan anak. Hal ini merupakan contoh sosialisasi sejak bayi. Sikap dan perlakuan orang dewasa ini atau sikap orang tua terhadap bayi akan mewarnai proses sosialisasi dan meninggalkan kesan, jejak, serta membentuk kepribadian yang membentuk kesejahteraan pribadi maupun umum.
Nilai kehidupan bermasyarakat harus mendasari tingkah laku anak. Nilai-nilai kehidupan akan
membentuk dan mengubah tingkah laku anak atau perilaku anak. Nilai-nilai kehidupan bersama yang berintikan nilai-nilai agama, moral, dan sosial harus diperoleh dan dimiliki oleh seorang individu sebagai inti pribadi serta menjadi pedoman hidup yang mengarahkan tingkah lakunya.
Lingkungan sosial akan menyampaikan nilai-nilai kepada anggota masyarakat, selanjutnya akan menginternalisasi nilai-nilai tersebut sehingga tercapailah hidup sejahtera dan aman sentosa. Lingkungan sosial yang berperan dalam meneruskan dan menanamkan nilai pedoman hidup pada anggota masyarakat adalah keluarga, teman sebaya, guru dan sebagainya. Keluarga mengambil tempat penting dalam sosialisasi anak, karena anggota keluarga, orang tua dan saudara kandung merupakan kontak sosial pertama bahkan mungkin satu-satunya kontak sosial sial bagi anak pada tahun-tahun pertamanya. Masa anak, terutama masa balita, merupakan bagian yang kritis dalam perkembangan sosial seorang individu. Interaksi dan hubungan emosional antara anak dan orang tua akan membentuk pengharapan dan responsnya pada hubungan sosial selanjutnya.
Keyakinan, kepercayaan, dan sikap kebudayaan dalam masrakat akan disaring oleh orang tua dan disajikan kepada anak dengan diwarnai oleh mereka. Keyakinan, nilai-nilai dan sikap kebudayaan masyarakat akan disajikan oleh orang tua dengan cara dan corak yang dipengaruhi oleh kepribadian, sikap, latar belakang sosio-ekonomis, jenis kelamin, pendidikan, dan agama orang tua. Ikatan antara orang tua dan anak pada masa anak dini - balita - merupakan fondasi bagi hubungan keluarga selanjutnya, bahkan turut membentuk dasar-dasar keluarga baru yang dibentuk kelak.
C. Peran Keluarga dalam Perkembangan Anak
Keluarga merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat langgeng berdasarkan hubungan pernikahan dan hubungan darah. Keluarga adalah tempat pertama bagi anak, lingkungan pertama yang memberi penampungan baginya, tempat anak akan memperoleh rasa aman.
Orientasi dan suasana keluarga timbul dari komitmen antara suami-istri dan komitmen mereka dengan anak-anaknya. Keluarga inti (nuclear) terdiri dari orang tua dan anak yang merupakan kelompok primer yang terikat satu sama lain karena hubungan keluarga ditandai oleh kasih sayang (care), perasaan yang mendalam (affection), saling mendukung (support), dan kebersamaan dalam kegiatan-kegiatan pengasuhan. Suami-istri yang selanjutnya menjadi ayah-ibu merupakan anggota keluarga yang penting dalam membentuk keluarga yang utuh dan sejahtera. Kebudayaan yang mengikuti kemajuan teknologi mengalami perbbahan cepat. Kebudayaan yang berubah sering disertai perubahan-perubahan nilai kebudayaan.
D. Peranan orang tua dalam Perkembangan Anak
Perubahan nilai dalam masyarakat akan menimbulkan masalah bagi orang tua, terutama dalam membentuk tujuan perkembangan yang realistis bagi diri mereka dan anak-anaknya. Tujuan pendidikan manakah yang harus dikejar dan cara-cara manakah yang harus dikembangkan agar anak dapat berkembang dengan sempurna. Sosialisasi sudah dimulai pada tahun pertama. Pada tahun kedua, sosialisasi makin disadari dan menjadi lebih sistematis karena anak sudah dapat berbicara, dan dengan bertambahnya umur maka terjadilah perubahan-perubahan dalam upaya mengubah dan membentuk tingkah laku anak
1. Perbuatan, pola tingkah laku, dan tingkah laku anak kecil, yang sebelumnya diperbolehkan dan dianggap lucu, lama kelamaan dibatasi bahkan mulai dilarang dan dianggap nakal apabila tetap dilakukan.
2. Anak perlu larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak baik, tidak layak, tidak pantas dilakukan, supaya belajar menahan diri dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.
3. Anak perlu dipuji apabila melakukan perbuatan baik, mencapai prestasi, atau memperlihatkan sikap-sikap yang baik. peranan orang tua dalam perkembangan anak:
a. Sebagai orang tua, mereka membesarkan, merawat, memelihara, dan memberikan anak kesempatan berkembang.
b. Sebagai guru:
1) Mengajarkan ketangkasan motorik, keterampilan melalui latihan-latihan.
2) Mengajarkan peraturan-peraturan - tata cara keluarga, tatanan lingkungan masyarakat.
3) Menanamkan pedoman hidup bermasyarakat.
c. Sebagai tokoh teladan, orang tua menjadi tokoh yang ditiru pola tingkah lakunya, Cara berekspresi, cara berbicara, dan sebagainya.
d. Sebagai pengawas, orang tua memperhatikan, mengamati kelakuan, tingkah laku anak. Mereka mengawasi anak agar tidak melanggar peraturan di rumah maupun di luar lingkungan keluarga (tidak-jangan-stop).
E. Aspek-aspek Perilaku Orang Tua
Hubungan orang tua dan anak sering dapat digambarkan suatu interaksi dari 2 pasang atribut orang tua.
Dalam hubungan orang tua dengan anak sebaiknya lebih adanya kehangatan. Tetapi di samping kehangatan dan memberi kesempatan berkembang, perlu juga adanya sikap membatasi perilaku anak yang tidak sesuai dengan pola tingkah laku yang diinginkan oleh masyarakat umum. Untuk pembatasan perilaku, anak perlu teknik disiplin yang dilaksanakan secara konsisten.
Teknik-teknik disiplin meliputi penalaran (reasoning), penjelasan (explanation), larangan dengan kasih sayang (affection withdrawal).
1. Beberapa Cara Menanamkan Disiplin
a. Pendidikan yang konsisten
b. Cara otoriter: orang tua menentukan aturan dan batasan mutlak yang harus ditaati oleh anak. Apabila dilanggar, anak dihukum.
c. Cara bebas: anak mencari sendiri batasan perilaku baik dan yang tidak baik.
d. Cara demokratis
1) Kebebasan anak tidak mutlak.
2) Menghargai dengan penuh pengertian.
3) Keterangan yang rasional terhadap yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
2. Teknik Menanamkan Disiplin
a. Love Oriented Technique
Teknik ini dilakukan dengan memberikan pujian dan menerangkan - penalaran.
b. PowerAssertion Technique
Teknik ini dilakukan dengan unjuk kuasa, hukuman, atau hadiah materi. Pendidikan anak adalah dasar kasih sayang:
1) Konsekuensi
Berkaitan dengan tanggung jawab untuk memberikan kasih sayang dan pola pendidikan yang berlandaskan prinsip "apabila benar diteruskan, jika salah diubah".
2) Konsisten
Berkaitan dengan sikap dan perlakuan yang konsisten. Demikianlah orang tua masa kini perlu berperan dalam mendidik putra-putrinya, agar mereka mencapai tujuan yang diharapkan bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar