Kamis, 06 Juni 2013

Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah

Bahan Alkitab: Kejadian 1:26-30; 2:7; 3:14-19; Maz. 8

Arti gambar dan rupa Allah
Dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa asli PL, kata “gambar” adalah tselem yang berarti gambar, patung, model yang asli. Sedangkan “rupa” disebut dengan istilah demuth yang berarti salinan, tembusan yang asli. Dalam bahasa Yunani yang merupakan bahasa asli PB, “gambar” disebut dengan istilah eikoon yang berarti bentuk yang asli atau perwujudan yang dilukiskan, yang tampak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , “gambar” berarti tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan, dll.) yang dibuat dengan coretan pensil dsb pada kertas, lukisan. “Gambaran” adalah hasil menggambar, bayangan, uraian, keterangan, penjelasan. “Rupa” diartikan sebagai keadaan yang tampak diluar, tampang muka, wujud atau apa yang tampak (kelihatan), bentuk.


Manusia adalah mahkota ciptaan Allah
Manusia diciptakan pada hari keenam. Manusia diciptakan dengan cara yang berbeda dengan ciptaan lain, dimana dalam menciptakan alam Allah hanya berfirman dan jadilah seperti yang difirmankanNya. Sebaliknya, manusia diciptakan Allah dengan menggunakan debu tanah dan kemudian diberi nafas. Hal ini yang membuat manusia berbeda dengan ciptaan lainnya, dan sekaligus menempatkan manusia sebagai “mahkota ciptaan Allah”. Kalau ciptaan lainnya dinilai Allah sebagai yang baik (Kej. 1:10), maka manusia dinilai sebagai yang “amat baik” (Kej. 1:31).
 
Makna manusia sebagai gambar dan rupa Allah
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti:
  • Manusia memiliki citra atau sifat-sifat Allah seperti: mengasihi, sabar, memiliki kehendak, pikiran, keinginan, pengetahuan, kebenaran, perasaan. Allah memiliki sifat mencipta dan memelihara ciptaanNya. Tetapi Allah juga dapat menghukum ciptaanNya bila melakukan pelanggaran (Kej. 3:14-19). Kedua sisi ini hendaknya dipahami dengan benar bahwa kecenderungan Allah dalam mencipta, memelihara dan mengasihi ciptaanNya lebih besar daripada keinginanNya untuk menghukum yang bersalah
  •  Manusia diberi tanggung jawab untuk mengolah bumi, berkuasa dan memelihara ciptaan Allah yang lain. Tanggung jawab ini hanya diberikan kepada manusia bukan kepada ciptaan lainnya. “Berkuasa” di sini tidak boleh diartikan, bahwa manusia dapat menggunakan kuasanya dengan bebas. Sebaliknya, ini berarti manusia mendapat tugas untuk mengatur seluruh alam dan kehidupan di muka bumi ini.
  • Manusia tidak bisa terlepas dari keterkaitannya sebagai milik Allah. Manusia dituntut untuk hidup sesuai dengan kehendakNya dan ini hendaknya tercermin baik dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan dan alam semesta ini. Manusia tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri (manusia = makhluk sosial), karena semua kebutuhannya dipenuhi oleh keberadaan ciptaan Allah lainnya, mulai dari udara, air, tumbuhan, binatang, bahkan manusia lainnya.
Dalam keterkaitannya dengan Allah, manusia mempunyai hubungan yang khusus dengan Allah, yaitu manusia adalah makhluk yang dapat bergaul dengan Allah dan hal ini tidak ada pada ciptaan yang lain. Hal ini sangat istimewa, melalui hubungan khusus ini manusia dapat mengetaui dengan baik, apa yang dikehendaki Allah darinya secara pribadi.
Tanggung jawab manusia sebagai gambar dan rupa Allah
Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia hendaknya terwujud dalam hidup manusia melalui ketaatannya dalam melakukan kehendak Allah. Menurut Kej. 1:28; 2:7, manusia diberi tanggung jawab untuk mengolah dan memelihara seluruh ciptaan Allah. Tanggung jawab disini berarti melakukan perbuatan-perbuatan yang bukan hanya menguntungkan dirinya sendiri melainkan untuk kepentingan dan berkat bagi sesama dan lingkungannya.misalnya: menolong orang yang mengalami musibah. Akhirnya hal ini menjadi bukti dan teladan bagi sesamanya, sehingga gambar dan rupa Allah yang ada padanya menjadi nyata dan dirasakan oleh setiap orang melalui cara berpikir, bertutur kata dan berbuat, yang tujuan akhirnya adalah memuliakan Allah.

Evaluasi
1.      Sebutkan apa saja yang kamu ketahui mengenai manusia sebagai gambar dan rupa Allah!
2.      Apakah kamu setuju manusia disebut sebagai mahkota ciptaan Allah? Mengapa?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar